Malam itu, Kompleks Melati Residence tampak lebih tenang dari biasanya. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan daun-daun mangga di halaman rumah nomor 05. Namun, di dalam ruang tamu keluarga Adiwangsa, ketenangan adalah hal terakhir yang dirasakan oleh penghuninya.
Ibu sudah sibuk sejak sore. Taplak meja renda terbaik peninggalan kakek telah digelar. Setangkai bunga lili putih segar menghiasi vas di tengah meja, bersanding dengan hidangan bebek betutu dan sambal matah—permintaan khusus Elang yang katanya ingin memanjakan lidah kekasihnya yang berasal dari Bali.
"Elang bilang dia sudah di depan gerbang kompleks," ujar Ibu sambil merapikan letak sendok untuk kesekian kalinya. Wajahnya berseri-seri, gurat kebahagiaan tak bisa disembunyikan dari matanya yang mulai menua.
Ayah duduk di sofa ruang tamu, mengenakan kemeja batik tulis yang biasanya hanya dipakai untuk acara kenegaraan. "Akhirnya, setelah bertahun-tahun kita hanya bicara dengan dinding soal pernikahan Elang, malam ini ada wujudnya."
Di sudut ruangan, Aruna berdiri dengan tangan bersedekap. Ia mengenakan terusan hitam simpel yang membuatnya tampak makin tajam dan dingin. Pikirannya kalut. Sepanjang hari di kantor, ia tidak bisa fokus. Siapa wanita yang sanggup menaklukkan kakaknya yang sekaku es kutub itu? Dan yang lebih mengganggu: kenapa Elang bisa menyembunyikannya begitu rapat selama satu tahun?
"Bagas, turun! Jangan di kamar terus, Kakakmu mau bawa calonnya!" teriak Ayah ke arah lantai dua.
Bagas turun dengan langkah gontai. Wajahnya kuyu. Sejak pertemuan di kantor Baim, Bagas merasa dunianya runtuh. Ia tidak tahu siapa wanita itu, tapi ia merasa dikhianati oleh nasib. Ia ingin melihat siapa "pencuri" yang berhasil mendahuluinya memenangkan hati kakaknya, sekaligus ingin memastikan apakah wanita itu benar-benar layak.
Tiba-tiba, suara deru mobil BMW seri 7 milik Elang terdengar memasuki halaman.
Momen Yang Menghentikan Waktu
Elang turun dari mobil, melangkah memutari kap mesin untuk membukakan pintu bagi penumpangnya. Ia mengulurkan tangan dengan gerakan yang sangat natural, seolah ia telah melakukannya ribuan kali selama setahun terakhir.
Saat sosok wanita itu keluar dari mobil, cahaya lampu teras menyinari wajahnya dengan sempurna. Ia mengenakan dress kain tenun Bali modern berwarna krem yang elegan namun sopan. Rambutnya disanggul modern yang menyisakan beberapa helai jatuh di samping wajahnya.
"Ayo, mereka sudah menunggu," bisik Elang. Tangannya dengan protektif melingkar di pinggang wanita itu.
Mereka melangkah masuk.
"Selamat malam, Ayah, Ibu," sapa Elang dengan nada suara yang lebih hangat dari biasanya. "Kenalin, ini Citra."
Detik itu juga, udara di ruang tamu seolah tersedot habis.
Aruna, yang tadinya siap melempar senyum sinis penuh penyelidikan, mendadak mematung. Gelas berisi infused water di tangannya hampir saja terlepas. Matanya membelalak, pupilnya bergetar hebat.
"Citra?" suara Aruna nyaris tidak keluar.
Wanita di samping Elang itu tersenyum—senyum yang sangat akrab bagi Aruna. Senyum yang selama ini menemaninya curhat soal bos yang menyebalkan, soal trauma masa lalunya, soal rahasia-rahasia paling kelam yang ia simpan.
"Hai, Aruna," sapa Citra pelan. Ada sedikit getaran di suaranya yang hanya bisa didengar oleh telinga yang peka.
"Kalian... sudah saling kenal?" tanya Ibu dengan wajah bingung namun gembira.
"Kenal?" Aruna tertawa sumbang, tawanya terdengar menyakitkan. "Bu, Citra ini sahabat aku. Sahabat paling dekat. Kita hampir setiap hari kontak-kontakan. Kita makan siang bareng minggu lalu!"
Aruna melangkah maju, menatap Citra dengan tatapan yang bisa menghancurkan baja. "Dan satu tahun ini, Citra... kamu nggak pernah sekalipun bilang kalau pacar kamu adalah abangku sendiri? Elang Adiwangsa?"
Elang tetap tenang, meski di dalam hatinya ia mengagumi betapa hebatnya Citra menjaga ekspresi. "Maaf, Aruna. Gue yang minta Citra buat nggak cerita. Gue nggak mau hubungan kita jadi konsumsi publik sebelum gue yakin mau bawa dia ke rumah."
"Bawa ke rumah?" Aruna menunjuk kakaknya dengan jari gemetar. "Satu tahun, Bang! Selama satu tahun ini gue nangis-nangis di bahu Citra soal betapa susahnya hidup gue, soal betapa kaku dan menyebalkannya lo sebagai kakak, dan dia... dia cuma dengerin tanpa bilang kalau dia pacar lo?"
Aruna merasa seperti orang bodoh. Ia merasa ditelanjangi. Semua cerita pribadinya tentang keluarga ini, tentang keluhan-keluhannya, ternyata selama ini bermuara di telinga kakaknya melalui Citra. Setidaknya, itulah yang ada di pikirannya saat ini.
Makan Malam Penuh Intrik
Suasana di meja makan terasa sangat kontras. Ayah dan Ibu tampak sangat menyukai Citra. Citra bercerita tentang bagaimana ia bertemu Elang di sebuah seminar bisnis (cerita karangan Elang), dan bagaimana Elang membantunya saat ia sedang kesulitan beradaptasi di Jakarta.
"Jadi Nak Citra ini asalnya dari Bali? Keluarga di sana bergerak di bidang apa?" tanya Ayah dengan nada menyelidik namun tetap sopan.
Citra melirik Elang sesaat. "Keluarga saya... punya usaha kecil di bidang kerajinan, Om. Tapi saya mau mandiri di sini. Saya nggak mau bergantung sama nama keluarga."
Jawaban itu membuat Ayah mengangguk setuju. "Sifat yang bagus. Mirip Aruna."
Sementara itu, Bagas duduk di ujung meja, diam seribu bahasa. Matanya tak lepas dari Citra. Ia teringat kejadian belasan tahun lalu. Cewek ini... dia benar-benar Mbak Hero itu, batin Bagas. Tapi kenapa harus jadi pacar Bang Elang? Kenapa takdir begitu kejam memberinya pertemuan kembali dalam status "calon kakak ipar"?
Namun, yang paling menderita malam itu adalah Aruna. Ia hanya mengaduk-aduk bebek betutu di piringnya tanpa minat. Setiap kali Elang mengusap tangan Citra atau membetulkan helai rambut Citra yang berantakan, Aruna merasa ingin muntah. Bukan karena ia tidak suka melihat Elang bahagia, tapi karena ia merasa dikhianati oleh kejujuran yang selama ini ia agungkan dalam persahabatan.
"Run, kok nggak dimakan? Kamu bilang kangen bebek betutu," tanya Citra lembut, mencoba mencairkan suasana.
Aruna mendongak, matanya merah. "Aku rasa aku sudah kenyang, Cit. Kenyang sama kejutan yang kamu kasih."
Aruna berdiri, kursinya berderit nyaring di atas lantai marmer. "Ayah, Ibu, maaf. Aruna tiba-tiba pusing. Aruna ke kamar duluan."
Tanpa menunggu jawaban, Aruna melangkah cepat menaiki tangga. Suara pintu kamarnya yang dibanting keras menggema ke seluruh ruangan.
Luka di Kamar Atas
Di dalam kamarnya yang kedap suara, Aruna melempar tasnya ke sembarang arah. Ia merosot di balik pintu, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah. Ia meraih ponselnya, membuka riwayat chat-nya dengan Citra.
Minggu, 14:20 - Aruna: "Cit, gue habis berantem lagi sama Bang Elang. Dia bener-bener nggak punya perasaan. Masa dia nyuruh gue lembur padahal gue lagi sakit." Minggu, 14:35 - Citra: "Sabar ya, Una. Mungkin dia cuma nggak tahu cara ekspresiin perhatiannya. Cowok kayak gitu biasanya punya sisi lembut yang tersembunyi."
"Sisi lembut tersembunyi?" Aruna terisak. "Ternyata sisi lembut itu cuma buat kamu, Cit. Dan kamu membiarkan aku kelihatan bego di depan dia."
Aruna merasa dunianya makin sempit. Nadin sibuk dengan urusan ibunya, dan sekarang Citra—satu-satunya tempat ia bisa menjadi diri sendiri—ternyata adalah bagian dari "pihak lawan". Ia merasa sendirian di tengah keluarga besar yang kaya raya ini.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah telepon masuk. Bukan dari Citra, bukan dari Elang.
Dokter Adrian.
Aruna ragu sejenak, lalu mengangkatnya dengan suara serak. "Halo?"
"Aruna? Ini Adrian. Saya sedang di teras rumah, melihat lampu kamar kamu menyala tapi mobil kamu sudah di garasi sejak sore. Kamu... baik-baik saja? Suara kamu terdengar seperti sedang flu."
Suara Adrian yang tenang dan dewasa itu entah bagaimana menjadi penawar sesaat bagi badai di hati Aruna.
"Saya cuma capek, Dok," jawab Aruna singkat.
"Lulu sedang menggambar sesuatu buat kamu. Dia bilang mau kasih besok pagi sebelum kamu berangkat kantor. Jangan telat bangun ya, atau dia bakal nangis di depan pagar kamu," Adrian terkekeh pelan.
Aruna tersenyum tipis di balik air matanya. "Iya, Dok. Makasih."
Di Bawah Lampu Taman Kompleks
Setelah makan malam yang menegangkan itu selesai, Elang mengantar Citra kembali. Namun, mereka tidak langsung pergi. Elang menghentikan mobilnya di area taman yang gelap, jauh dari pantauan CCTV rumahnya.
Elang melepaskan tangannya dari kemudi, lalu menoleh pada Citra. "Akting yang bagus. Tapi Aruna... gue nggak nyangka reaksinya bakal separah itu."
Citra menghela napas panjang, ia melepaskan sanggul rambutnya hingga terurai bebas. "Dia sahabat aku, Elang. Kamu nggak tahu betapa berartinya aku buat dia, dan dia buat aku. Aku merasa jadi orang paling jahat di dunia malam ini."
"Kamu sudah dibayar buat jadi 'jahat', Citra," sahut Elang dingin, meski ada rasa bersalah yang mencubit hatinya saat melihat mata Citra yang berkaca-kaca. "Ini kontrak. Ingat itu."
"Aku ingat!" potong Citra ketus. "Tapi tolong, jangan paksa aku buat terlalu banyak interaksi sama Aruna. Aku nggak kuat lihat dia natap aku kayak aku ini penjahat perang."
Tiba-tiba, jendela mobil Elang diketuk dari luar. Elang tersentak dan menurunkan kaca.
Di sana berdiri Baim, si anak Pak RT, dengan sarung tersampir di bahu dan senter di tangan.
"Waduh, Pak CEO! Malem-malem mojok di taman. Inget, ini komplek elit tapi moral tetep dijaga ya!" goda Baim dengan logat Betawinya yang kental.
Elang mendengus. "Berisik lo, Im. Gue cuma lagi ngomongin jadwal."
Baim melongok ke dalam mobil, matanya tertuju pada Citra. "Eh, Mbak Citra! Gimana? Betah kan sama si kaku ini? Kalau dia macem-macem, lapor gue ya. Gue punya data rahasia dia dari jaman masih ompong."
Citra memaksakan senyum. "Aman, Mas Baim."
"Eh, Lang," Baim merendahkan suaranya. "Tadi gue lihat adek lo, si Bagas, jalan kaki ke arah luar komplek. Mukanya kayak orang mau tawuran. Lo nggak mau cek?"
Elang mengerutkan kening. Bagas jalan kaki malam-malam begini?
Pencarian Bagas dan Pelarian Nadin
Bagas memang sedang berjalan tak tentu arah. Langkahnya membawanya ke sebuah gang sempit di perbatasan kompleks, tempat yang jarang dilalui mobil-mobil mewah penghuni Melati Residence.
Ia berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan cat yang sudah mengelupas. Di sana, ia melihat seorang gadis sedang berusaha mengangkat sebuah kasur busa sendirian ke teras rumah.
"Nadin?" panggil Bagas.
Gadis itu menoleh. Rambutnya berantakan, keringat membasahi dahinya. "Bagas? Ngapain lo di sini?"
"Lo... lagi apa? Sini gue bantuin," tanpa permisi, Bagas masuk ke halaman kecil itu dan mengambil alih kasur tersebut.
"Ibu tadi muntah di kasur, jadi gue harus jemur dan bersihin kamarnya," suara Nadin terdengar datar, seolah kelelahan sudah menjadi bensin utamanya untuk bertahan hidup.
Bagas terdiam. Ia melihat ke dalam rumah. Di sana, seorang wanita paruh baya sedang duduk di lantai, mengoceh sendiri tentang pesta yang tidak pernah ada.
"Lo... selama ini ngurusin ini sendirian?" tanya Bagas lirih.
Nadin menyeka keringatnya dengan punggung tangan. "Jangan kasih tahu Aruna. Dia sudah punya cukup masalah dengan traumanya sendiri. Gue nggak mau nambah beban dia."
Bagas menatap Nadin. Malam itu, ia baru menyadari bahwa ada penderitaan yang jauh lebih nyata daripada patah hati karena cinta monyet. Ia melihat Nadin sebagai sosok yang jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah ia temui.
"Gue nggak bakal bilang siapa-siapa," janji Bagas. "Tapi mulai besok, kalau lo butuh bantuan apa pun... panggil gue. Gue nggak mau dibilang bocah terus. Gue mau berguna buat seseorang."
Nadin menatap Bagas lama, lalu sebuah senyum tipis—senyum tulus pertama yang Bagas lihat malam itu—muncul di wajah Nadin. "Makasih, Gas."
Epilog Bab 3
Malam makin larut. Di rumah nomor 09, Aira duduk di depan laptopnya. Ia baru saja menyelesaikan satu bab tentang pengkhianatan dalam sebuah persahabatan. Ia mengintip keluar jendela, melihat Baim yang masih berkeliling kompleks dengan senternya, bersiul-siul riang.
Aira meraih kotak martabak yang tadi diberikan Baim. Martabaknya sudah dingin, tapi ia tetap memakannya. Sambil mengunyah, ia bergumam, "Baim... lo itu berisik, tapi kenapa gue selalu nungguin suara lo tiap pagi ya?"
Sementara itu, di rumah Adiwangsa, Elang berdiri di depan kamar Aruna. Ia ingin mengetuk, ingin menjelaskan, tapi tangannya tertahan di udara. Ia teringat kembali pada kontrak yang ia buat. Ia teringat pada wajah Citra yang sedih.
Dan di kamarnya sendiri, Aruna sedang menatap foto masa kecilnya bersama Elang dan foto liburannya bersama Citra. Ia mengambil sebuah spidol hitam, lalu perlahan menyilang wajah mereka berdua.
"Kalian pikir kalian bisa nipu aku?" bisik Aruna dengan nada yang bergetar antara benci dan luka. "Aku bakal cari tahu apa yang kalian sembunyiin."
Permainan baru saja dimulai. Dan di balik tembok Melati Residence, rahasia-rahasia lain mulai berbisik, siap untuk meledak pada waktunya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar