Keheningan di dalam lift menuju lantai tiga puluh terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Haidar berdiri mematung, menatap pantulan dirinya di pintu lift yang mengkilap, sementara Azzura berdiri satu langkah di belakangnya, masih bisa merasakan sisa kehangatan dari dekapan mendadak di lobi tadi. Kejadian dengan Arini bukan hanya sekadar drama mantan istri yang datang menagih iba, melainkan sebuah ledakan emosi yang merobek paksa luka lama Haidar yang belum mengering.

Begitu pintu lift terbuka, Haidar melangkah keluar dengan kecepatan yang sulit diikuti. "Masuk ke ruangan saya, Azzura. Sekarang," perintahnya tanpa menoleh.

Azzura mengikuti dengan perasaan waswas. Ia menutup pintu ruang kerja yang kedap suara itu. Haidar tidak langsung duduk; ia berjalan menuju dispenser, menuangkan air dingin ke dalam gelas dengan tangan yang masih sedikit bergetar.

"Saya minta maaf," ucap Haidar tiba-tiba, suaranya parau. Ia membelakangi Azzura. "Tentang di lobi tadi. Saya tidak seharusnya melibatkan Anda ke dalam lumpur masa lalu saya."

Azzura menatap punggung tegap itu. "Saya tahu Bapak hanya ingin dia pergi. Tapi, Pak... apa yang dia katakan tentang saya... tentang cek itu..."

Haidar berbalik cepat. Matanya yang tajam kini tampak kuyu. "Jangan dengarkan dia. Arini mengukur dunia dengan timbangan harta, itu sebabnya dia pikir semua orang memiliki harga yang bisa dibeli. Tapi kejadian tadi membuktikan satu hal: keamanan gedung ini lemah dan posisi Anda terancam karena saya."

Azzura mengernyit. "Terancam? Apa maksud Bapak?"

Haidar berjalan menuju mejanya, mengambil sebuah dokumen yang baru saja ia terima dari tim legal pagi tadi. "Yoga. Dia bukan hanya putra pemegang saham. Dia adalah sepupu Arini. Mereka bekerja sama untuk menjatuhkan saya sejak saya menjabat sebagai District Manager. Kehadiran Arini tadi adalah pengalihan, sementara Yoga mencari celah untuk menyingkirkan orang-orang terdekat saya. Dan saat ini, orang itu adalah Anda."

Darah Azzura terasa berdesir dingin. Ia teringat tatapan Yoga yang merekam kejadian di lobi. "Jadi, bantuan Bapak untuk pengobatan ibu saya... Yoga mengetahuinya?"

"Dia pasti akan menggunakannya sebagai isu gratifikasi atau skandal perselingkuhan kantor untuk memecat saya dan menghancurkan reputasi Anda," Haidar menghela napas berat, lalu ia menatap Azzura dengan intensitas yang berbeda. "Azzura, saya punya tawaran. Ini adalah perjanjian tak tertulis antara kita."

Azzura menelan ludah. "Perjanjian apa, Pak?"

"Tetaplah berada di sisi saya. Bukan hanya sebagai sekretaris, tapi sebagai orang yang bisa saya percayai sepenuhnya. Sebagai imbalannya, saya akan menjamin keselamatan ibu Anda di rumah sakit terbaik dan melindungi Anda dari Yoga maupun Arini. Namun, ada satu syarat."

Haidar melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya dibatasi oleh aroma kopi dan ketegangan yang pekat. "Jangan pernah jatuh cinta pada saya. Jangan pernah berharap lebih dari sekadar perlindungan dan pekerjaan. Saya tidak punya hati untuk diberikan, Azzura. Hati saya sudah mati lima tahun lalu."

Kalimat itu menghujam dada Azzura. Ada rasa sesak yang aneh, seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Padahal, ia memang tidak berniat jatuh cinta pada bosnya yang kasar ini, namun mendengar pernyataan itu secara langsung terasa seperti sebuah penghinaan terhadap kemanusiaan.

"Bapak pikir saya semurah itu?" suara Azzura bergetar karena emosi. "Bapak pikir setiap wanita yang Bapak bantu akan langsung bertekuk lutut? Saya menerima cek itu karena saya terdesak, bukan karena saya ingin menjual perasaan saya. Saya akan bekerja dua kali lebih keras, saya akan menjaga rahasia Bapak, tapi jangan pernah berpikir Bapak bisa mengatur apa yang harus saya rasakan atau tidak."

Haidar tertegun. Ia tidak menyangka akan mendapat perlawanan sekeras itu. Keberanian Azzura sekali lagi menampar sinisme yang ia pelihara.

"Bagus," ucap Haidar singkat, meski ada secercah kekaguman yang ia tekan jauh ke dalam sanubari. "Kalau begitu, siapkan diri Anda. Malam ini ada jamuan makan malam dengan jajaran direksi. Yoga akan ada di sana. Dia akan mencoba memancing kita. Ingat, tetaplah tenang. Tunjukkan bahwa Anda bukan sekadar sekretaris yang bisa dia intimidasi."

Malam itu, di sebuah restoran mewah dengan pemandangan kota, Azzura tampil berbeda. Ia mengenakan gaun hitam sederhana namun elegan yang dibelikan oleh Haidar dengan alasan 'seragam representatif'. Haidar sendiri tampak sangat maskulin dengan tuksedo hitam yang kontras dengan brewok rapinya yang memberikan kesan misterius.

Saat mereka memasuki ruangan, mata Yoga langsung tertuju pada mereka. Pria muda itu bangkit dari duduknya dengan senyum licik yang memuakkan.

"Ah, Sang District Manager dan sekretaris kesayangannya telah tiba," sapa Yoga keras, cukup untuk membuat beberapa direktur menoleh. "Cantik sekali, Zura. Tidak menyangka gaji sekretaris bisa membeli gaun sekelas ini."

Haidar menarik kursi untuk Azzura dengan sangat sopan, sebuah tindakan yang jarang ia lakukan. "Gaji mungkin tidak cukup, Yoga. Tapi dedikasi dan kejujuran punya nilai yang tidak bisa kamu pahami," balas Haidar dingin.

Yoga tertawa, lalu condong ke arah Haidar. "Benarkah? Lalu bagaimana dengan cek senilai ratusan juta yang kamu berikan padanya minggu lalu? Apakah itu juga bagian dari 'dedikasi'?"

Suasana di meja itu mendadak kaku. Azzura merasakan tangannya dingin, namun ia teringat kata-kata Haidar di kantor. Ia tidak boleh goyah.

"Itu adalah pinjaman resmi perusahaan untuk bantuan darurat karyawan, Mas Yoga," Azzura memotong dengan suara tenang dan jernih. "Semua tercatat di bagian keuangan dengan skema potong gaji selama tiga tahun. Jika Anda ingin memeriksa auditnya, silakan. Atau mungkin... Anda terlalu sibuk menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi sehingga lupa bagaimana prosedur yang benar?"

Wajah Yoga memerah seketika. Ia tidak menyangka sekretaris yang ia anggap lemah itu akan membalas dengan argumen profesional yang telak. Haidar tersenyum tipis di balik gelas anggurnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa memiliki rekan sejati.

"Hati-hati dengan bicaramu, Azzura," desis Yoga.

"Saya hanya bicara fakta, Pak Yoga," Azzura menutup perdebatan itu dengan senyuman formal yang sempurna.

Sepanjang acara, Haidar dan Azzura berakting sebagai tim yang solid. Namun, di balik itu semua, ada sebuah getaran yang mulai berubah. Saat Haidar secara tidak sengaja menyentuh punggung tangan Azzura untuk memberikan kode keberangkatan, keduanya tersentak. Ada aliran listrik yang seharusnya tidak ada di sana.

Dalam perjalanan pulang di dalam mobil yang sunyi, Haidar menatap ke luar jendela. "Anda melakukannya dengan sangat baik malam ini, Azzura."

"Terima kasih, Pak. Saya hanya memenuhi bagian saya dari perjanjian."

Haidar menoleh, menatap Azzura yang tampak lelah namun cantik di bawah cahaya lampu jalan yang masuk ke dalam mobil. Ia teringat jepit rambut melati di sakunya. Ia ingin mengembalikannya, namun ia ragu. Jika ia mengembalikannya sekarang, bukankah itu berarti ia mulai peduli?

"Perjanjian itu..." Haidar menggantung kalimatnya. "Mungkin akan jauh lebih sulit dari yang kita bayangkan."

Azzura tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan kepalanya bersandar pada jok mobil. Ia tahu, ia sedang bermain api dengan pria yang sudah membeku. Dan api itu, entah akan menghangatkan atau justru menghanguskannya hingga menjadi abu.

Sebab-akibat dari malam ini sudah jelas: Yoga tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan, dan dinding es Haidar mulai menunjukkan retakan kecil yang membahayakan.