Layar tablet di depan Aruna seolah memancarkan cahaya yang membakar matanya. Barisan kalimat dalam dokumen digital itu terpampang nyata: Perjanjian Jasa Pendamping Profesional. Ada nama abangnya, Elang Adiwangsa, sebagai Pihak Pertama, dan nama Citra Anindya sebagai Pihak Kedua. Lengkap dengan rincian nominal pembayaran tunai dan durasi kontrak selama enam bulan.

Aruna menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, napasnya memburu. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya.

"Setahun? Satu tahun kalian pacaran?" gumam Aruna dengan tawa getir yang pecah di kesunyian kamar. "Bahkan buat bohong pun kalian terlalu malas untuk kreatif."

Amarah Aruna bukan hanya karena ia dibohongi, tapi karena Elang telah menginjak-injak institusi keluarga yang selama ini mereka jaga kesuciannya. Dan Citra—sahabat yang ia percayai sebagai tempat berlabuh—ternyata tak lebih dari seorang tentara bayaran yang masuk ke rumahnya demi uang.

Aruna segera meraih ponselnya. Ia ingin menelepon Citra sekarang juga, memaki-makinya, dan mengusirnya dari kehidupannya. Namun, jemarinya berhenti di atas layar. Tidak, pikirnya. Kalau aku bongkar sekarang, Abang bakal punya seribu alasan buat ngeles. Aku harus bikin mereka mengakunya di depan Ayah dan Ibu. Aku harus kasih mereka pelajaran yang nggak bakal mereka lupain.


Pagi yang Tegang di Meja Makan

Pagi harinya, suasana meja makan keluarga Adiwangsa terasa lebih mencekam dari biasanya. Elang tampak tenang seperti biasa, sementara Bagas terlihat gelisah dan terus memeriksa jam di ponselnya.

"Gue berangkat duluan," ujar Bagas tiba-tiba, bahkan sebelum nasi gorengnya habis.

"Tumben amat, Gas? Biasanya nunggu jatah jajan tambahan dari Bang Elang dulu," sindir Aruna. Matanya melirik Elang dengan tatapan yang penuh arti.

Bagas hanya menyampirkan tasnya. "Gue ada... urusan mendesak. Titip salam buat Ibu."

Setelah Bagas pergi, Aruna menoleh pada Elang. "Bang, gimana kalau minggu depan kita adain makan malam lagi? Tapi kali ini ajak orang tua Citra juga. Kan sudah setahun, masa kita nggak kenal sama calon besan?"

Elang tersedak kopinya sedikit, namun ia cepat menguasai diri. "Keluarga Citra di Bali, Run. Mereka sibuk. Nggak semudah itu nyuruh mereka ke Jakarta."

"Oh, gitu ya? Kirain karena ada kontrak yang melarang mereka dateng," sahut Aruna sambil tersenyum manis—senyum yang membuat bulu kuduk Elang meremang.

Ibu menatap keduanya dengan bingung. "Kontrak apa, Aruna?"

"Kontrak kerja Citra maksudnya, Bu. Kan dia baru mulai kerja lagi," Elang segera memotong, matanya memberi peringatan keras pada Aruna.

Aruna hanya mengangkat bahu dan berdiri. "Ya udah, Aruna berangkat kerja dulu. Hati-hati ya, Bang. Jangan sampai ada 'pasal' yang terlanggar."


Krisis di Gang Belakang

Sementara itu, Bagas memacu motornya secepat mungkin menuju gang di belakang kompleks. Ia punya firasat buruk sejak Nadin tidak membalas pesannya tadi malam. Saat ia sampai di depan rumah Nadin, pintu depan terbuka lebar. Suara tangisan histeris terdengar dari dalam.

"Nadin!" Bagas berlari masuk.

Di dalam rumah yang sempit itu, Nadin sedang berusaha memeluk ibunya yang meronta-ronta di lantai. Ibunya berteriak-teriak ketakutan, menunjuk ke arah sudut ruangan seolah ada sosok yang mengancamnya.

"Ibu, sadar Bu! Ini Nadin!" Nadin terisak, tenaganya hampir habis menahan ibunya.

Bagas langsung bertindak. Ia membantu memegangi tangan ibu Nadin agar tidak melukai dirinya sendiri. "Din, obatnya mana?!"

"Habis, Gas! Gue belum sempat beli karena uangnya kemarin kepakai buat bayar kontrakan yang nunggak!" Nadin menjawab di sela tangisnya.

Bagas merasa hatinya hancur melihat kondisi itu. Ini adalah realitas yang tidak pernah ia temui di dalam pagar mewah Melati Residence. "Kita harus bawa ke rumah sakit, Din. Sekarang!"

"Gue nggak punya uang buat deposit rumah sakit, Gas..."

"Pake uang gue! Gue ada simpanan hasil kerja kemarin. Ayo, bantu gue angkat Ibu ke mobil!" Bagas lupa kalau dia hanya bawa motor. "Sial, gue telepon Bang Elang atau Aruna?"

Nadin menggeleng cepat. "Jangan Aruna, gue mohon."

Bagas akhirnya teringat seseorang. Baim. Anak Pak RT itu punya mobil operasional startup yang selalu siap. Bagas segera menelepon Baim.

Sepuluh menit kemudian, Baim datang dengan mobilnya, wajah kocaknya berubah serius saat melihat kondisi ibu Nadin. Mereka bertiga bahu-membahu membawa wanita malang itu menuju rumah sakit jiwa terdekat.


Tabrakan Dua Dunia

Aruna sedang berada di kantornya ketika ia menerima pesan singkat dari Bagas: “Kak, gue di RSJ Dharma Medika. Nadin butuh bantuan. Ibunya kambuh parah. Jangan kasih tahu Ayah/Ibu dulu.”

Dunia seolah berhenti berputar bagi Aruna. Amarahnya pada Citra dan Elang seketika terpinggirkan oleh rasa cemas yang luar biasa pada Nadin. Ia meninggalkan rapat koordinasi begitu saja, mengabaikan tatapan heran rekan kerjanya.

Saat Aruna sampai di rumah sakit, ia melihat Bagas duduk di ruang tunggu dengan kaos yang kotor dan wajah lelah. Di sampingnya ada Baim yang tampak lesu. Nadin sedang berada di dalam ruang administrasi.

"Bagas! Gimana Nadin?" tanya Aruna panik.

Bagas menatap kakaknya. "Lagi diurus, Kak. Tadi untung ada Baim. Tapi... Nadin hancur banget sekarang."

Aruna melangkah menuju ruang administrasi dan melihat Nadin sedang berdiri di depan loket, pundaknya bergetar hebat. Aruna langsung memeluk sahabatnya itu dari belakang.

"Nadin... maafin gue. Gue nggak tahu..." bisik Aruna.

Nadin berbalik dan menumpahkan tangisnya di pelukan Aruna. "Maafin gue, Run. Gue nggak bermaksud sembunyiin ini. Gue cuma... gue nggak mau lo sedih..."

Di saat itulah, Aruna menyadari sesuatu. Selama ini ia merasa paling menderita karena traumanya, ia merasa paling terluka karena dibohongi Elang dan Citra. Tapi di depannya, Nadin menanggung beban dunia sendirian tanpa pernah mengeluh.

Tak lama kemudian, sosok lain muncul di lorong rumah sakit. Adrian.

Aruna terkejut. "Dokter? Ngapain di sini?"

"Saya dokter jaga di sini setiap hari Rabu, Aruna," jawab Adrian lembut. Ia melihat Nadin, lalu beralih ke Aruna. "Ini sahabat yang kamu ceritakan itu?"

Adrian segera mengambil alih situasi. Ia berbicara dengan pihak administrasi, menjamin bahwa pasien adalah tanggung jawabnya, sehingga Nadin tidak perlu memikirkan deposit saat itu juga.


Kejujuran yang Terpaksa

Malam harinya, Aruna, Bagas, dan Baim duduk di kantin rumah sakit setelah kondisi ibu Nadin stabil. Nadin sedang menemani ibunya di dalam kamar perawatan.

"Gue nggak nyangka lo bisa seberani itu, Gas," ujar Aruna pelan sambil menatap adiknya. "Makasih ya sudah jagain Nadin."

Bagas mengangguk lesu. "Gue cuma nggak mau ada orang yang sedih sendirian lagi, Kak."

Baim menghela napas, lalu menatap Aruna. "Run, soal yang tadi pagi... soal Citra..."

Aruna menoleh tajam. "Gue udah tahu semuanya, Im. Gue udah liat kontraknya di tablet Bang Elang."

Baim tersentak, hampir menjatuhkan gelas plastiknya. "Waduh... mati gue. Langsung kena audit nih startup gue."

"Gue nggak bakal laporin startup lo," kata Aruna dingin. "Tapi gue mau lo kasih tahu gue satu hal. Siapa Citra sebenarnya? Kenapa dia mau ngelakuin ini? Kalau cuma soal uang, dia bisa cari kerja yang bener."

Baim ragu sejenak, tapi melihat ketulusan Aruna yang baru saja membantu Nadin, ia akhirnya bicara. "Citra itu sebenernya anak orang kaya di Bali, Run. Ayahnya pengusaha hotel besar. Tapi dia kabur karena mau dijodohin sama relasi bisnis ayahnya. Dia mau mandiri. Dia butuh uang cash banyak buat biaya hidup dan sewa tempat tinggal tanpa terlacak aliran bank keluarganya. Makanya dia gabung ke gue."

Aruna tertegun. Citra... ternyata juga sedang melarikan diri dari penjara emasnya sendiri. Sama sepertinya yang mencoba lari dari bayang-bayang trauma.


Penutup Bab 5

Malam itu, Aruna kembali ke rumah Adiwangsa dengan perasaan yang jauh lebih tenang namun penuh rencana. Di teras, ia melihat Elang sedang menunggu dengan cemas.

"Lo dari mana aja, Run? Jam segini baru pulang, HP nggak aktif," tegur Elang.

Aruna menatap Elang lama. Ia melihat wajah kakaknya yang mirip idol itu—wajah yang selama ini ia anggap kaku dan tak punya hati.

"Bang," panggil Aruna pelan. "Kontrak itu... gue tahu."

Elang mematung. Angin malam di Kompleks Melati Residence terasa membeku seketika.

"Gue tahu semuanya," lanjut Aruna. "Tapi gue nggak bakal bongkar sekarang. Bukan karena gue maafin kalian, tapi karena gue baru sadar... kita semua di rumah ini sebenernya cuma orang-orang kesepian yang takut jujur."

Aruna melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Elang yang masih berdiri mematung di kegelapan teras.

Di rumah nomor 09, Aira sedang menuliskan satu kalimat terakhir untuk bab terbarunya: "Kadang, rahasia adalah satu-satunya cara kita melindungi orang yang kita cintai, meski itu menyakiti kita sendiri."

Di kejauhan, ia melihat Baim baru saja pulang dengan wajah lelah namun senyum yang lebar. Aira tersenyum tipis di balik jendela. Mungkin, besok ia akan keluar rumah dan menyapa Baim dengan benar.