Aroma kopi yang tajam biasanya menjadi penenang bagi Azzura, namun pagi ini, aroma itu terasa seperti bau mesiu di medan perang. Ia berdiri di depan pintu jati besar bertuliskan 'District Manager', merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut akibat insiden tumpahan kopi kemarin. Mengambil napas panjang, ia mengetuk pintu itu dengan ritme yang teratur.
"Masuk." Suara berat dan dingin itu terdengar dari dalam.
Azzura melangkah masuk. Haidar tidak sedang duduk di kursinya. Pria itu berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan beton Jakarta dari jendela kaca raksasa. Jasnya tersampir di sandaran kursi, menyisakan kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang menonjol—tanda seorang pria yang bekerja keras, atau mungkin pria yang selalu tegang.
"Duduk, Nona Azzura," perintah Haidar tanpa menoleh.
Azzura duduk di kursi tamu, meletakkan tablet dan buku agendanya. Ia memperhatikan punggung tegap itu. Ada aura kesepian yang menyelimuti Haidar, sebuah isolasi diri yang sengaja ia ciptakan.
Haidar membalikkan badan. Matanya yang tajam langsung mengunci tatapan Azzura. Ia berjalan perlahan menuju mejanya, lalu meletakkan sebuah map hitam tepat di depan Azzura.
"Itu adalah daftar peraturan pribadi saya. Di luar peraturan perusahaan," ucap Haidar datar.
Azzura membuka map tersebut. Alisnya bertaut saat membaca poin-poin di dalamnya.
- Dilarang menggunakan parfum yang menyengat.
- Dilarang masuk ke ruangan tanpa dokumen yang sudah diverifikasi ulang.
- Komunikasi di luar jam kantor hanya untuk urusan darurat medis atau operasional fatal.
- Semua jadwal harus sinkron dengan margin waktu 15 menit lebih awal.
"Nomor satu... Bapak alergi parfum?" tanya Azzura, mencoba mencairkan suasana.
Haidar menatapnya lurus. "Saya tidak suka gangguan. Bau yang berlebihan mengganggu konsentrasi saya. Dan saya benci sesuatu yang palsu."
Azzura terdiam. Sesuatu yang palsu? Ia merasa peraturan ini bukan sekadar soal efisiensi kerja, melainkan mekanisme pertahanan diri. "Baik, Pak. Saya akan mematuhinya. Tapi mengenai poin nomor empat, 15 menit lebih awal berarti saya harus memaksa klien untuk datang lebih pagi?"
"Artinya Anda harus memastikan segalanya siap sebelum mereka datang. Saya tidak suka menunggu, dan saya lebih benci membuat orang menunggu. Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa saya beli kembali dengan uang sebanyak apa pun yang saya miliki sekarang."
Ada penekanan pada kata 'sekarang'. Azzura mulai memahami bahwa Haidar adalah pria yang mendefinisikan dirinya melalui pencapaian materi, seolah harta adalah satu-satunya bukti bahwa ia layak dihormati.
"Saya mengerti, Pak. Hari ini jadwal Anda adalah kunjungan ke gudang distribusi di Tangerang pada jam sebelas. Saya sudah menyiapkan rutenya," Azzura menjelaskan dengan profesional.
"Bagus. Kita berangkat jam sepuluh lewat lima belas menit. Gunakan mobil saya, Anda yang menyetir."
Azzura terbelalak. "Saya yang menyetir, Pak? Bukankah ada driver kantor?"
Haidar mengambil kunci mobilnya dari meja dan melemparkannya. Azzura menangkapnya dengan sigap. "Driver sedang mengantar Bu Cindy ke bandara untuk serah terima dokumen terakhir. Dan saya ingin melihat seberapa tenang Anda di bawah tekanan kemacetan Jakarta. Jika Anda bisa mengendalikan kendaraan, saya anggap Anda bisa mengendalikan pekerjaan Anda."
Perjalanan menuju Tangerang menjadi ujian mental bagi Azzura. Haidar duduk di kursi belakang, sibuk dengan laptopnya, tidak mengeluarkan suara sepatah pun. Kesunyian di dalam mobil mewah itu terasa menyesakkan. Azzura melirik dari spion tengah, melihat Haidar yang sesekali memijat pelipisnya.
Tiba-tiba, ponsel Haidar berdering. Ia mengangkatnya tanpa melihat layar. "Ya?"
Suara di seberang sana tampaknya mengatakan sesuatu yang membuat rahang Haidar mengeras. "Saya sudah katakan, jangan hubungi nomor ini lagi. Urusan kita sudah selesai lima tahun lalu."
Haidar mematikan ponselnya dengan kasar dan melemparnya ke jok samping. Napasnya memburu. Azzura bisa melihat pantulan wajah Haidar di spion—pria itu tampak rapuh untuk sesaat, sebelum kemarahan kembali menutupi wajahnya.
"Ada masalah, Pak?" tanya Azzura pelan, keberaniannya muncul karena rasa empati.
"Fokus pada jalanan, Azzura. Jangan mencampuri urusan pribadi saya," bentak Haidar.
Azzura meremas kemudi. "Maaf, Pak. Saya hanya merasa... kadang bicara dengan seseorang bisa sedikit mengurangi beban."
Haidar tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar menyakitkan. "Bicara? Orang-orang hanya bicara saat mereka menginginkan sesuatu darimu. Saat kau tidak punya apa-apa, kata-kata mereka berubah menjadi belati. Saya sudah cukup kenyang dengan 'pembicaraan'."
Azzura terdiam. Ia teringat akan ibunya di rumah sakit, yang selalu berkata bahwa orang yang paling galak biasanya adalah orang yang paling takut disakiti. Ia melihat Haidar bukan lagi sebagai bos yang tiran, melainkan sebagai pria yang sedang bersembunyi di balik benteng duri.
Tiba-tiba, sebuah truk di depan mereka mengerem mendadak.
"Awas!" teriak Haidar.
Azzura dengan sigap membanting setir ke kiri dan menginjak rem dengan presisi, menghindari tabrakan beruntun. Mobil berhenti dengan sentakan kuat, namun aman. Jantung Azzura berdegup kencang. Ia menoleh ke belakang, khawatir pada Haidar.
"Bapak tidak apa-apa?"
Haidar terpaku. Tangannya mencengkeram jok depan. Matanya menatap Azzura, bukan dengan kemarahan, tapi dengan keterkejutan. Untuk pertama kalinya, ia melihat sekretarisnya itu bertindak tenang di bawah tekanan yang nyata.
"Saya... saya baik-baik saja," jawab Haidar lirih. Ia merapikan jasnya, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat goyah. "Lanjutkan perjalanan. Anda punya sisa tujuh menit untuk sampai tepat waktu."
Azzura mengangguk, namun ia sempat menangkap gurat tipis rasa hormat di mata Haidar.
Sore harinya, setelah kunjungan gudang yang melelahkan, mereka kembali ke kantor. Saat Azzura sedang merapikan meja kerjanya untuk pulang, ia melihat Haidar keluar dari ruangannya. Pria itu tampak lebih lelah dari pagi tadi.
"Azzura," panggilnya.
"Ya, Pak?"
Haidar ragu sejenak. Ia memegang gagang pintu ruangannya, membelakangi cahaya lampu koridor. "Kerja bagus hari ini. Kunjungan tadi berjalan lancar."
Itu bukan permintaan maaf, tapi bagi Azzura, itu adalah sebuah pengakuan. "Terima kasih, Pak. Saya hanya menjalankan tugas."
"Besok jam delapan. Jangan terlambat," ucap Haidar sebelum berbalik masuk kembali ke ruangannya.
Azzura tersenyum tipis. Ia tahu perjalanan untuk melunakkan hati sang "Kingkong Brewok" ini masih sangat jauh, namun setidaknya, hari ini ia tidak dipecat.
Di dalam ruangan yang gelap, Haidar duduk di kursinya, menatap layar ponsel yang menampilkan sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal: 'Haidar, aku tahu kamu sudah sukses. Bisakah kita bicara?'
Haidar memejamkan mata. Bayangan Arini kembali muncul, namun anehnya, kali ini bayangan itu sedikit terganggu oleh ingatan tentang bagaimana Azzura dengan berani mengendalikan kemudi tadi siang.
"Satu minggu," gumam Haidar pada dirinya sendiri. "Aku hanya butuh satu minggu untuk membuktikan dia sama saja dengan yang lain."
Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah pertanyaan muncul: Bagaimana jika Azzura ternyata berbeda?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar