Pagi itu, rumah terasa terlalu sunyi.
Aluna berdiri di depan meja makan dengan secangkir kopi yang tak disentuh. Di atas meja, amplop cokelat tebal tergeletak seperti sesuatu yang memiliki berat lebih dari sekadar kertas.
Ia tahu siapa pengirimnya bahkan sebelum membuka.
Ayahnya.
Dua bulan sejak ia kembali ke rumah orang tuanya setelah meninggalkan rumah suaminya, dan akhirnya ini datang juga.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Bukan surat.
Dokumen.
Fotokopi kartu keluarga. Salinan data usaha. Profil seorang pria bernama Raka Wiratmaja.
Aluna tersenyum hambar.
Perjodohan.
Begitu cepat hidupnya direduksi menjadi solusi.
Langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah. Ibunya muncul dengan wajah yang mencoba terlihat biasa.
“Ayah cuma ingin kamu aman.”
Aman.
Kata yang sering dipakai untuk menghapus luka tanpa pernah benar-benar menyentuhnya.
“Aku belum resmi bercerai, Bu.”
“Prosesnya tinggal putusan.”
Aluna mengangguk pelan.
Tinggal putusan.
Seolah-olah pernikahan lima tahun bisa dipadatkan menjadi satu sidang dan satu ketukan palu.
Ia teringat malam itu.
Pintu kamar yang setengah terbuka.
Cahaya layar ponsel yang menyala di wajah suaminya.
Nama perempuan lain.
Chat yang terlalu panjang untuk disebut kebetulan.
Dan kalimat yang menghancurkan segalanya:
“Aku cuma butuh seseorang yang tidak selalu menuntut.”
Aluna tidak pernah merasa ia menuntut. Ia hanya meminta hadir.
Namun rupanya, bagi Damar, hadir adalah beban.
Dan kini, sebelum luka itu benar-benar menutup, ia diminta membuka lembar baru.
Bukan atas pilihannya.
Malam harinya, Damar mengirim pesan.
Sudah dua minggu ia tidak menghubungi.
Damar:
“Kita perlu bicara sebelum sidang terakhir.”
Aluna menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Aluna:
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
Titik.
Ia mematikan ponsel.
Namun detik berikutnya, dadanya tetap terasa berat.
Karena sesungguhnya, selalu ada yang belum selesai.
Bukan tentang cinta.
Tentang harga diri.
Di ruang kerjanya, Damar duduk sendirian.
Kantornya masih berdiri. Kariernya tidak runtuh. Dunia tidak berhenti.
Namun rumahnya kosong.
Ia tidak menyangka Aluna benar-benar pergi malam itu.
Ia pikir seperti biasa—akan ada tangis, debat, lalu diam.
Ia tidak pernah menghitung kemungkinan bahwa Aluna akan memilih keluar.
Dan sekarang, kabar bahwa keluarga Aluna mulai mencari calon baru sampai ke telinganya.
Ada sesuatu yang menusuk egonya.
Bukan cinta.
Kehilangan kontrol.
Ia berdiri, menatap jendela kota yang gemerlap.
Ia tidak pernah menyadari bahwa kesetiaan bukan sesuatu yang otomatis ada hanya karena cincin terpasang.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya—
Apakah ia kehilangan Aluna,
atau Aluna yang akhirnya menyadari ia tidak pernah benar-benar dimiliki?
Sementara itu, di tempat lain, Raka Wiratmaja menatap foto Aluna yang dikirim oleh ayahnya.
Ia bukan pria yang percaya pada perjodohan romantis.
Namun ia percaya pada tanggung jawab.
Dan ia tahu satu hal dari informasi singkat yang ia terima—
Perempuan itu baru saja dikhianati.
Dan jika ia setuju bertemu, ia tidak ingin menjadi pelarian.
Ia ingin menjadi pilihan.
Malam semakin larut.
Tiga orang memikirkan satu nama yang sama.
Dengan alasan yang berbeda.
Dan tanpa mereka sadari, keputusan-keputusan kecil malam ini akan menjadi awal dari retakan yang lebih besar.
Karena pernikahan yang hancur tidak pernah hanya tentang satu pesan singkat.
Ia tentang akumulasi diam.
Tentang kebutuhan yang diabaikan.
Tentang ego yang tumbuh tanpa koreksi.
Dan tentang seorang perempuan yang mulai belajar—
bahwa bertahan tidak selalu berarti setia.
Kadang, bertahan adalah berani pergi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar