Langit Jakarta pagi ini digelayuti mendung tipis, seolah mencerminkan suasana hati Haidar yang masih bergejolak. Ia berdiri di balik jendela kantornya, menyesap kopi hitam pekat tanpa gula—sebuah rutinitas yang ia gunakan untuk membasuh rasa pahit dari mimpi buruknya semalam. Matanya terpaku pada pintu lift yang terbuka, memuntahkan karyawan yang terburu-buru mengejar absen, termasuk sosok yang kini menjadi pusat perhatiannya: Azzura.
Gadis itu datang dengan langkah ringan, kontras dengan beban yang sebenarnya ia pikul. Rambutnya hari ini diikat rapi dengan scrunchie berwarna pastel, sesuai dengan teguran Haidar kemarin. Namun, ada yang berbeda. Di bawah matanya yang biasanya berbinar, terdapat bayangan gelap yang samar, meski ia mencoba menutupinya dengan senyuman cerah saat menyapa rekan kerjanya.
Haidar memicingkan mata. Sebagai pria yang terbiasa menganalisis data dan perilaku manusia, ia tahu itu bukan sekadar wajah kurang tidur. Itu adalah wajah seseorang yang baru saja menelan tangis.
"Nona Azzura, masuk ke ruangan saya," suara Haidar bergema melalui interkom, dingin dan tanpa basa-basi.
Beberapa detik kemudian, Azzura muncul di ambang pintu. "Selamat pagi, Pak Haidar. Jadwal hari ini sudah saya siapkan di meja Bapak. Ada pertemuan dengan tim audit jam sepuluh dan—"
"Siapa yang menelepon Anda tadi pagi?" potong Haidar tiba-tiba.
Azzura tersentak. Tangannya yang memegang tablet sedikit bergetar. "Maaf, Pak? Saya tidak mengerti maksud Anda."
Haidar berjalan mendekat, langkahnya pelan namun mengintimidasi. Ia berhenti tepat di depan Azzura, aroma parfum sandalwood yang maskulin menyergap indra penciuman gadis itu. "Tiga kali Anda melihat ponsel saat berjalan dari lift menuju meja Anda. Wajah Anda pucat. Jika masalah pribadi Anda akan mengganggu kinerja hari ini, lebih baik Anda pulang sekarang."
Azzura menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Tidak akan mengganggu, Pak. Saya profesional. Itu hanya... urusan keluarga yang sudah selesai."
"Bagus kalau begitu. Karena saya tidak menggaji Anda untuk membawa drama keluarga ke kantor ini," ucap Haidar ketus, meski jauh di dalam hatinya, ada rasa ingin tahu yang asing. Rasa ingin tahu yang selama lima tahun ini hanya ia tujukan pada Arini.
Siang hari, saat jam istirahat, Haidar berniat keluar untuk makan siang sendirian. Namun, langkahnya terhenti di dekat pantry yang sepi. Ia mendengar suara bisikan dari balik pintu yang sedikit terbuka.
"Bu, Azzura janji akan kirim uangnya sore ini. Tolong bilang ke rumah sakit, jangan hentikan obat Ibu... Iya, Zura tahu biayanya naik, tapi Zura pasti bisa cari jalan keluarnya. Jangan menangis ya, Bu..."
Suara itu pecah di akhir kalimat. Haidar mematung di luar pintu. Ia melihat melalui celah pintu, Azzura sedang menyandarkan dahinya ke dinding, bahunya berguncang pelan. Gadis yang tadi pagi berdebat dengannya soal efisiensi waktu, kini tampak begitu rapuh dan hancur.
Haidar mengepalkan tangan di saku celananya. Ingatannya melayang pada masa lalunya sendiri. Dulu, Arini meninggalkannya karena ia tak mampu membayar biaya hidup yang tinggi. Arini memilih jalan pintas dengan mengkhianatinya demi pria kaya. Kini, ia melihat Azzura di posisi yang hampir sama—terhimpit kesulitan ekonomi.
Apakah dia juga akan berakhir seperti Arini? Menjual harga dirinya demi uang? batin Haidar sinis, namun ada bagian lain dari hatinya yang menolak pemikiran itu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Haidar segera berbalik dan berjalan cepat menuju lift, tidak ingin ketahuan bahwa ia baru saja menguping.
Sore harinya, sebuah konflik baru muncul. Yoga, putra dari salah satu pemegang saham terbesar perusahaan, datang ke kantor tanpa janji temu. Pria muda yang modis dan dikenal sebagai playboy itu langsung menuju meja Azzura dengan senyum lebar.
"Zura, ayolah. Hanya makan malam. Aku tahu kamu butuh bantuan untuk ibumu," ucap Yoga dengan nada meremehkan yang dibungkus keramahan.
Azzura berdiri, wajahnya kaku. "Terima kasih, Mas Yoga. Tapi saya sedang bekerja. Tolong hargai posisi saya."
"Bekerja untuk pria brewok yang kejam itu? Berapa dia membayarmu? Aku bisa beri sepuluh kali lipat jika kamu mau menemaniku malam ini," Yoga mulai meraih tangan Azzura.
"Lepaskan dia."
Suara itu menggelegar di seluruh ruangan. Haidar berdiri di pintu ruangannya dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun. Ia berjalan menghampiri mereka, auranya begitu gelap hingga Yoga secara refleks melepaskan tangan Azzura.
"Pak Haidar, ini hanya urusan teman lama—" Yoga mencoba membela diri.
"Di kantor ini, dia adalah sekretaris saya. Dan Anda tidak punya janji temu. Keluar sekarang sebelum saya memanggil keamanan untuk menyeret Anda keluar," ancam Haidar dengan nada rendah yang berbahaya.
Yoga mendengus, merapikan jasnya, lalu menatap Azzura dengan pandangan penuh kemenangan yang terselubung. "Kita belum selesai, Zura."
Setelah Yoga pergi, suasana menjadi sangat canggung. Azzura menunduk, tidak berani menatap Haidar. Ia merasa malu karena masalah pribadinya terungkap di depan atasannya.
"Ikut saya," perintah Haidar singkat.
Di dalam ruangan, Haidar duduk di kursinya dan menatap Azzura yang berdiri mematung.
"Berapa?" tanya Haidar tiba-tiba.
"Apa maksud Bapak?"
"Berapa biaya rumah sakit ibu Anda?"
Azzura tersentak. Ia menatap Haidar dengan mata berkaca-kaca. "Bapak menguping pembicaraan saya?"
"Saya tidak sengaja mendengar. Jawab saja, Azzura. Saya tidak suka mengulang pertanyaan."
Azzura menyebutkan sebuah angka yang cukup besar bagi seorang karyawan biasa. Haidar menarik laci mejanya, mengambil sebuah buku cek, dan menuliskan sesuatu di sana. Ia merobek selembar cek dan menyodorkannya di atas meja.
"Ambil ini. Bayar rumah sakit ibu Anda."
Azzura menatap cek itu dengan nanar. "Pak, saya tidak bisa menerima ini. Ini terlalu banyak."
"Ini bukan pemberian cuma-cuma," sela Haidar dingin. "Ini adalah uang muka untuk loyalitas Anda. Mulai hari ini, Anda berhutang pada saya. Anda harus bekerja lebih keras, lebih lama, dan tanpa mengeluh. Dan yang paling penting... jangan pernah biarkan pria seperti Yoga mendekati Anda lagi di kantor ini. Paham?"
Azzura mengambil cek itu dengan tangan gemetar. Ia melihat angka yang tertulis di sana—lebih dari cukup untuk operasi ibunya. Ia menatap Haidar, mencoba mencari tanda-tanda kebaikan di balik wajah brewok yang kaku itu, namun yang ia temukan hanyalah dinding es yang tebal.
"Terima kasih, Pak. Saya... saya akan membayarnya dengan kerja keras saya," ucap Azzura tulus.
Haidar hanya mengibaskan tangan, menyuruhnya keluar. Namun saat pintu tertutup, Haidar menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Ia selalu membenci wanita yang butuh uang, namun melihat Azzura berjuang sendirian, ada sesuatu dalam dirinya yang ingin melindungi—sesuatu yang ia pikir sudah mati bersama pengkhianatan Arini.
"Aku hanya tidak ingin dia menjadi seperti Arini," bisiknya pada diri sendiri, mencoba merasionalkan tindakannya.
Di luar ruangan, Azzura memeluk cek itu erat-erat. Ia tidak tahu bahwa bantuan ini adalah awal dari sebuah ikatan yang lebih rumit. Ia mulai menyadari bahwa di balik kekasaran Haidar, ada seorang pria yang sangat terluka, dan entah mengapa, ia merasa ingin menjadi orang yang menyembuhkan luka itu.
Namun, ia tidak tahu bahwa di luar sana, Yoga tidak akan tinggal diam, dan bayangan Arini mulai bergerak mendekat kembali ke kehidupan Haidar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar