Angin malam Jakarta berhembus menembus kain tipis kardigan pudar yang kukenakan, membawa serta aroma aspal basah sisa gerimis sore tadi. Jalanan di kawasan elite Pondok Indah ini sepi senyap. Lampu-lampu jalan berwarna kuning keemasan melemparkan bayangan panjang tubuhku ke atas trotoar yang basah, menciptakan siluet seorang wanita yang terlihat rapuh, namun perlahan mulai menegakkan punggungnya. Roda koper kecilku berderit pelan bergesekan dengan konblok, menjadi satu-satunya melodi yang menemaniku melangkah menjauh dari neraka berlapis pualam milik keluarga Adhitama.

Aku tidak tahu sudah berapa kilometer aku berjalan, tapi kakiku yang terbalut sepatu teplek murahan tidak merasakan pegal sama sekali. Adrenalin yang terpompa di nadiku mengalahkan rasa lelah fisik. Di kepalaku, potongan-potongan ingatan selama dua tahun terakhir berputar seperti film dokumenter yang mengerikan. Aku teringat bagaimana Adrian meyakinkanku untuk menikah siri dengan alasan ibunya memiliki riwayat penyakit jantung dan belum siap menerima kehadiran orang baru. Aku teringat hari-hari pertamaku di rumah itu, berusaha mengambil hati Nyonya Rina dengan memasak hidangan kesukaannya, hanya untuk melihat piring itu ditepis ke lantai. Aku teringat senyum merendahkan Clara setiap kali ia memintaku mencuci pakaian dalamnya dengan tangan.

Semua memori itu kini tidak lagi memicu air mata. Mereka berubah menjadi bahan bakar. Rasa sakit yang bertumpuk hari demi hari, jam demi jam, telah mengeras menjadi sebuah tekad yang tak tergoyahkan di dalam dadaku. Cinta yang dulu membutakanku telah mati, dan dari abunya, sesuatu yang jauh lebih kuat dan dingin mulai bangkit.

Ponsel di saku kardiganku bergetar. Layarnya yang retak di bagian ujung menampilkan nama 'Adrian'. Pasti ia baru menyadari ketidakhadiranku, atau mungkin Clara baru saja melapor bahwa 'pembantu tak bergaji' mereka telah menghilang dari kamar belakang. Aku menatap layar itu selama beberapa detik. Dulu, panggilan dari Adrian adalah sesuatu yang paling kutunggu. Sebuah validasi bahwa aku masih ada di matanya. Sekarang, melihat nama itu berkedip di layar hanya memberiku sensasi mual yang tertahan.

Tanpa ragu, aku menekan tombol daya yang lama, mematikan ponsel itu sepenuhnya. Lalu, di sebuah jembatan penyeberangan yang sepi, kubuka penutup belakang ponsel tersebut, mencabut kartu SIM-nya, dan mematahkannya menjadi dua. Kulempar patahan plastik kecil itu ke jalan raya di bawah sana, membiarkannya terlindas roda-roda kendaraan yang melaju kencang. Bersamaan dengan lenyapnya kartu itu, lenyap pula Alana yang lemah, Alana yang selalu mengalah, dan Alana yang membiarkan dirinya diinjak-injak demi sepotong kasih sayang palsu.

Langkahku kini memiliki tujuan yang pasti. Aku menaiki sebuah taksi yang kebetulan melintas. Supir taksi itu sempat menatapku dengan curiga melalui kaca spion dalam—seorang wanita berwajah pucat, berpakaian lusuh, membawa koper di tengah malam.

"Ke mana, Mbak?" tanyanya dengan nada sedikit ragu.

"Menteng, Pak. Jalan Teuku Umar," jawabku pelan namun tegas.

Supir itu mengangguk, lalu melajukan kendaraannya membelah jalanan ibukota yang mulai lengang. Sepanjang perjalanan, aku menatap ke luar jendela. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi seolah menjadi saksi bisu dari kepulanganku. Di balik salah satu gedung tertinggi di kawasan SCBD itu, terletak kerajaan bisnis yang seharusnya menjadi hakku. Kerajaan bisnis yang dulu kutinggalkan dengan keangkuhan masa muda, berpikir bahwa cinta sejati lebih berharga daripada harta dan kekuasaan.

Satu jam kemudian, taksi berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa hitam yang menjulang setinggi empat meter. Pagar itu dipenuhi ukiran sulur yang rumit, dengan sebuah lambang huruf 'K' berlapis warna emas di bagian tengahnya yang terlihat mencolok di bawah sorot lampu jalan. Aku membayar taksi dengan sisa uang lembaran lima puluh ribu terakhir yang kumiliki, lalu turun.

Taksi itu berlalu pergi, meninggalkanku sendirian di depan gerbang yang terlihat begitu kokoh dan mengintimidasi ini. Di balik gerbang ini, terhampar halaman luas dengan rumput yang dipotong sempurna, jalan masuk melingkar yang mengelilingi sebuah air mancur bergaya klasik, dan di ujung sana, berdiri megah sebuah mansion bergaya kolonial yang dikelilingi pilar-pilar marmer putih.

Ini adalah rumahku. Rumah yang kutinggalkan tiga tahun lalu setelah pertengkaran hebat dengan pria yang paling berkuasa di hidupku. Pria yang dengan tegas menentang hubunganku dengan Adrian, menyebut suamiku itu sebagai 'parasit yang hanya mengincar uang'. Aku mengutuknya saat itu, menuduhnya sebagai ayah yang tak punya hati. Kini, realita menamparku dengan sangat keras, menyadarkanku bahwa matanya yang setajam elang tidak pernah salah menilai karakter seseorang.

Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan udara malam. Tanganku yang gemetar perlahan terangkat, meraih gagang besi bel interkom yang menempel pada pilar batu bata di samping gerbang. Aku menekan tombolnya, dan dalam hitungan detik, suara statis terdengar.

"Pos keamanan Kediaman Kusuma. Dengan siapa di sana?" Suara berat seorang pria terdengar dari pelantang suara.

Aku menelan ludah, mencoba menghilangkan serak di tenggorokanku. "Ini... Alana. Tolong buka gerbangnya, Pak Darma."

Keheningan yang mencekam menggantung di udara selama beberapa detik. Tidak ada jawaban. Aku nyaris berpikir bahwa alat itu rusak, sampai aku mendengar suara gemerisik langkah kaki yang tergesa-gesa dari balik tembok, diikuti oleh bunyi klik yang keras dari mekanisme kunci gerbang otomatis. Perlahan, pintu besi raksasa itu bergeser terbuka, seakan menyambut kepulangan sang putri yang hilang.