Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu dari balik celah tirai beludru berwarna champagne yang menjuntai dari langit-langit kamarku yang tinggi. Udara di dalam ruangan ini terasa sejuk, diatur pada suhu dua puluh dua derajat celcius yang sempurna, membawa serta aroma samar dari bunga lili putih segar yang ditata apik di atas meja rias berukir gaya Victoria.

Aku membuka mata dengan sentakan keras, napasku terengah-engah, dan keringat dingin membasahi pelipisku. Mataku langsung tertuju pada jam beker digital di nakas. Pukul 07:15 pagi.

Jantungku berpacu gila-gilaan, seolah baru saja berlari maraton. Terlambat! Aku terlambat! Panik langsung menyergapku bak predator yang menemukan mangsanya. Nyonya Rina pasti sudah mengamuk karena teh chamomile-nya belum tersaji di nakas. Clara pasti sudah berteriak memanggilku karena seragam kerjanya belum disetrika. Aku harus segera ke dapur, menyalakan kompor, membersihkan kekacauan semalam!

Dengan gerakan refleks yang sudah mendarah daging selama tujuh ratus hari terakhir, aku menyibakkan selimut dengan kasar dan melompat dari ranjang. Namun, kakiku tidak membentur lantai marmer dapur yang sedingin es. Telapak kakiku justru tenggelam dalam kelembutan karpet bulu domba tebal yang membentang menutupi seluruh lantai kamar.

Aku tertegun. Gerakanku terhenti di tengah ruangan yang luasnya tiga kali lipat dari kamar sempitku di rumah Adrian. Mataku menyapu sekeliling, menatap dinding berlapis wallpaper sutra bermotif bunga persik, rak buku kayu mahoni yang dipenuhi novel-novel klasik koleksiku, dan sebuah lukisan abstrak raksasa yang dulu kubeli dari sebuah lelang amal di Paris.

Perlahan, realita menyapu sisa-sisa kepanikanku. Bahuku yang menegang perlahan mengendur. Aku tidak lagi berada di rumah keluarga Adhitama. Aku berada di kamarku sendiri, di dalam mansion keluarga Kusuma. Tidak ada Nyonya Rina. Tidak ada Clara. Tidak ada Adrian, dan tidak ada Viona. Aku aman.

Namun, perasaan aman itu justru memicu sesuatu yang lain. Tubuhku gemetar hebat, dan aku merosot ke atas karpet tebal itu, menekuk lututku dan memeluknya erat-erat. Air mataku kembali menetes, bukan karena kesedihan, melainkan karena kelelahan mental yang luar biasa. Trauma itu ternyata telah mengakar begitu dalam di alam bawah sadarku, membuatku merasa menjadi seorang tawanan yang terus-menerus dihantui oleh bayangan sipirnya bahkan setelah ia dibebaskan.

Suara ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunanku. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Bi Inah yang mendorong sebuah troli perak beroda. Di atas troli itu terdapat nampan berisi sarapan bergaya kontinental: croissant hangat yang menguarkan aroma mentega wisman, telur orak-arik dengan truffle, semangkuk buah beri segar, dan secangkir teh earl grey premium.

"Nona Muda..." Bi Inah terkesiap melihatku duduk meringkuk di lantai. Wanita paruh baya itu bergegas meninggalkan trolinya dan menghampiriku, wajah keibuannya memancarkan kekhawatiran yang tulus. "Nona kenapa duduk di bawah? Lantainya dingin, Nak. Ayo, Bibi bantu bangun."

Bi Inah merangkul bahuku dengan lembut, menuntunku kembali ke atas ranjang king size yang seprainya terbuat dari sutra Mesir dengan kerapatan benang tertinggi. Aku membiarkan diriku dibimbing, merasakan sentuhan penuh kasih sayang yang sudah sangat lama tidak kudapatkan. Di rumah Adrian, jika aku terjatuh atau terluka, mereka hanya akan menyuruhku cepat-cepat menyingkir agar tidak mengotori lantai.

"Bibi bawakan sarapan kesukaan Nona," ucap Bi Inah sambil memindahkan nampan perak itu ke atas pangkuanku. Matanya berkaca-kaca saat melihat lenganku yang kurus dan kulitku yang memucat kusam. "Nona harus makan yang banyak. Tuan Besar sudah menghubungi dokter spesialis gizi dan dokter kulit terbaik di Jakarta. Mereka akan datang siang ini untuk memeriksa Nona. Tuan Besar ingin Nona kembali sehat seperti dulu."

Aku menatap hidangan mewah di hadapanku. Air liurku berkumpul, namun entah mengapa tenggorokanku terasa tercekat. Ingatanku melayang pada sarapanku selama dua tahun terakhir: sisa roti tawar yang pinggirannya sudah mengeras, atau kerak nasi sisa semalam yang kugoreng dengan sedikit kecap, dimakan terburu-buru di sudut dapur sambil berdiri agar tidak ketahuan Nyonya Rina.

Perlahan, aku mengambil garpu perak itu dan menyuapkan sedikit telur ke dalam mulutku. Rasa gurih dan lembutnya seketika meledak di lidahku, menghadirkan sensasi kemewahan yang dulu kuanggap biasa saja. Air mataku menetes lagi, jatuh ke atas pangkuanku.

"Bi," panggilku dengan suara serak, meletakkan garpu itu kembali.

"Iya, Nona? Makanannya kurang pas rasanya?" tanya Bi Inah cemas.

Aku menggeleng pelan. Mataku menatap lurus ke arah koper kecil butut yang tergeletak di sudut ruangan, satu-satunya benda asing di kamar mewah ini yang kubawa dari nerakaku yang lama. Di dalam koper itu terdapat daster-daster pudar, kaus oblong yang sudah melar, dan celana kain murah yang biasa kukenakan untuk mengepel lantai berhektar-hektar rumah Adhitama. Pakaian-pakaian itu adalah saksi bisu dari segala kehinaan yang kuterima.

"Bi Inah," suaraku kini terdengar lebih mantap, mengusir isak tangis yang tadi sempat menguasai. "Tolong ambilkan koper itu. Bawa koper itu ke halaman belakang, di dekat tempat pembakaran daun kering."

Bi Inah menautkan alisnya, bingung. "Mau dicuci, Nona? Biar Bibi serahkan ke bagian laundry—"

"Tidak, Bi," potongku tegas, menatap mata Bi Inah dengan kilat dingin yang perlahan mulai membeku di manik mataku. "Bakar semuanya. Jangan sisakan satu benang pun. Aku tidak ingin melihat ada setitik pun jejak dari masa laluku yang tertinggal di dunia ini."

Bi Inah menatapku sejenak, lalu mengangguk paham. Ia tidak bertanya lagi. Diambilnya koper lusuh itu seolah membawa barang beracun, lalu melangkah keluar dari kamarku.

Aku menyibakkan selimut sutra itu dan beranjak menuju cermin full body yang menempel pada pintu lemari pakaian raksasaku. Aku menatap bayanganku sendiri. Rambut bercabang, mata berkantung, tulang selangka yang menonjol di balik piyama satin milikku yang kini kebesaran, dan plester murahan yang menutupi luka sayatan keramik di telunjukku.

Aku menyentuh permukaan cermin yang dingin itu, menelusuri bayangan wajahku sendiri.

"Selamat tinggal, Alana yang bodoh," bisikku pada pantulan diriku. "Kamu sudah mati semalam. Mulai hari ini, hanya akan ada Alana Kusuma."

Siang harinya, kamarku berubah menjadi layaknya sebuah klinik VIP. Ayahku, Hardinata Kusuma, tidak main-main dengan ucapannya semalam. Ia mendatangkan seorang dokter spesialis gizi klinis, seorang dermatologist ternama yang biasa menangani artis papan atas, dan seorang terapis psikologi.

Ayahku berdiri di ambang pintu, menatap proses pemeriksaan itu dengan kedua tangan terlipat di dada dan rahang yang mengeras. Ia mendengarkan dengan saksama saat dokter gizi memaparkan bahwa aku mengalami malnutrisi kronis dan kekurangan zat besi yang parah. Ia mencatat dalam ingatannya saat dokter kulit menjelaskan bahwa paparan bahan kimia pembersih murahan yang terus-menerus tanpa sarung tangan pelindung telah merusak lapisan epidermis tanganku.

Setiap kali para ahli itu menyebutkan diagnosis yang menunjukkan betapa buruknya aku diperlakukan, aku bisa melihat kilat amarah di mata ayahku semakin tajam. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun aura intimidasi yang menguar dari tubuhnya membuat para dokter itu berbicara dengan nada yang sangat berhati-hati.

Setelah semua pemeriksaan selesai dan para dokter pamit untuk meresepkan jadwal perawatan ekstensif, Ayah melangkah masuk. Ia duduk di tepi ranjangku, memandangi tanganku yang kini sudah diolesi salep khusus dan dibalut perban yang lebih layak.

"Proses pemulihan fisikmu akan memakan waktu setidaknya tiga hingga enam bulan, Alana," ucap Ayah dengan nada suaranya yang dalam dan menenangkan. "Ayah sudah mengatur jadwal agar koki khusus menyiapkan makanan bernutrisi tinggi untukmu, dan terapis spa akan datang tiga kali seminggu untuk memperbaiki jaringan kulitmu."

"Terima kasih, Pa," jawabku pelan.

Ayah menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam mataku. "Fisik bisa disembuhkan dengan uang dan waktu. Tapi mentalitas... itu harus datang dari dirimu sendiri. Jika kamu ingin membalas mereka, kamu tidak bisa melakukannya dengan hati yang masih membawa luka masa lalu. Kamu harus menjadi baja. Kamu harus mematikan empati yang salah tempat itu."

"Aku sudah tidak punya empati untuk mereka, Pa," balasku dingin, mengingat kembali tawa renyah Viona dan Adrian di ruang makan semalam, sementara aku memunguti pecahan keramik dengan tangan berdarah.

Ayah tersenyum tipis, senyum misterius seorang raja bisnis yang telah menghancurkan banyak pesaingnya tanpa ampun. "Bagus. Karena bulan depan, setelah fisikmu cukup kuat, pendidikanmu yang tertunda akan dimulai kembali. Kamu tidak akan hanya mewarisi Kusuma Group, Alana. Kamu akan menjadi pedang yang menebas mereka semua hingga ke akar-akarnya."