Malam di Jakarta kembali menunjukkan wajahnya yang angkuh. Di balik dinding kaca kantor yang masih menyala, Haidar terpaku menatap lembaran cek yang baru saja ia tanda tangani di dalam pikirannya. Keputusannya membantu Azzura bukanlah sebuah tindakan kedermawanan murni; itu adalah reaksi insting dari seorang pria yang pernah hancur karena uang, dan ia tidak sudi melihat skenario yang sama terulang di depan matanya, meski pemeran wanitanya berbeda.

Ia meraih kunci mobil, berniat pulang. Namun, saat melewati meja sekretaris yang sudah kosong, matanya tertuju pada sebuah benda kecil yang tertinggal. Sebuah jepit rambut sederhana berbentuk bunga melati. Haidar memungutnya. Benda itu mengeluarkan aroma samar vanilla—aroma yang sama dengan yang ia cium saat Azzura hampir jatuh di pelukannya kemarin.

Haidar mendengus, memasukkan jepit itu ke kantong jasnya dengan kasar. "Ceroboh," gumamnya, meski jemarinya sempat mengusap kelopak bunga plastik itu sejenak.

Keesokan harinya, suasana kantor terasa lebih mencekam. Bukan karena Haidar, melainkan karena kehadiran sesosok wanita yang berdiri di lobi dengan kacamata hitam besar dan tas bermerek yang harganya setara dengan gaji satu tahun staf biasa.

Azzura, yang baru saja tiba dengan semangat baru setelah melunasi deposit operasi ibunya, terhenti di depan resepsionis. Ia melihat wanita itu sedang berdebat dengan petugas keamanan.

"Saya bilang, saya istrinya! Biarkan saya naik!" suara wanita itu melengking, menarik perhatian banyak orang.

"Maaf, Ibu Arini, Pak Haidar sedang tidak ingin menerima tamu tanpa janji," balas petugas keamanan dengan sopan namun tegas.

Arini? Jantung Azzura berdegup kencang. Nama itu sering ia dengar disebut Haidar dalam igauan atau saat pria itu sedang melamun menatap laci mejanya. Jadi, inilah wanita yang telah menghancurkan hati Sang Manager.

Tanpa sadar, Azzura melangkah maju. "Ada yang bisa saya bantu?"

Wanita itu, Arini, menoleh. Ia menurunkan kacamatanya, menatap Azzura dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menghina. "Siapa kamu? Oh, sekretaris baru Haidar? Murahan sekali penampilanmu."

Azzura merasakan darahnya mendidih, namun ia menarik napas panjang. "Saya Azzura, sekretaris pribadi Pak Haidar. Jika Anda punya urusan, silakan buat janji melalui saya."

Arini tertawa sinis, langkahnya mendekat ke arah Azzura hingga aroma parfumnya yang menyengat—yang sangat dibenci Haidar—menusuk hidung. "Kamu pikir kamu siapa, hah? Aku yang membangun Haidar dari nol. Aku yang tahu setiap inci lukanya. Kamu hanya mainan sementara untuk mengisi kekosongan yang aku tinggalkan."

"Tolong jaga bicara Anda, Bu," suara Azzura merendah, menunjukkan otoritas yang mulai terbentuk sejak bekerja dengan Haidar. "Pak Haidar sedang bekerja, dan saya tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu fokusnya."

"Minggir, bocah!" Arini mencoba mendorong Azzura untuk menuju lift.

Tepat saat itu, denting lift terdengar. Haidar keluar dengan setumpuk dokumen di tangannya. Langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok Arini. Wajahnya yang biasanya kaku kini berubah menjadi pucat pasi, lalu dalam sekejap berubah menjadi merah padam karena amarah yang meledak.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" suara Haidar rendah, namun mengandung ancaman yang membuat lobi seketika senyap.

Arini seketika mengubah ekspresinya. Wajah angkuhnya berganti menjadi raut memelas yang dibuat-buat. "Haidar... Sayang, aku hanya ingin bicara. Aku menyesal. Pria itu... dia mengkhianatiku, dia mengambil semua uangku. Aku sadar hanya kamu yang tulus mencintaiku."

Haidar tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti gesekan logam. Ia melangkah maju, melewati Azzura yang berdiri mematung. Haidar berdiri tepat di depan Arini, wanita yang dulu ia puja sebagai dewi, namun kini hanya terlihat seperti rongsokan masa lalu.

"Kamu kembali karena uangnya hilang, Arini? Bukan karena kamu mencintaiku?" Haidar menunjuk ke arah gedung mewahnya. "Lima tahun lalu, kamu bilang aku sampah karena tidak bisa membelikanmu berlian. Sekarang, setelah aku memiliki segalanya, kamu datang merangkak?"

"Haidar, tolong..." Arini mencoba meraih tangan Haidar.

Haidar menepisnya dengan kasar. "Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan yang sudah memegang pria lain demi harta."

Haidar menoleh ke arah Azzura yang masih berdiri di sana. Dalam momen yang tak terduga, Haidar menarik pinggang Azzura, mendekatkannya ke sisinya. Azzura tersentak, napasnya tertahan saat merasakan kehangatan tubuh Haidar yang kontras dengan sikap dinginnya selama ini.

"Perkenalkan, Arini. Ini Azzura. Dia jauh lebih berharga dari semua berlian yang pernah kamu tuntut dariku. Dia bekerja keras untuk apa yang dia inginkan, tidak seperti kamu yang hanya tahu cara menjual diri," ucap Haidar tajam.

Azzura bisa merasakan detak jantung Haidar yang sangat cepat melalui lengannya yang bersentuhan dengan dada pria itu. Ia tahu Haidar sedang menggunakan dirinya untuk menyakiti Arini, namun ada sesuatu dalam cara Haidar memegangnya yang terasa... protektif.

Arini menatap mereka dengan penuh kebencian. "Kamu pikir dia tulus, Haidar? Dia sekretaris! Dia hanya menginginkan cek yang kamu tanda tangani! Dia sama saja denganku!"

"Setidaknya dia bekerja untuk cek itu, bukan tidur untuk mendapatkannya," balas Haidar telak. "Keamanan! Seret wanita ini keluar dan jangan pernah biarkan dia masuk ke area gedung ini lagi!"

Setelah Arini diseret paksa keluar, Haidar melepaskan rangkulannya pada Azzura. Ia terengah-engah, emosinya masih meluap. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik kembali menuju lift.

"Pak Haidar!" panggil Azzura.

Haidar berhenti, namun tidak menoleh.

"Terima kasih... tapi Bapak tidak perlu menggunakan saya sebagai tameng seperti itu," ucap Azzura pelan.

Haidar terdiam sejenak. Bahunya yang tegang perlahan merosot. "Saya tidak menggunakanmu, Azzura. Saya hanya mengatakan kebenaran yang baru saja saya sadari."

Haidar masuk ke dalam lift, meninggalkan Azzura yang terpaku sendirian di lobi. Di dalam saku jasnya, Haidar meremas jepit rambut melati milik Azzura. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, bayangan Arini tidak lagi memenuhi pikirannya dengan rasa rindu, melainkan dengan rasa mual.

Namun, di sudut lobi yang gelap, Yoga rupanya menyaksikan seluruh kejadian itu. Ia menggenggam ponselnya, merekam momen saat Haidar merangkul Azzura. Sebuah senyum licik mengembang di wajahnya.

"Jadi, ini permainan kalian? Kita lihat seberapa lama drama DM dan sekretarisnya ini bertahan," bisik Yoga penuh dendam.

Konflik baru saja dimulai. Azzura kini terjebak di tengah peperangan antara masa lalu Haidar yang beracun dan ambisi Yoga yang gelap. Dan di tengah semua itu, ia mulai menyadari bahwa hatinya tidak lagi hanya bekerja untuk gaji, melainkan untuk pria brewok yang ternyata memiliki luka sedalam samudera.