Restoran itu terlalu terang untuk sebuah pertemuan yang canggung.

Lampu gantung kristalnya memantulkan cahaya ke meja-meja marmer yang mengilap, seolah ingin memastikan tidak ada sudut yang bisa dipakai untuk bersembunyi. Aluna duduk tegak dengan kedua tangan bertaut di pangkuannya. Ia mengenakan blus krem sederhana dan rok hitam. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang ingin ia tampilkan.

Ia datang bukan untuk memikat.

Ia datang karena tidak ingin dianggap pengecut.

Ayah dan ibunya duduk di sisi kanan dan kiri. Percakapan ringan mengisi ruang sebelum pria itu datang.

Raka Wiratmaja tiba lima menit lebih awal.

Ia tidak tinggi menjulang atau mencolok. Jas biru gelapnya rapi, rambutnya tersisir sederhana. Ketika ia tersenyum dan menyalami ayah Aluna, senyum itu tidak dibuat-buat. Tidak ada sorot percaya diri berlebihan. Hanya ketenangan.

Dan justru itu yang membuat Aluna sedikit waspada.

Pria yang terlalu percaya diri mudah ditebak.

Pria yang tenang seringkali menyimpan kedalaman.

“Terima kasih sudah datang,” kata ayah Aluna.

“Saya yang berterima kasih,” jawab Raka.

Ia lalu menoleh ke Aluna.

“Halo.”

Satu kata.

Tanpa nada menggoda. Tanpa basa-basi manis.

“Halo,” balas Aluna.

Mereka duduk.

Pelayan datang. Pesanan dibuat. Percakapan awal diisi orang tua—tentang bisnis keluarga, tentang jaringan usaha, tentang reputasi.

Aluna merasa seperti barang yang sedang dijelaskan spesifikasinya.

Namun Raka tidak banyak bicara soal dirinya.

Ia justru bertanya pada Aluna.

“Bagaimana proses sidangnya?”

Pertanyaan itu langsung, tanpa sensor.

Ayah Aluna sempat menghela napas kecil, seolah ingin mengalihkan.

Namun Aluna menjawab.

“Masih tahap mediasi.”

Raka mengangguk pelan.

“Berat?”

Aluna menatapnya.

Ia menunggu nada iba.

Tidak ada.

Hanya pertanyaan.

“Tidak ringan,” jawabnya.

Raka tidak langsung memberi saran. Tidak menawarkan solusi. Ia hanya berkata, “Kalau belum selesai, saya tidak keberatan menunggu.”

Meja itu mendadak terasa lebih sunyi.

Ayah Aluna menatap Raka.

“Menunggu?”

“Saya tidak ingin memulai sesuatu di atas fondasi yang belum benar-benar runtuh,” kata Raka tenang.

Kalimat itu tidak terdengar romantis.

Namun ia jujur.

Dan kejujuran sering kali lebih menggetarkan daripada rayuan.


Di sisi lain kota, Damar menerima foto.

Foto itu dikirim oleh seorang teman yang kebetulan melihat Aluna di restoran.

Aluna duduk berhadapan dengan pria lain.

Caption-nya singkat:

 “Cepat juga.”

Damar menatap layar lebih lama dari yang ia akui pada dirinya sendiri.

Dadanya mengencang.

Ia tidak tahu apakah yang ia rasakan marah, tersinggung, atau takut.

Ia hanya tahu satu hal—ia tidak menyukai fakta bahwa Aluna terlihat… tenang.

Ia mengambil kunci mobil.

Tanpa berpikir panjang, ia menuju restoran itu.


Pertemuan di meja berjalan tanpa dramatisasi.

Orang tua mereka akhirnya memberi ruang dengan alasan ingin melihat-lihat menu dessert di bagian depan.

Kini hanya Aluna dan Raka.

“Ayah saya sangat menghargai pernikahan,” kata Raka perlahan. “Saya juga.”

Aluna tersenyum tipis. “Dan kamu setuju dijodohkan?”

“Saya setuju bertemu. Itu berbeda.”

Jawaban itu membuatnya sedikit terkejut.

“Kenapa mau bertemu dengan perempuan yang baru saja menggugat cerai?”

Raka tidak langsung menjawab. Ia mengaduk minumannya pelan.

“Karena status seseorang tidak selalu menggambarkan kualitasnya.”

Ia menatap Aluna lurus.

“Dan karena saya lebih takut menikah dengan orang yang tidak pernah diuji, daripada dengan orang yang pernah jatuh dan bangkit.”

Ada sesuatu dalam kalimat itu yang mengusik Aluna.

Bukan perasaan berbunga.

Melainkan rasa dihargai.

Namun sebelum ia sempat merespons, suara kursi ditarik kasar terdengar di belakangnya.

Ia menoleh.

Damar berdiri di sana.

Jasnya masih terpasang rapi, tetapi wajahnya jelas tidak setenang biasanya.

“Bisa bicara sebentar, Luna?”

Nada suaranya ditekan, tetapi emosinya terlihat.

Raka berdiri perlahan.

“Saya Raka.”

Ia mengulurkan tangan.

Damar menatap tangan itu beberapa detik sebelum menjabatnya sekilas.

“Saya tahu.”

Aluna berdiri.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Kita belum selesai.”

“Kita sudah di pengadilan, Dam.”

“Itu bukan yang aku maksud.”

Beberapa pengunjung mulai melirik.

Raka mengambil langkah mundur.

“Saya tunggu di luar,” katanya pada Aluna, tanpa nada mengklaim.

Pilihan itu memberi ruang.

Dan Aluna menyadarinya.


Di sudut restoran yang lebih sepi, Damar berdiri berhadapan dengannya.

“Kamu nggak bisa secepat ini,” katanya pelan tapi tajam.

“Secepat apa?”

“Baru dua minggu dan kamu sudah makan malam dengan calon suami baru?”

Aluna menahan napas.

“Ini bukan urusanmu lagi.”

“Aku masih suamimu secara hukum.”

“Dan kamu sudah bukan suamiku secara hati.”

Kalimat itu seperti tamparan yang tidak berbunyi.

Damar terdiam sesaat.

“Kamu pikir dia akan lebih baik dariku?”

“Ini bukan kompetisi.”

“Tentu saja ini kompetisi.”

Untuk pertama kalinya, topeng tenang Damar retak.

“Aku tidak akan membiarkan kamu begitu saja.”

Aluna menatapnya lama.

Dulu, kalimat itu mungkin terdengar seperti perjuangan.

Kini terdengar seperti ancaman.

“Aku bukan sesuatu yang bisa kamu ‘biarkan’ atau tidak,” katanya pelan.

Lalu ia berbalik.

Langkahnya mantap, meski jantungnya berdebar keras.


Raka berdiri di luar restoran, memandangi lalu lintas yang bergerak lambat.

Ketika Aluna keluar, ia tidak langsung bertanya.

“Maaf,” kata Aluna.

“Tidak perlu.”

“Aku tidak tahu dia akan datang.”

Raka mengangguk.

“Saya tahu.”

“Kamu tahu?”

“Pria yang terbiasa memegang kendali jarang diam ketika kehilangan.”

Aluna terdiam.

Ia menatap Raka lebih lama dari sebelumnya.

“Kamu tidak marah?”

“Saya tidak punya hak untuk marah.”

Jawaban itu sederhana.

Namun di dalamnya ada kedewasaan yang tidak dibuat-buat.

“Kalau ini membuatmu tidak nyaman, kita bisa berhenti sampai di sini,” lanjut Raka.

Ia tidak memohon.

Tidak juga menekan.

Ia memberi pilihan.

Dan bagi seseorang yang baru keluar dari hubungan penuh dominasi emosional, pilihan terasa seperti udara segar.

Aluna menarik napas panjang.

“Aku tidak ingin berhenti hanya karena masa lalu belum sepenuhnya selesai.”

Raka tersenyum kecil.

“Baik.”

Tidak ada jabat tangan simbolis.

Tidak ada janji.

Hanya kesepakatan diam untuk tidak saling menyakiti dengan tergesa.


Malam itu, Damar duduk di mobilnya terlalu lama sebelum pulang.

Ia baru saja melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya—

Aluna berdiri tanpa gentar di depannya.

Bukan menangis.

Bukan memohon.

Bukan mempertahankan.

Ia pergi.

Dan untuk pertama kalinya, Damar menyadari—

Ia mungkin benar-benar kehilangan.

Namun alih-alih introspeksi, sesuatu yang lebih gelap mulai tumbuh.

Jika ia tidak bisa mengendalikan pernikahannya,

 ia masih bisa mengendalikan prosesnya.

Sidang berikutnya akan berbeda.

Ia tidak akan lagi bersikap lunak.


Di kamarnya, Aluna duduk di tepi ranjang.

Pertemuan hari ini bukan romantis.

Tidak ada percikan.

Namun ada rasa aman yang samar.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia keluar dari rumah pernikahannya, ia tidak merasa seperti perempuan gagal.

Ia merasa seperti perempuan yang sedang memilih ulang hidupnya.

Dan itu menakutkan sekaligus membebaskan.

Namun ia belum tahu—

Bahwa keputusan kecil untuk tidak mundur malam ini akan memicu reaksi lebih besar dari Damar.

Dan konflik berikutnya tidak lagi sekadar emosional.

Ia akan menjadi strategis.

Dan di sanalah, bukan hanya hatinya yang diuji—

tetapi keteguhannya sebagai perempuan yang tidak lagi mau dikendalikan.