Udara sore di Kota Rengat terasa lebih lembap dari biasanya. Aroma tanah yang tersiram hujan rintik-rintik bercampur dengan bau khas perkebunan sawit yang mengepung pinggiran kota. Di teras sebuah rumah bergaya melayu modern yang asri, Andini berdiri sembari merapikan setelan baju kurung teluk belanga berwarna hijau lumut yang ia kenakan. Tangannya sesekali menyapu butiran debu yang tak kasat mata pada meja kayu jati di teras, memastikan segala sesuatunya sempurna untuk menyambut kepulangan sang ibu mertua, Mak Salmah.
Sudah dua minggu Mak Salmah bersama bapak mertuanya dan adik iparnya pergi ke kampung halaman mereka di pesisir. Andini, dengan kemurahan hatinya, membiayai seluruh perjalanan itu. Mulai dari tiket travel, uang saku, hingga oleh-oleh yang akan dibawa pulang nanti. Baginya, membahagiakan mertua adalah bagian dari baktinya kepada Fahri, suaminya yang bekerja sebagai asisten manajer di sebuah perusahaan perkebunan sawit ternama di Indragiri Hulu.
"Andini! Mana air dinginnya? Haus sekali kerongkongan ini," suara cempreng Mak Salmah memecah lamunan Andini.
Sebuah mobil travel berhenti tepat di depan pagar. Fahri turun dari pintu kemudi—ia memang bersikeras menjemput mereka ke terminal tadi, melarang Andini ikut dengan alasan agar Andini bisa fokus memasak hidangan penyambutan di rumah.
Andini tersenyum lebar. Ia melangkah turun dari teras menuju pagar. "Eh, Mak, Bapak, sudah sampai. Mari masuk, Din sudah siapkan gulai patin kesukaan Mak di dalam."
Namun, langkah Andini terhenti. Dari pintu tengah mobil travel, turun seorang wanita muda. Rambutnya hitam legam terurai, mengenakan blus ketat yang tampak kontras dengan suasana religius kota Rengat. Wanita itu turun dengan gaya anggun, sementara Fahri—suaminya yang biasanya kaku—tampak sigap membawakan tas jinjing milik wanita itu dengan wajah yang berseri-seri.
Andini mengerutkan kening. "Mak, siapa ini? Teman sekolah adik Fahri?" tanya Andini lembut, mencoba berpikiran positif.
Mak Salmah tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengibaskan kipas tangannya, memandang Andini dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan yang sudah biasa Andini terima. Mak Salmah kemudian menarik tangan wanita asing itu dan membawanya berdiri tepat di depan Andini.
"Andini, kenalkan. Ini Zahra," ucap Mak Salmah dengan nada bicara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh tetangga sebelah.
Andini tersenyum tipis, mengulurkan tangannya dengan sopan. "Andini..."
Zahra hanya menyentuh ujung jari Andini dengan angkuh. Matanya jelalatan melihat rumah besar yang ditempati Andini.
"Zahra ini adalah pacar Fahri sejak mereka masih sekolah di pesantren dulu. Cinta pertama Fahri yang tak pernah hilang," lanjut Mak Salmah telak.
Deg. Jantung Andini serasa berhenti berdetak. Ia menarik kembali tangannya yang terasa dingin. Ia menoleh ke arah Fahri, mencari bantahan atau penjelasan dari suaminya. Namun, Fahri justru membuang muka, sibuk mengatur koper-koper di bagasi tanpa berani menatap mata istrinya.
"Maksud Mak apa?" suara Andini mulai bergetar.
"Maksudku jelas, Din. Zahra ini sarjana pendidikan. Dia berpendidikan tinggi, tutur katanya halus, dan dia berasal dari keluarga baik-baik yang setara dengan keluarga kami. Tidak seperti kau yang hanya lulusan SMA dan kerjanya cuma main ponsel di rumah," Mak Salmah mendengus. "Zahra akan menikah dengan Fahri. Karena Fahri masih berbaik hati tidak menceraikanmu, maka kau harus rela dimadu. Anggap saja ini oleh-oleh paling berharga yang kami bawa dari kampung."
Dunia Andini serasa runtuh. Di Tanah Andalas ini, kehormatan seorang istri adalah segalanya. Dan kini, di rumah yang ia bangun dengan tetesan keringatnya sendiri—meski semua orang mengira itu hasil gaji Fahri—ia justru diminta berbagi tempat dengan wanita yang disebut sebagai 'cinta pertama' suaminya.
"Mas Fahri..." Andini memanggil suaminya dengan suara parau.
Fahri akhirnya mendekat, namun tidak untuk merangkul Andini. Ia berdiri di samping Zahra. "Din, tolong mengerti. Ibu sangat menginginkan Zahra ada di keluarga ini. Zahra juga sedang butuh perlindungan. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Kamu tetap istri pertamaku, tapi Zahra adalah bagian dari masa laluku yang harus kutuntaskan."
Zahra memberikan senyum kemenangan. "Mohon bantuannya ya, Kak Andini. Aku harap kita bisa berbagi tugas dengan baik. Aku dengar Kakak pintar jualan online, nanti ajarkan aku ya, supaya aku punya kesibukan sambil mengurus Mas Fahri."
Andini mengepalkan tangannya di balik baju kurungnya. Kemarahan yang besar mulai mendidih di dadanya, namun otaknya yang cerdas menahan emosi itu agar tidak meledak menjadi drama yang memalukan. Ia teringat saldo rekeningnya, ia teringat ruko konveksinya di pusat kota yang sudah memiliki belasan karyawan, dan ia teringat bahwa seluruh aset rumah ini atas namanya.
Kalian salah memilih lawan, batin Andini.
"Oh, jadi ini oleh-olehnya? Seorang wanita?" Andini tertawa kecil, tawa yang terdengar getir namun penuh wibawa. "Silakan masuk kalau begitu. Mari kita bicarakan di dalam sambil menikmati gulai patin yang sudah saya bayar dengan uang saya sendiri."
Mak Salmah melotot mendengar sindiran Andini, namun ia tetap melenggang masuk diikuti Zahra yang tampak sangat percaya diri. Fahri berjalan paling belakang, kepalanya tertunduk, menghindari tatapan tajam istrinya.
Di dalam rumah, suasana menjadi sangat tegang. Zahra mulai bertingkah seolah dia adalah nyonya rumah. Ia mengomentari letak sofa, warna gorden, hingga aroma ruangan yang menurutnya terlalu tradisional.
"Mas Fahri, nanti kalau aku sudah tinggal di sini, gorden ini diganti warna merah marun saja ya, supaya lebih bersemangat," ucap Zahra manja sambil menyentuh lengan Fahri di depan mata Andini.
Fahri hanya mengangguk canggung. "Iya, nanti kita bicarakan."
Andini duduk di kursi tunggal, memandang pemandangan memuakkan itu dengan tatapan datar. "Zahra, kamu bilang kamu sarjana pendidikan? Sudah mengajar di mana?"
Zahra tersentak kecil, lalu merapikan rambutnya. "Aku... aku sedang menunggu panggilan di sekolah negeri di kampung. Tapi karena Mas Fahri mengajakku ke Riau, ya aku pilih ikut dia."
"Sayang sekali sarjananya kalau hanya digunakan untuk menjadi pengganggu rumah tangga orang," sindir Andini tajam.
"Jaga mulutmu, Andini!" bentak Mak Salmah. "Zahra ini perempuan terhormat. Dia mau menerima Fahri yang sudah punya istri itu sudah syukur! Kau itu harusnya sadar diri. Kau bisa tinggal di rumah sebagus ini karena Fahri kerja keras di perkebunan. Kalau bukan karena Fahri, kau mungkin masih jadi buruh cuci di kampung!"
Andini ingin sekali tertawa terbahak-bahak saat itu juga. Buruh cuci? Mak Salmah tidak tahu bahwa daster yang ia pakai, emas yang melingkar di lehernya, bahkan biaya perjalanannya ke kampung kemarin, semuanya berasal dari keuntungan 'main ponsel' yang dilakukan Andini. Sebagai pengusaha baju kurung dan songket yang memasok ke butik-butik besar di Pekanbaru hingga ke Malaysia, pendapatan Andini lima kali lipat lebih besar dari gaji Fahri sebagai asisten manajer.
Fahri selama ini tahu istrinya berbisnis, namun ia tidak pernah tahu skala bisnisnya karena Andini selalu merendah. Andini sengaja menyimpan rahasia itu untuk melihat sejauh mana ketulusan keluarga suaminya. Dan hari ini, ia mendapatkan jawabannya.
"Mas Fahri," Andini menatap suaminya lekat-lekat. "Kamu benar-benar ingin menikahi dia?"
Fahri menarik napas panjang. "Iya, Din. Ibu sudah memberi restu. Agama juga memperbolehkan, kan?"
"Agama memperbolehkan jika sang suami mampu berlaku adil dan sang istri mengizinkan. Dan satu lagi, agama tidak mengajarkan seorang suami membawa wanita lain masuk ke rumah istrinya sebelum ada ikatan sah," Andini berdiri. "Jika itu maumu, silakan. Tapi jangan harap semuanya akan berjalan mudah sesuai bayangan kalian."
Andini melangkah menuju kamar, lalu menguncinya dari dalam. Di dalam kamar yang sunyi, air matanya akhirnya jatuh. Ia melihat foto pernikahannya dengan Fahri yang tergantung di dinding. Enam tahun pernikahan, mereka telah dikaruniai seorang putra bernama Emyr yang saat ini sedang berada di rumah ibunda Andini.
"Pengkhianatan ini harganya mahal, Mas," bisik Andini di tengah isak tangisnya.
Di luar, ia mendengar suara tawa Mak Salmah dan suara manja Zahra yang sedang merayu Fahri. Mereka seolah-olah sudah merayakan kemenangan. Mereka tidak tahu bahwa Andini bukan sekadar istri yang bisa ditindas. Di Tanah Andalas ini, ia adalah seorang ratu di kerajaannya sendiri, dan ia baru saja memulai langkah pertamanya untuk melakukan skakmat.
Andini mengambil ponselnya, menghubungi asisten kepercayaannya di ruko.
"Halo, Fitri? Besok pagi-pagi, pindahkan semua stok kain premium ke gudang rahasia. Dan satu lagi, hubungi pengacaraku. Bilang padanya, aku butuh draf gugatan cerai dan audit aset atas namaku secepatnya."
Malam itu, di bawah langit Riau yang gelap, Andini memutuskan bahwa mahar pengkhianatan ini harus dibayar tunai oleh mereka yang telah menghancurkan hatinya. Ia tidak akan pergi dengan tangan kosong; ia akan pergi dengan membawa seluruh dunia yang selama ini ia bangun, membiarkan Fahri dan keluarganya tenggelam dalam kemiskinan yang sebenarnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar