Ruang sidang itu tidak besar, tetapi terasa sempit.
Aluna duduk di bangku kayu dengan kedua tangan terlipat di pangkuannya. Jarinya saling mengunci, bukan karena dingin, tetapi agar tidak gemetar. Di depannya, meja panjang tempat hakim akan duduk masih kosong. Beberapa orang berbicara pelan di sudut ruangan. Suara kertas dibalik. Kursi digeser.
Suara pintu terbuka.
Damar masuk.
Ia mengenakan kemeja putih rapi dan jas abu-abu. Rambutnya tertata seperti hendak menghadiri rapat penting, bukan sidang perceraian. Ia tidak langsung menatap Aluna. Ia berbicara singkat dengan pengacaranya, lalu duduk di sisi berlawanan.
Jarak mereka hanya beberapa meter.
Namun rasanya seperti dua dunia.
Aluna memandang wajah yang pernah begitu akrab itu. Wajah yang dulu selalu ia cari ketika pulang kerja. Wajah yang pernah ia percayai tanpa syarat.
Kini wajah itu terlihat asing.
Bukan karena berubah.
Melainkan karena maknanya yang hilang.
“Luna.”
Suara itu pelan, tapi cukup untuk membuat dadanya mengencang.
Ia menoleh.
Damar menatapnya untuk pertama kali pagi itu.
“Kita nggak harus sejauh ini,” katanya.
Nada suaranya tidak keras. Tidak juga memohon. Lebih seperti seseorang yang sedang mencoba menegosiasikan ulang sebuah kontrak.
Aluna menahan diri untuk tidak tersenyum pahit.
“Sudah sejauh ini, Dam.”
“Kita bisa perbaiki.”
Kalimat itu datang terlalu terlambat.
Bukan karena ia tidak pernah ingin memperbaiki.
Tetapi karena selama lima tahun, hanya dia yang terus mencoba.
Hakim memasuki ruangan. Semua berdiri.
Sidang dimulai.
Prosesnya formal.
Pertanyaan-pertanyaan diajukan. Kronologi diminta. Bukti-bukti disebutkan.
Pengacara Damar mencoba membingkai masalah sebagai “kesalahpahaman komunikasi”. Sebuah frasa yang terdengar elegan untuk menyebut pengkhianatan.
“Klien kami tidak pernah berniat mengakhiri pernikahan,” kata pengacara itu. “Hubungan di luar yang dituduhkan tidak pernah sampai pada tindakan fisik.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Seolah-olah ada tingkatan pengkhianatan yang bisa ditoleransi.
Hakim menoleh ke Aluna.
“Apakah Saudari ingin menanggapi?”
Aluna berdiri.
Ia tidak membawa banyak kertas. Tidak juga presentasi dramatis.
“Saya tidak datang ke sini karena satu pesan atau satu pertemuan,” katanya tenang. “Saya datang karena selama bertahun-tahun saya merasa sendirian dalam pernikahan saya.”
Ruangan menjadi lebih sunyi.
“Perselingkuhan bukan hanya tentang tubuh. Itu tentang prioritas. Tentang siapa yang dipilih untuk didengarkan.”
Ia menatap lurus ke depan, bukan pada Damar.
“Saya lelah menjadi pilihan kedua dalam rumah saya sendiri.”
Damar menghela napas panjang, seolah-olah kalimat itu berlebihan.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak menyela.
Karena di dalam dirinya, ia tahu Aluna tidak berbohong.
Sidang ditunda untuk mediasi.
Di ruang mediasi yang lebih kecil, hanya ada mereka berdua dan mediator.
“Kami ingin memastikan keputusan ini bukan karena emosi sesaat,” kata mediator dengan suara netral.
Damar menoleh pada Aluna.
“Aku salah,” katanya pelan. “Aku akui. Tapi kita bisa terapi. Kita bisa mulai lagi.”
Aluna menatap meja di antara mereka.
Ia pernah menunggu kalimat itu.
Berbulan-bulan.
Namun sekarang, ketika kalimat itu akhirnya datang, rasanya hambar.
“Kamu menyesal karena ketahuan,” jawabnya perlahan.
Damar terdiam.
“Kalau aku tidak lihat sendiri pesan itu, apa kamu akan berhenti?”
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban.
Karena mereka berdua tahu jawabannya.
Mediator mencatat sesuatu.
“Apakah Saudari tetap ingin melanjutkan gugatan?”
Aluna mengangguk.
“Iya.”
Satu kata.
Namun beratnya seperti menjatuhkan masa lalu.
Di rumah, ayahnya sudah menunggu.
“Kamu yakin?” tanyanya ketika Aluna masuk.
Yakin.
Kata itu selalu terdengar sederhana.
“Yakin bukan berarti tidak sakit, Yah,” jawab Aluna.
Ayahnya mengangguk pelan.
Di meja ruang tamu, map cokelat yang berisi profil Raka masih ada.
Belum disentuh lagi.
“Keluarga Raka ingin bertemu minggu depan.”
Aluna menahan napas.
Baru saja ia menutup satu pintu.
Kini pintu lain sudah disodorkan.
“Aku belum siap,” katanya jujur.
Ayahnya tidak memaksa.
Namun raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
Sebagai ayah, ia melihat dunia dari sudut yang berbeda.
Seorang perempuan yang baru bercerai sering menjadi bahan pembicaraan.
Ia ingin melindungi anaknya.
Namun perlindungan yang terlalu cepat kadang terasa seperti tekanan.
Malam itu, Aluna duduk di kamarnya.
Ia membuka kembali pesan lama dari Damar.
Bukan untuk merindukan.
Tetapi untuk memastikan.
Untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa keputusan hari ini bukan impuls.
Chat panjang.
Tawa virtual.
Janji-janji yang bukan untuknya.
Ia menutup ponsel.
Menarik napas panjang.
Air mata akhirnya jatuh.
Bukan karena ingin kembali.
Tetapi karena akhirnya benar-benar selesai.
Sementara itu, Damar duduk sendirian di apartemennya.
Ia tidak menghubungi perempuan itu lagi sejak Aluna pergi.
Bukan karena sadar.
Melainkan karena panik.
Hubungan itu terasa menarik ketika tersembunyi.
Kini, tanpa risiko, ia justru terasa kosong.
Ia membuka galeri ponsel.
Foto pernikahan mereka muncul.
Aluna tersenyum di pelaminan, matanya berbinar penuh percaya.
Ia mematikan layar.
Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali dengan permintaan maaf.
Dan untuk pertama kalinya pula, ia menyadari—
Selama ini ia tidak pernah benar-benar takut kehilangan.
Karena ia selalu yakin Aluna akan bertahan.
Di tempat lain, Raka menutup laptopnya.
Ayahnya baru saja mengirim pesan:
“Gadis itu setuju bertemu minggu depan.”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia bukan pria yang suka tergesa.
Ia membaca ulang profil singkat tentang Aluna.
Lima tahun menikah.
Belum memiliki anak.
Menggugat cerai.
Ia menghela napas.
Ia tidak tertarik menjadi penyelamat.
Namun ia juga tidak ingin mundur hanya karena masa lalu seseorang.
Ia mengetik balasan singkat:
“Baik. Saya akan datang.”
Satu keputusan diambil.
Satu pintu ditutup.
Satu pertemuan direncanakan.
Namun tidak ada yang benar-benar sederhana.
Karena perceraian bukan hanya tentang berpisah dari seseorang.
Ia tentang melepaskan identitas lama.
Tentang berdiri tanpa label “istri”.
Tentang belajar kembali mengenali diri sendiri.
Dan bagi Aluna, ini baru awal.
Bukan akhir.
Karena dalam waktu dekat, ia akan dipaksa menghadapi pertanyaan yang lebih sulit—
Apakah ia siap dicintai lagi, atau ia masih sibuk membuktikan bahwa ia tidak bisa disakiti lagi?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar