Pagi di Kompleks Melati Residence biasanya diawali dengan suara kicau burung dan deru mesin mobil mewah yang dipanaskan. Namun bagi Aruna, pagi ini terasa seperti medan perang. Ia terbangun dengan mata sembab, namun hatinya telah mengeras sekuat beton. Ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi orang bodoh untuk kedua kalinya.

Saat ia turun ke ruang makan, suasana sudah kembali "normal"—setidaknya secara lahiriah. Elang sedang menyesap kopi hitamnya sambil memeriksa tablet, sementara Ibu sibuk menyiapkan bekal untuk Bagas.

"Pagi, Run. Tidur nyenyak?" tanya Elang tanpa menoleh. Suaranya datar, namun Aruna bisa merasakan ada nada defensif di sana.

"Nyenyak banget, Bang. Saking nyenyaknya, aku sampai dapet pencerahan," jawab Aruna sinis. Ia duduk di depan Elang, menatap kakaknya itu dengan intensitas yang sanggup melubangi kertas. "Ngomong-ngomong, Bang. Citra bilang kalian pacaran sudah setahun, kan?"

Elang mengangguk tenang. "Iya. Kenapa?"

"Aneh ya. Setahun itu 365 hari. Aku sama Citra itu sahabat yang bahkan tahu warna sikat gigi masing-masing. Tapi selama 365 hari itu, nggak ada satu pun foto kalian di HP dia. Nggak ada satu pun momen dia ijin telat jemput aku karena harus kencan sama kamu," Aruna menyesap air putihnya perlahan. "Kalian mainnya bersih banget, atau emang kalian jago sulap?"

Elang meletakkan tabletnya. Ia menatap Aruna balik dengan tatapan CEO yang sedang menghadapi audit pajak. "Cinta nggak selamanya harus dipamerin di media sosial atau diomongin ke orang lain, Run. Terutama buat orang kayak gue yang punya banyak musuh bisnis. Gue cuma mau lindungin Citra."

"Lindungin dia atau lindungin kebohongan kalian?" Aruna tersenyum miring.

"Aruna, sudah. Ini masih pagi," tegur Ayah yang baru masuk ke ruangan. "Jangan mulai debat. Ibu kamu senang sekali semalam. Jangan dirusak."

Aruna terdiam, tapi tangannya di bawah meja mengepal kuat. Ia tahu ada yang tidak beres. Dan ia tahu siapa yang memegang kunci jawaban selain Elang: Baim.


Misi di Pos Ronda

Setelah berpamitan berangkat kantor, Aruna tidak langsung menuju gedung pencakar langit tempatnya bekerja. Ia memutar setir mobilnya menuju rumah Pak RT. Di sana, ia melihat Baim sedang asyik mencuci motor besarnya sambil bersiul-siul lagu dangdut koplo.

"Waduh, Neng Aruna! Tumben mampir. Mau nyari surat domisili apa mau nyari jodoh?" sapa Baim lebar-lebar.

Aruna turun dari mobil, kacamata hitamnya masih bertengger di hidung. "Gue mau nanya satu hal, Im. Dan gue mau jawaban jujur. Kalau lo bohong, gue laporin ke bokap lo soal lo yang sering balapan liar di BSD."

Baim langsung meletakkan sponsnya. "Galak amat, Bos. Oke, oke. Nanya apa?"

"Cewek semalem yang dibawa Bang Elang. Citra. Lo yang ngenalin?"

Baim sempat tertegun sesaat. Ia teringat kontrak kerahasiaan EasyDate. Tapi menatap mata Aruna yang seperti mau menelan orang, Baim merasa nyawanya lebih berharga daripada kontrak bisnis.

"Ya... dia emang kerja di... anu, di salah satu relasi bisnis gue, Run. Kenapa emang? Cantik kan? Cocoklah sama si Elang yang kaku kayak kanebo kering," jawab Baim diplomatis.

"Kerja di mana? Setahu gue Citra itu freelance desainer," kejar Aruna.

"Aduh, Run. Gue mana hafal semua portofolio orang. Yang jelas mereka emang cocok. Udah deh, lo jangan curigaan mulu. Mending lo pikirin gimana caranya biar Aira mau keluar rumah. Kasihan gue, martabak gue sering dikerubutin semut di pagarnya."

Aruna mendengus. Baim memang jago berkelit. Namun, ekspresi ragu di mata Baim tadi sudah cukup bagi Aruna untuk menyimpulkan satu hal: Baim terlibat dalam skenario ini.


Bagas: Dari Patah Hati ke Tanggung Jawab

Di saat yang sama, Bagas tidak pergi ke kampus. Ia mengarahkan motornya ke gang sempit yang ia kunjungi semalam. Di tas punggungnya, ia membawa beberapa kotak susu protein, roti gandum, dan obat-obatan dasar yang ia beli menggunakan uang hasil freelance-nya kemarin.

Ia berhenti di depan rumah Nadin. Suasana sepi, hanya terdengar suara radio tua dari dalam.

"Nadin?" panggil Bagas.

Nadin muncul dari balik pintu, ia tampak sedang mengenakan celemek plastik. Wajahnya terlihat sangat lelah, namun matanya berbinar sedikit saat melihat Bagas.

"Bagas? Lo beneran dateng?"

"Gue bukan cowok yang cuma jago ngomong, Din," Bagas menyerahkan tas plastiknya. "Ini buat Ibu. Dan ini buat lo. Lo harus makan yang bener biar nggak pingsan."

Nadin menerima pemberian itu dengan ragu. "Gas, ini mahal. Gue nggak bisa..."

"Anggap aja investasi. Gue mau belajar jadi orang dewasa, dan orang dewasa itu harus bisa bantu temannya yang lagi susah," potong Bagas tegas. "Ibu gimana?"

Nadin menghela napas, mempersilakan Bagas masuk. Di dalam, rumah itu sangat bersih namun sangat sunyi. Ibunya sedang duduk di kursi goyang, menatap tembok dengan tatapan kosong.

"Tadi pagi sempat ngamuk karena nyari Ayah. Sekarang sudah tenang karena gue kasih obat tidur," bisik Nadin.

Bagas duduk di kursi kayu kecil di depan Nadin. "Kenapa lo nggak cerita sama Kak Aruna? Dia sahabat lo, dia pasti bantu."

"Karena Aruna itu rapuh, Gas," Nadin menatap lantai. "Lo tahu sendiri kan dia ke psikiater? Dia punya trauma yang bikin dia sering panic attack. Kalau gue cerita soal Ibu, gue takut dia malah makin terbebani. Dia sering bilang kalau persahabatan kita itu satu-satunya hal 'normal' dalam hidupnya. Gue mau tetep jadi hal 'normal' itu buat dia."

Bagas tertegun. Ia selama ini menganggap Aruna hanya kakak perempuan yang galak dan menyebalkan. Ia tidak tahu bahwa adiknya sedang berjuang melawan badai di dalam kepalanya sendiri.

"Gue bakal bantu lo, Din. Setiap pagi sebelum kampus, gue bakal ke sini. Gue bisa bantu angkat-angkat atau jaga Ibu pas lo harus kerja," tawar Bagas.

Nadin menatap Bagas dengan pandangan yang sulit diartikan. Di mata Nadin, Bagas bukan lagi bocah ingusan yang suka minta jajan. Ada sinar kedewasaan yang mulai tumbuh di sana. "Makasih, Gas. Lo beneran penyelamat gue hari ini."


Pertemuan di Taman: Aruna dan Adrian

Sore harinya, Aruna pulang lebih awal. Kepalanya berdenyut karena terlalu banyak berpikir. Saat melewati rumah nomor 07, ia melihat seorang anak kecil sedang duduk sendirian di teras sambil memainkan boneka beruang.

Lulu.

Anak itu melihat mobil Aruna dan langsung berdiri. "Tante Una!" teriaknya dengan suara cempreng yang menggemaskan.

Aruna terpaksa menghentikan mobilnya. Ia turun dan mendekat ke pagar. "Hai, Lulu. Mana Papa?"

"Papa lagi di dalem, lagi bikin minum buat Tante Una," jawab Lulu polos.

"Buat Tante?" Aruna bingung.

Tiba-tiba, pintu rumah terbuka dan Adrian muncul dengan kemeja rumah yang santai, lengannya digulung. Ia membawa dua gelas teh melati hangat.

"Lulu sudah nungguin kamu dari jam dua, Aruna," kata Adrian sambil tersenyum. "Dia bilang dia mau pamer gambar barunya."

Aruna merasa benteng pertahanannya runtuh. Ia masuk ke halaman rumah Adrian dan duduk di kursi teras. Lulu segera naik ke pangkuannya dan menunjukkan secarik kertas dengan gambar tiga orang berbentuk lidi.

"Ini Papa, ini Lulu, ini Tante Una," tunjuk Lulu bangga.

Jantung Aruna berdesir. "Kenapa ada Tante di situ, sayang?"

"Karena Tante Una cantik. Papa bilang Tante Una butuh banyak pelukan," jawaban jujur dari anak kecil itu membuat Aruna terdiam seribu bahasa. Ia melirik Adrian yang kini duduk di depannya.

"Dokter, jangan ajarkan anak kecil untuk terlalu jujur," sindir Aruna, meski matanya berkaca-kaca.

"Kejujuran itu menyembuhkan, Aruna," sahut Adrian lembut. "Saya lihat kamu lagi banyak pikiran. Soal kakak kamu dan sahabat kamu?"

Aruna menghela napas panjang. "Kompleks ini kecil ya, Dok. Berita cepet banget nyampe."

"Baim yang cerita ke saya tadi pas dia lewat sini. Dia khawatir sama kamu," Adrian menyesap tehnya. "Tapi sebagai psikiater kamu, saya mau nanya... apa yang bikin kamu lebih sakit? Fakta bahwa mereka pacaran, atau fakta bahwa kamu merasa tidak dianggap penting sebagai sahabat?"

Aruna terdiam. Pertanyaan Adrian selalu tepat sasaran. "Dua-duanya. Saya merasa dikelilingi oleh tembok rahasia. Di rumah, di pertemanan... saya merasa sendirian."

Adrian meletakkan tangannya di atas meja, hampir menyentuh tangan Aruna namun ia menahannya agar tetap profesional. "Kamu punya Lulu di sini. Dan kamu punya saya—setidaknya sebagai orang yang siap dengerin kamu tanpa menghakimi."

Lulu tiba-tiba memeluk leher Aruna. "Tante Una jangan sedih ya? Nanti Lulu kasih permen."

Untuk pertama kalinya dalam minggu ini, Aruna tertawa lepas. Sebuah tawa tulus yang terdengar sangat merdu di telinga Adrian.


Kontrak yang Mulai Cair

Di sebuah kafe di pusat kota, Elang dan Citra sedang melakukan "pertemuan koordinasi". Di depan orang lain, mereka terlihat seperti pasangan sukses yang sedang makan malam romantis. Namun di bawah meja, Citra sedang mencoret-coret poin kontrak di buku catatannya.

"Keluarga kamu... terutama Ibu kamu... mereka terlalu baik, Lang," kata Citra lirih. "Aku merasa berdosa sudah bohongi mereka."

"Fokus, Citra. Kita sudah jalan sejauh ini," kata Elang. Namun, saat melihat Citra yang tampak kelelahan, Elang mendapati dirinya memanggil pelayan untuk memesankan dessert cokelat favorit Citra yang pernah ia sebutkan sekilas.

"Kenapa pesan ini? Aku nggak minta," tanya Citra.

"Gula bagus buat otak yang lagi stres," jawab Elang singkat, membuang muka ke arah jendela.

Citra memperhatikan Elang. Di balik wajah "idol" yang kaku itu, ada perhatian-perhatian kecil yang mulai muncul. Citra juga mulai menyadari bahwa Elang sering menatapnya dengan pandangan yang bukan lagi pandangan "majikan ke pegawai".

"Lang," panggil Citra.

"Hmm?"

"Kenapa kamu trauma banget sama cinta? Sampai harus nyewa orang kayak gini?"

Elang terdiam lama. Suasana kafe yang bising seolah menghilang. "Gue pernah punya tunangan. Lima tahun lalu. Kita sudah DP gedung, sudah sebar undangan. Tapi seminggu sebelum hari-H, gue dapet foto dia lagi tidur sama sahabat gue sendiri. Ternyata dia cuma mau uang kakek gue buat nutupin hutang judi keluarganya."

Citra tertegun. Ia tidak menyangka luka Elang sedalam itu. "Maaf... aku nggak maksud..."

"Nggak apa-apa. Itu alasan kenapa gue suka kontrak. Kontrak itu jelas. Ada hitam di atas putih. Nggak ada pengkhianatan, karena emang nggak ada perasaan yang dilibatkan," Elang menatap mata Citra. "Ngerti kan?"

Citra mengangguk, tapi hatinya merasa sesak. Ia ingin bilang bahwa tidak semua orang seperti itu. Ia ingin bilang bahwa ia juga sedang melarikan diri dari ayahnya yang ingin menjadikannya "barang dagangan". Tapi ia menahannya. Mereka adalah dua orang yang terluka, yang dipertemukan oleh kebohongan.


Epilog Bab 4

Malam itu, Baim berdiri di depan gerbang rumah Aira. Ia melihat lampu ruang kerja Aira padam.

"Aira? Lo tidur?" bisik Baim.

Tiba-tiba, gerbang terbuka sedikit. Aira muncul dengan piyama bergambar kucing dan kacamata besar. Ia menyerahkan sebuah amplop.

"Ini apa?" tanya Baim kaget.

"Draf bab baru gue. Lo bilang lo mau baca kan? Jangan berisik, ini sudah malem. Dan... makasih martabaknya kemarin," Aira langsung menutup gerbang lagi dengan cepat.

Baim berdiri mematung di pinggir jalan, memeluk amplop itu seperti memenangkan lotre. "Dia ngasih gue drafnya? Ini kemajuan pesat!"

Namun, kegembiraan Baim terhenti saat ia melihat motor Bagas lewat dengan kecepatan tinggi menuju arah rumah Nadin. Baim mengerutkan kening.

"Bagas? Ngapain anak itu ke gang belakang malem-malem?"

Sementara itu, di kamar Aruna, ia sedang duduk di depan laptop. Ia baru saja berhasil meretas password tablet Elang yang tertinggal di ruang tamu (ia tahu Elang selalu memakai tanggal lahir Ibu).

Matanya membelalak saat melihat sebuah file di folder tersembunyi berlabel: "EasyDate - Contract No. 009 - Citra Anindya."

"Ketemu," bisik Aruna. Air mata amarah kembali menggenang di matanya. "Ternyata bener. Kalian cuma akting."