Kantor "EasyDate" terletak di sebuah ruko tiga lantai yang fasadnya dicat warna jingga cerah—sangat mencolok, persis seperti kepribadian pemiliknya. Di lantai dua, Baim duduk di balik meja kerja yang dipenuhi kabel-kabel monitor dan sisa bungkus camilan. Meskipun tampilannya berantakan, Baim adalah otak di balik algoritma perjodohan dan jasa pendamping profesional yang kini tengah naik daun di Jakarta.

Pagi itu, pintu kaca kantornya terbuka dengan denting lonceng yang elegan. Sosok yang muncul membuat Baim hampir tersedak kopi instannya.

Elang Adiwangsa masuk dengan aura yang seolah mendinginkan suhu ruangan. Kemeja mahalnya tampak kontras dengan dekorasi kantor Baim yang "anak muda banget".

"Gue nggak percaya lo beneran datang, Lang," Baim berdiri, merapikan kaosnya yang sedikit kusut. "Gue pikir tawaran gue kemarin cuma dianggap angin lalu sama CEO tersibuk se-Indonesia."

Elang duduk di kursi tamu tanpa menunggu dipersilakan. Ia meletakkan kunci mobilnya di meja kaca dengan bunyi klik yang tegas. "Ayah sama Ibu sudah mulai bawa-baca soal 'warisan' dan 'cucu'. Gue butuh solusi cepat, Im. Gue nggak punya waktu buat kencan buta yang diatur tante-tante sosialita teman Ibu."

Baim menyeringai, ia kembali duduk dan memutar kursi kantornya. "Lo datang ke orang yang tepat. Tapi ingat, di EasyDate, kita punya standar. Terutama buat klien VIP kayak lo. Lo butuh yang gimana? Model? Lulusan S2 luar negeri buat imbangin otak lo? Atau yang pinter masak buat ambil hati Ibu lo?"

"Gue butuh yang bisa akting," potong Elang cepat. "Yang nggak baperan. Yang tahu kalau ini cuma bisnis. Dan yang paling penting... yang nggak akan jatuh cinta sama gue."

Baim tertawa terbahak-bahak. "PD banget lo! Tapi oke, gue paham. Lo mau 'perisai', bukan pacar."

Baim mulai mengetik di komputernya. "Kebetulan banget, ada satu talent baru. Dia baru masuk daftar kemarin sore. CV-nya unik. Dia nggak mau masukin foto di profil publik, cuma mau ketemu klien terpilih. Tapi dari hasil screening staf gue, dia punya aura yang... gimana ya? Mahal. Kayak lo."


Pelarian Sang Putri Bali

Di ruang tunggu lantai bawah, seorang wanita duduk dengan tenang sambil membaca buku saku. Ia mengenakan kemeja putih oversized dan celana jeans yang pas di kaki jenjangnya. Rambutnya diikat kuda, menampakkan leher jenjang dan profil wajah yang aristokrat.

Dia adalah Citra.

Bagi dunia, dia adalah wanita muda yang sedang mencari kerja. Bagi ayahnya di Bali, dia adalah putri pembangkang yang tega meninggalkan tahta bisnis perhotelan demi sebuah prinsip: ia tidak mau dijual dalam bentuk perjodohan bisnis.

Citra butuh uang tunai. Ayahnya telah memblokir semua rekening banknya untuk memaksanya pulang. Menjadi "Pacar Sewaan" adalah cara tercepat untuk mendapatkan biaya sewa apartemen dan hidup mandiri tanpa harus meninggalkan jejak digital di perbankan nasional.

"Mbak Citra? Silakan ke lantai dua. Bos sudah nunggu," panggil asisten Baim.

Citra mengangguk sopan, menyimpan bukunya, dan melangkah naik. Di setiap langkahnya, ia meyakinkan diri bahwa ini hanya peran. Ia pernah memenangkan piala teater saat SMA di Bali; berpura-pura mencintai seorang pria seharusnya tidak lebih sulit daripada memerankan tokoh antagonis dalam drama Shakespeare.


Pertemuan di Ruang VIP

Saat pintu ruangan Baim terbuka, pandangan Elang dan Citra bertemu.

Ada keheningan sesaat yang terasa janggal. Elang, yang biasanya sulit terkesan oleh wanita, merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara Citra menatapnya. Wanita ini tidak menatapnya dengan pandangan memuja seperti staf wanita di kantornya, atau pandangan menilai seperti para sosialita. Citra menatapnya dengan pandangan... bosan.

"Lang, kenalin. Ini Citra," ujar Baim memecah kesunyian. "Citra, ini Pak Elang. Calon 'majikan' kamu kalau kontraknya deal."

Citra mengulurkan tangan. "Citra. Senang bertemu Anda, Pak Elang."

Elang menyambut tangan itu. Kulitnya halus, tapi genggamannya mantap. "Elang. Kita langsung ke poinnya saja. Kamu tahu pekerjaan apa ini?"

"Berpura-pura menjadi wanita yang paling Anda cintai di depan keluarga Anda, menjaga reputasi Anda, dan menghilang saat kontrak selesai tanpa tuntutan apa pun," jawab Citra lancar, suaranya tenang dan berwibawa.

Elang menaikkan sebelah alisnya. Ia terkesan. "Berapa yang kamu minta?"

"Saya tidak minta gaji bulanan," kata Citra, membuat Baim dan Elang terkejut. "Saya minta pembayaran di muka untuk tiga bulan pertama. Tunai. Dan saya minta satu syarat: jangan pernah mencampuri urusan pribadi saya di luar jam kerja 'akting' kita."

Elang bersedekap. "Syarat yang adil. Tapi saya juga punya syarat. Kamu harus bisa menghadapi adik perempuan saya, Aruna. Dia lebih tajam dari detektif kepolisian kalau soal mencium kebohongan. Dan adik bungsu saya, Bagas... dia mungkin akan sedikit merepotkan."

Mendengar nama "Bagas", Citra merasa dejavu. Ia merasa pernah mendengar nama itu, tapi ia segera menepisnya. Di Jakarta ada jutaan orang bernama Bagas.


Di Sisi Lain Kompleks: Luka yang Berdenyut

Sementara itu, di rumah Adiwangsa, Aruna sedang bersiap berangkat ke kantor. Namun, sebuah pesan masuk ke ponselnya membuatnya terpaku di depan cermin.

“Dokter Adrian: Selamat pagi, Aruna. Hanya mengingatkan sesi kita jam 4 sore nanti. Karena kita bertetangga, jika kamu kesulitan waktu, kita bisa bicara di taman kompleks sambil jalan sore bersama Lulu.”

Aruna meremas ponselnya. Profesional macam apa yang mengajak pasiennya jalan sore? pikirnya ketus. Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa hangat yang tak diundang. Aruna teringat wajah Lulu, anak kecil berusia empat tahun yang kemarin memegang tangannya dengan jemari mungil yang lengket karena es krim.

Aruna segera memulas lipstik merah menyala—senjatanya untuk terlihat kuat. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia adalah Asisten Manajer yang disegani. Ia tidak butuh dikasihani oleh dokter duda, tidak peduli seberapa teduh tatapan mata pria itu.

Saat ia keluar menuju mobil, ia berpapasan dengan Bagas yang tampak terburu-buru mengenakan helm dan jaket ojek online-nya.

"Mau ke mana lo? Kuliah?" tanya Aruna menyelidik.

"Ada urusan, Kak! Jangan bilang Ayah ya kalau gue pergi bawa motor!" seru Bagas sambil menghidupkan mesin.

Aruna hanya menggelengkan kepala. Ia tidak tahu bahwa adiknya sedang menuju area Sudirman untuk mengantar paket barang antik, demi mengumpulkan rupiah demi rupiah agar bisa membeli kado untuk "Mbak Hero"-nya yang sampai sekarang belum ia temukan.


Rahasia Nadin

Di sudut lain kompleks, di sebuah gang kecil yang berbatasan langsung dengan tembok belakang Melati Residence, Nadin sedang berjuang. Sahabat Aruna yang satu ini hidup dalam dua dunia. Di kantor, dia adalah staf administrasi yang rajin. Di rumah, dia adalah perawat bagi ibunya yang sering berbicara dengan tembok.

"Ibu, makan dulu ya? Nadin sudah masak sayur bening kesukaan Ibu," bujuk Nadin lembut.

Ibunya hanya menatap kosong ke jendela. "Ayahmu sebentar lagi pulang, Din. Dia bilang mau bawa martabak dari Pak RT."

Nadin menahan air matanya. Ayahnya sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Penyakit kejiwaan ibunya memburuk sejak saat itu. Nadin tidak pernah berani bercerita pada Aruna atau Citra. Ia takut mereka akan menjauh, atau lebih buruk lagi, mengasihaninya. Nadin benci dikasihani.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan dari Aruna di grup sahabat mereka.

Aruna: "Guys, si Elang gila. Dia beneran bawa cewek ke rumah tadi pagi lewat foto. Katanya mau dikenalin minggu depan. Gue curiga ini settingan. Nanti malam ngumpul di tempat biasa ya? Gue butuh kalian buat interogasi."

Nadin menghela napas. Ia menatap ibunya, lalu mengetik balasan. Nadin: "Oke, gue usahain datang."

Ia tidak tahu bahwa "cewek" yang dimaksud Aruna adalah Citra, sahabat mereka sendiri yang juga sedang menyembunyikan identitas aslinya.


Penutupan Kontrak

Kembali ke kantor Baim. Elang menandatangani sebuah map biru.

"Deal," ujar Elang. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal berisi uang tunai kepada Citra. "Besok malam, jam tujuh. Saya jemput kamu di depan minimarket dekat kompleks ini. Jangan biarkan siapa pun melihat kamu masuk ke mobil saya sebelum kita jauh dari area ini."

Citra menerima amplop itu tanpa ekspresi berlebihan. "Saya akan siap, Pak Elang. Oh, dan satu hal lagi..."

"Apa?"

"Panggil saya 'Sayang' atau apa pun nanti di depan orang tua Anda. Tapi di dalam mobil ini, panggil saya Citra."

Elang menatap Citra lama, mencari retakan di wajah wanita itu, namun ia tidak menemukannya. Citra adalah lawan yang sepadan.

"Satu hal lagi, Citra," Elang menahan langkah wanita itu di pintu. "Adik saya, Aruna... dia punya sahabat bernama Citra juga. Tapi saya belum pernah bertemu sahabatnya itu karena Aruna sangat protektif soal lingkup pertemanannya. Saya harap itu bukan kamu."

Jantung Citra mencelos. Ia baru ingat sekarang. Aruna sering bercerita tentang kakaknya yang CEO berwajah "idol", tapi Aruna selalu memanggilnya dengan sebutan "Si kaku Elang". Citra tidak pernah menghubungkan nama "Elang" dengan nama keluarga Adiwangsa karena ia terlalu fokus pada masalahnya sendiri.

Citra tersenyum tipis, berusaha tetap tenang. "Dunia ini sempit, Pak Elang. Tapi saya rasa kebetulan seperti itu terlalu dramatis untuk kenyataan, bukan?"

Citra keluar dari ruangan dengan kaki yang terasa lemas. Di dalam lift, ia menyandarkan tubuhnya. Gila, batinnya. Kalau Elang adalah kakak Aruna, berarti aku baru saja menyewakan diriku sendiri untuk menipu sahabatku sendiri.

Namun, uang di tangannya adalah tiket kemerdekaannya. Tidak ada jalan kembali.


Epilog Bab 2: Di Bawah Lampu Jalan

Malam itu, Baim berdiri di depan rumah Aira lagi. Kali ini ia tidak membawa martabak, melainkan sebuah buku saku tentang teknik menulis thriller.

"Aira! Gue tahu lo masih bangun! Gue nemu buku ini di loak, katanya bagus buat referensi bab 15 lo!" teriak Baim.

Jendela lantai dua rumah Aira terbuka sedikit. Sebuah gumpalan kertas dilempar keluar dan tepat mengenai dahi Baim.

"Baim! Berisik! Gue lagi nulis adegan pembunuhan, jangan sampai lo jadi inspirasi korbannya!" suara lembut namun ketus terdengar dari dalam.

Baim malah nyengir lebar. "Galak amat, makin sayang deh. Besok gue bawain seblak ya!"

Di kejauhan, Elang memperhatikan interaksi itu dari balkon kamarnya. Ia menyesap kopinya, menatap lampu-lampu kompleks yang mulai menyala satu per satu. Ia merasa seperti sedang menyusun kepingan puzzle yang ia sendiri tidak tahu gambar akhirnya seperti apa.

Apakah keputusannya membawa Citra ke rumah adalah langkah yang cerdas, atau justru awal dari kehancuran kedamaian keluarga Adiwangsa?