Malam itu turun dengan lambat, membawa udara Jakarta yang lengket dan gerah, namun di dalam rumah keluarga Adhitama, pendingin ruangan sentral diputar pada suhu maksimal. Cahaya lampu gantung kristal di ruang makan utama memendarkan kilau mewah pada perabotan perak dan gelas-gelas anggur yang sudah kutata sejak sore tadi. Berbagai hidangan fine dining yang menuntut konsentrasi penuh berjam-jam kini tersaji dengan estetik di atas taplak meja linen putih bersih.

Aku berdiri di balik pintu ayun dapur yang sedikit terbuka, tubuhku bersandar pada dinding yang dingin. Tanganku yang terbalut plester di bagian telunjuk terasa berdenyut, namun aku mengabaikannya. Dari celah sempit pintu itu, aku bisa melihat panggung sandiwara keluarga suamiku yang sedang berlangsung dengan meriah.

Adrian duduk di kepala meja, mengenakan setelan jas navy yang dijahit khusus, rambutnya tertata rapi. Tawanya terdengar begitu renyah, tawa lepas yang sudah tidak pernah kudengar sejak setahun pertama pernikahan siri kami. Di sebelah kanannya duduk Nyonya Rina, wajahnya berbinar-binar penuh kebanggaan yang dibuat-buat, memamerkan perhiasan berliannya yang memantulkan cahaya lampu.

Dan di sebelah kiri Adrian, duduklah Viona.

Wanita itu memang merepresentasikan segala sesuatu yang Nyonya Rina anggap sebagai 'derajat yang setara'. Kulitnya putih bersih terawat, senyumnya anggun terlatih, dan gaun sutra berwarna sapphire blue yang memeluk tubuhnya jelas bukan barang yang bisa dibeli dari rak toko biasa. Setiap kali Viona tertawa menanggapi lelucon Adrian, tangannya dengan luwes menyentuh lengan pria itu. Sentuhan yang terlalu intim untuk sekadar 'rekan bisnis'. Dan Adrian tidak menepisnya; ia justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat.

"Jadi, Adrian, kapan rencananya proyek pembangunan resor di Bali itu akan dimulai?" Suara bariton ayah Viona, yang duduk di seberang putrinya, memecah tawa mereka. "Tentu saja, dukungan finansial dari bank kami akan mengalir lancar setelah... ah, setelah status hubungan antara keluarga kita menjadi lebih 'formal', bukan begitu?" Pria tua itu tertawa penuh arti.

Aku menahan napas di balik pintu dapur. Dadaku terasa sesak seolah kehabisan oksigen. Kutunggu jawaban Adrian. Kutunggu ia mengatakan bahwa ia masih fokus pada pekerjaannya, atau bantahan halus apa pun yang biasa ia gunakan untuk menenangkanku saat aku bertanya tentang masa depan kami.

Adrian meletakkan gelas anggurnya perlahan. Ia menatap Viona dengan pandangan yang melembut, lalu beralih menatap ayah wanita itu. "Tentu saja, Pak. Semuanya sudah kami bicarakan. Bulan depan, kami berencana melangsungkan pertunangan secara resmi. Ibu juga sudah mulai mencari ballroom hotel yang sesuai untuk resepsinya akhir tahun nanti."

Dunia di sekelilingku berhenti berputar. Udara di dalam dapur tiba-tiba terasa begitu menipis hingga paru-paruku perih saat berusaha bernapas. Pertunangan. Resepsi. Kata-kata itu meluncur dengan begitu mudah dari bibir pria yang setiap malam masih tidur di ranjang yang sama denganku, memelukku di kegelapan kamar belakang, membisikkan janji bahwa aku hanya perlu bersabar sedikit lagi hingga ibunya melunak.

"Oh, itu akan menjadi pesta yang luar biasa!" sahut Nyonya Rina dengan antusiasme yang meledak-ledak. "Viona adalah menantu impian saya. Tidak ada wanita lain yang pantas bersanding dengan Adrian selain dia. Keluarga kita akan menjadi yang paling terpandang di kalangan sosialita."

Setiap kata dari Nyonya Rina adalah belati yang menghujam langsung ke ulu hatiku. Aku memejamkan mata erat-erat, menempelkan dahi ke permukaan pintu kayu yang keras. Selama dua tahun aku melayani mereka seperti budak tak bergaji. Aku memotong sayuran hingga tanganku kasar, mencuci pakaian mereka hingga punggungku rasanya mau patah, menelan setiap makian dan hinaan dengan kepala tertunduk, semua karena aku percaya pada cinta Adrian. Aku percaya bahwa pengorbananku akan diakui suatu hari nanti.

Betapa bodoh dan naifnya aku.

"Alana!"

Bisikan tajam dari belakang membuatku tersentak. Clara sudah berdiri di sana, entah sejak kapan ia masuk ke dapur melalui pintu belakang. Wajahnya merah padam menahan amarah.

"Kamu tuli ya? Sedari tadi aku membunyikan bel dapur!" desis Clara sambil berkacak pinggang. "Sup asparagusnya kurang panas! Kau sengaja ingin membuat kami malu di depan calon menantu baru keluarga ini?!"

Tanpa menunggu jawabanku, Clara meraih mangkuk kosong di atas meja dapur dan melemparnya ke arahku. Aku menghindar, namun ujung mangkuk itu menyerempet bahuku sebelum pecah berantakan di lantai.

"Kerjamu tidak pernah becus! Dengar ya, perempuan kampung," Clara melangkah mendekat, telunjuknya mendorong bahuku dengan kasar. "Sebentar lagi Mas Adrian akan menikah dengan Mbak Viona. Mereka akan tinggal di rumah ini. Jadi bersiap-siaplah. Mungkin Mas Adrian akan tetap mempertahankanmu di sini, lumayan kan... kami tidak perlu menggaji pembantu baru. Kau bisa tidur di gudang belakang."

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada emosi, melainkan dengan kepastian yang merendahkan, seolah itu adalah fakta alam yang tidak bisa dibantah. Clara menatapku dengan jijik, memutar bola matanya, lalu berjalan kembali menuju ruang makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku berdiri mematung di tengah dapur yang berantakan oleh pecahan keramik. Pandanganku beralih ke nampan stainless di atas meja yang memantulkan wajahku. Kusam, lelah, tak berdaya. Aku melihat sekeliling dapur yang telah menjadi penjaraku selama tujuh ratus hari terakhir.

Sesuatu di dalam diriku akhirnya patah. Bunyinya tidak nyaring, namun efeknya meruntuhkan seluruh pondasi yang menahan kewarasanku selama ini. Keputusasaan yang biasanya mencekik leherku perlahan menguap. Air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku mengering bahkan sebelum sempat jatuh.

Rasa sakit itu hilang, tergantikan oleh ruang hampa yang dingin dan mematikan.

Aku tidak membersihkan pecahan mangkuk itu. Aku berbalik, berjalan menuju kamar kecil di dekat area cuci yang selama ini menjadi tempatku beristirahat. Aku menarik koper kain murahanku dari bawah kolong ranjang, memasukkan beberapa helai pakaian. Aku tidak membawa gaun-gaun atau perhiasan yang pernah Adrian berikan pada bulan pertama kami. Aku meninggalkan semuanya, termasuk cincin perak itu di atas nakas, berdampingan dengan obat sakit kepala yang biasa kuminum.

Malam itu, saat tawa dari ruang makan masih terdengar mengalun di udara, aku melangkah keluar dari pintu belakang rumah mewah itu. Tidak ada air mata. Tidak ada rintihan pilu. Hanya sebuah sumpah yang terukir di dalam keheningan malam Jakarta, bahwa ketika aku kembali nanti, aku akan memastikan mereka tidak memiliki atap untuk berlindung.