Aroma karbol murahan yang menyengat adalah hal pertama yang selalu menyapa indra penciumanku setiap pukul empat pagi. Di rumah mewah bergaya mediterania yang berdiri angkuh di kawasan elite Pondok Indah ini, aku adalah entitas yang paling tidak terlihat, namun paradoks nya, paling dibutuhkan untuk menjaga panggung sandiwara mereka tetap berdiri tegak. Namaku Alana. Bagi dunia luar, aku hanyalah kerabat jauh yang menumpang hidup. Bagi penghuni rumah ini, aku adalah mesin tanpa lelah, dan bagi Adrian—pria yang dua tahun lalu menyematkan cincin perak di jari manisku dalam sebuah upacara siri yang tersembunyi—aku adalah rahasia yang memalukan.

Lantai dapur berbalut marmer Italia ini terasa sedingin es di bawah telapak kakiku yang telanjang. Aku menuangkan air panas ke dalam cangkir porselen bernuansa emas, meracik teh chamomile dengan takaran presisi yang sudah kuhafal di luar kepala. Itu untuk Nyonya Rina, ibu mertuaku, yang akan terbangun tepat pukul lima dengan suasana hati yang selalu buruk jika tehnya tidak berada di nakas dalam suhu yang tepat.

Sambil menunggu teh itu sedikit mendingin, aku menatap pantulan diriku pada kaca oven yang gelap. Sosok yang balas menatapku adalah wanita berusia dua puluh enam tahun yang kehilangan cahaya kehidupannya. Rambut hitamku yang dulu tebal dan berkilau kini diikat asal-asalan, ujungnya bercabang dan kering. Lingkaran hitam berkantung tebal bertengger di bawah mataku, menceritakan malam-malam tanpa tidur saat aku harus menyetrika tumpukan pakaian bermerek milik Clara, adik iparku, atau menunggui kepulangan Adrian yang semakin hari semakin larut. Daster pudar bermotif bunga krisan yang kukenakan seolah melengkapi narasi tentang betapa tidak berharganya diriku di tempat ini.

"Alana! Di mana kemeja putih sutraku?!"

Suara melengking itu menembus keheningan pagi, memantul dari dinding-dinding tinggi rumah. Itu Clara. Tanpa menunggu teh itu mencapai suhu sempurnanya, aku bergegas meraih nampan dan setengah berlari menuju lantai dua, memastikan langkahku tidak menimbulkan suara berderit di tangga kayu jati yang dipoles mengkilap.

"Ada di dalam lemari pakaianmu, Clara. Di bagian gantungan sebelah kiri, sudah disetrika dan dilapis plastik pelindung," ucapku dengan nada datar dan teratur saat aku sampai di depan pintu kamarnya yang setengah terbuka.

Clara, yang sedang mengaplikasikan serum wajah di depan cermin riasnya yang dikelilingi lampu-lampu terang, melirikku dari sudut matanya dengan tatapan merendahkan. "Kamu ini bodoh atau sengaja membuatku kesal? Aku minta kemeja sutra yang dari Milan, bukan yang murahan dari butik lokal itu! Cepat cari, aku ada janji sarapan dengan teman-temanku!"

Aku hanya menunduk dalam, mengunci rapat rahangku. "Baik, akan segera kucarikan."

Saat aku berbalik, Nyonya Rina sudah berdiri di ujung lorong. Wanita paruh baya itu mengenakan jubah tidur sutra berwarna burgundy, wajahnya masih terlihat kencang berkat perawatan ratusan juta rupiah yang rutin ia lakukan. Matanya menyorot tajam, menelanjangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan rasa jijik yang tidak pernah ia repot-repot sembunyikan.

"Baru pagi hari kau sudah membuat keributan di rumah ini," desis Nyonya Rina saat aku melintas di depannya untuk membawakan teh. Ia tidak mengambil cangkir itu, melainkan sengaja menyenggol pinggiran nampan dengan sikunya.

Prang!

Cangkir porselen mahal itu jatuh berkeping-keping di atas karpet Persia tebal. Cairan teh berwarna keemasan meresap dengan cepat, meninggalkan noda yang mustahil dihilangkan. Jantungku berdegup kencang, namun aku sudah terbiasa mematikan emosiku. Aku segera berlutut, memunguti pecahan porselen panas itu dengan tangan kosong.

"Dasar perempuan ceroboh! Tahu tidak berapa harga karpet itu? Seratus kali lipat dari harga dirimu!" Nyonya Rina berkacak pinggang, suaranya kini meninggi. "Ini akibatnya kalau Adrian memungut perempuan jalanan tanpa asal-usul yang jelas. Harusnya kamu bersyukur anakku masih berbaik hati memberimu atap. Malam ini keluarga besar Viona akan datang untuk makan malam. Pastikan seluruh lantai satu berkilau dan masakan sudah siap sebelum jam enam sore. Dan ingat, jangan berani-berani menampakkan wajah kusammu itu di ruang depan. Berdiamlah di dapur sampai mereka pulang!"

Nama itu. Viona.

Sebuah goresan panjang dari pecahan porselen merobek telunjukku, mengeluarkan darah segar kemerahan. Sensasi perihnya langsung menjalar, namun rasa sakit di jariku tidak sebanding dengan hantaman palu godam tak kasat mata di dadaku. Viona adalah putri dari seorang direktur bank swasta ternama. Sebulan terakhir, nama itu selalu menjadi topik utama di meja makan saat Adrian pulang. Adrian selalu beralasan bahwa Viona adalah kunci dari proyek ekspansi besar Adhitama Corp, sebuah koneksi bisnis yang krusial.

Namun belakangan, parfum wanita asing sering tertinggal di kerah kemeja Adrian. Lipstik merah menyala yang bukan milik Clara maupun Nyonya Rina kadang tertinggal di kursi penumpang mobilnya saat aku bertugas membersihkannya.

Aku terus memunguti pecahan porselen sambil menahan napas, membiarkan darah dari jariku menetes ke atas noda teh. "Baik, Bu. Saya akan siapkan semuanya," bisikku, nyaris tak terdengar.

Aku menelan semua harga diriku bulat-bulat, menyimpannya di sudut terdalam jiwaku yang gelap, menunggu hari di mana bendungan kesabaranku akhirnya akan retak dan menghancurkan mereka semua.