Pintu gerbang baru terbuka setengah ketika dua orang petugas keamanan berseragam safari hitam berlari keluar. Salah satunya adalah Pak Darma, kepala keamanan yang sudah bekerja untuk keluargaku sejak aku masih mengenakan seragam sekolah dasar. Pria paruh baya itu berhenti mendadak saat matanya menangkap sosokku. Matanya yang biasanya waspada kini membelalak lebar, memancarkan ketidakpercayaan yang luar biasa. Mulutnya terbuka, namun tak ada kata yang keluar selama beberapa saat.
"N—Nona Muda? Nona Alana?!" Suara Pak Darma bergetar hebat. Ia melangkah mendekat, seolah ingin memastikan bahwa matanya tidak sedang menipunya. Pandangannya menyapu penampilanku dari atas ke bawah—rambutku yang kusam, kardigan lusuhku, wajahku yang tanpa riasan dan terlihat lelah. Aku bisa melihat keterkejutan dan duka yang berbaur di wajah keriputnya.
"Halo, Pak Darma. Maaf saya pulang selarut ini," ucapku, mencoba tersenyum, meski aku tahu senyum itu pasti terlihat sangat menyedihkan.
"Ya Tuhan, Nona... Nona ke mana saja selama ini? Tuan Besar mencari Nona ke mana-mana!" Pak Darma buru-buru mengambil alih koper kecilku, sementara petugas keamanan yang satu lagi segera berbicara melalui walkie-talkie-nya dengan nada panik, mengabarkan ke pos dalam bahwa Nona Muda telah kembali.
Aku melangkah masuk melewati gerbang. Halaman yang luas ini terasa begitu familiar, namun sekaligus terasa sangat asing. Setiap langkahku di atas jalan bebatuan menuju pintu utama mansion terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Ada rasa malu yang luar biasa besar bersarang di dadaku. Aku telah kembali sebagai sosok yang gagal, sosok yang hancur, persis seperti yang dulu ayahku peringatkan.
Berita kepulanganku tampaknya menyebar lebih cepat dari hembusan angin. Baru saja aku mencapai anak tangga pertama yang menuju beranda depan, pintu kayu jati ganda berukir itu terbuka lebar. Deretan pelayan rumah tangga, beberapa mengenakan piyama karena dibangunkan secara mendadak, berdiri berjajar. Bi Inah, asisten rumah tangga senior yang dulu mengasuhku sejak ibuku meninggal, menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya tumpah menderas membasahi pipinya.
Namun, perhatianku tidak tertuju pada para pelayan itu. Mataku terpaku pada sosok tinggi besar yang berdiri di puncak tangga.
Ia adalah Hardinata Kusuma. Pria yang namanya cukup untuk membuat pasar saham bergejolak, pria yang keputusan bisnisnya bisa meruntuhkan sebuah perusahaan dalam semalam. Ayahku. Ia berdiri di sana, mengenakan setelan piyama sutra berwarna gelap, bahunya yang dulu selalu tegak kini terlihat sedikit menurun. Rambutnya, yang tiga tahun lalu masih didominasi warna hitam, kini telah memutih sepenuhnya. Garis-garis kelelahan tergambar jelas di wajahnya yang tegas.
Ketika matanya bertemu dengan mataku, dunia di sekitarku seakan berhenti berputar. Aku tidak melihat kemarahan di mata itu. Aku tidak melihat kilat amarah atau raut wajah yang seolah berkata 'sudah kubilang, kan?'. Yang kulihat hanyalah lautan kerinduan yang begitu dalam, rasa lega yang luar biasa, dan... luka. Luka karena melihat putri tunggalnya kembali dalam keadaan yang begitu menyedihkan.
Kakiku terasa lemas. Pertahanan terakhir yang kubangun dengan susah payah selama perjalanan ke sini akhirnya runtuh tak bersisa. Tubuhku luruh, aku bersimpuh di atas anak tangga pualam yang dingin. Tangisku pecah. Suara isakan yang selama dua tahun ini selalu kutahan di balik bantal yang basah, kini meledak keluar, menggema di pelataran mansion yang megah.
"Papa... Maafkan Alana... Alana salah... Alana minta maaf..." Aku meracau di sela isak tangisku yang menyayat hati, bahuku berguncang hebat. Aku merasa seperti anak kecil yang kembali ke pangkuan ayahnya setelah tersesat di hutan yang gelap dan menakutkan.
Aku mendengar langkah kaki yang berat dan tergesa menuruni tangga. Detik berikutnya, sepasang lengan yang kuat merengkuhku, mengangkat tubuhku dari dinginnya pualam dan memelukku dengan sangat erat. Ayahku memelukku seolah aku adalah porselen paling rapuh di dunia yang baru saja ia temukan kembali. Aroma sandalwood dan tembakau cerutu dari tubuhnya menguarkan rasa aman yang seketika menghapus semua rasa takutku.
"Kamu pulang, Nak. Kamu sudah pulang," suara Ayah terdengar parau dan bergetar. Kurasakan tetesan hangat jatuh di puncak kepalaku. Pria yang tak pernah menangis bahkan saat perusahaannya dulu hampir bangkrut di masa krisis, kini meneteskan air mata untukku. Tangan besarnya mengelus rambutku yang kasar berulang kali.
"Alana hancur, Pa. Mereka... mereka menghancurkan Alana," aduku di sela isakan, menumpahkan segala penderitaan, penghinaan Nyonya Rina, makian Clara, dan pengkhianatan Adrian malam ini.
Ayah melepaskan pelukannya sedikit, kedua tangannya menangkup wajahku. Ibu jarinya mengusap air mata yang membasahi pipiku. Mata elangnya kini menatapku lekat, dan perlahan, kesedihan di matanya mengeras, digantikan oleh kilatan bahaya yang begitu mematikan. Rahangnya mengeras hingga ototnya menonjol. Suhu di sekitar kami seolah turun beberapa derajat.
"Tidak ada yang boleh menghancurkan putri seorang Hardinata Kusuma," bisik Ayah, suaranya kini rendah, tajam, dan memancarkan otoritas mutlak. "Siapa pun yang berani membuatmu meneteskan air mata, siapa pun yang berani merendahkanmu, akan Papa pastikan mereka memohon kematian untuk mengakhiri penderitaan mereka."
Ayah menatapku dalam-dalam, menularkan kekuatan dan ketegasan yang selama ini terpendam di dalam darahku. "Mulai malam ini, lupakan Alana yang lemah. Kamu adalah Alana Kusuma. Pewaris tunggal Kusuma Group. Besok pagi, kita akan mulai mempersiapkan segalanya. Dan saat kamu sudah siap, kita akan membakar dunia mereka menjadi abu."
Mendengar kata-kata itu, sisa-sisa isakanku mereda. Aku menatap mata ayahku, dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku tidak merasa takut pada masa depan. Di bawah bayang-bayang mansion keluarga Kusuma yang megah, di tengah malam yang dingin, aku menanam sebuah benih dendam yang akan kutumbuhkan dengan kesabaran seorang pemburu.
Mereka menginginkan uang. Mereka menginginkan kekuasaan dan status sosial. Maka aku akan memberikan semua itu pada mereka, lalu merebutnya kembali saat mereka sedang berada di puncak ilusi mereka, membiarkan mereka jatuh ke dasar jurang tanpa dasar. Permainan baru saja dimulai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar