Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena tidak mengantuk. Tapi karena setiap kali mata ini terpejam, bayangan gelang itu kembali muncul — tipis, emas, dengan liontin huruf kecil yang terasa seperti pisau menghujam tepat di tengah dadaku.
Huruf D.
Pagi datang dengan sinar yang terlalu terang untuk kondisiku. Arkan sudah tidak ada di sebelahku saat aku membuka mata. Sisi kasurnya rapi — terlalu rapi, seperti ia tidak pernah ada di sana sama sekali.
Aku duduk di tepi kasur. Menghitung napas.
*Satu. Dua. Tiga.*
Ponselku masih tergeletak di atas bantal, layarnya gelap. Foto itu masih ada di sana. Dari nomor yang tidak dikenal, yang tidak pernah mengirim pesan lagi setelah itu — seolah tugasnya sudah selesai. Seolah ada yang ingin aku tahu, tapi tidak ingin ketahuan.
Aku menarik napas panjang, lalu berdiri.
Ada satu pesan dari Ibu Wulandari yang masuk pukul tujuh pagi. Dengan nada yang sama manisnya seperti selalu.
*'Raisa sayang, jangan lupa makan siang bersama kami hari ini ya. Ibu sudah minta Bi Yem masak kesukaan kamu. Kita rayakan berita bahagianya bersama. Bawa Arkan sekalian, Ibu sudah bilang ke dia.'*
Berita bahagia.
Maksudnya kehamilanku yang baru enam minggu — yang bahkan belum sempat kami rayakan berdua dengan benar. Yang malam pemberitahuannya Arkan hanya berkata 'oh' sambil terus mengetik di laptopnya, lalu tersenyum kecil dan mengelus kepalaku sebelum kembali menatap layarnya.
*Oh.*
Bukan pelukan. Bukan air mata haru. Bukan lompatan kecil kegirangan yang selalu kubayangkan dalam kepalaku.
Hanya *oh*.
---
Rumah Ibu Wulandari selalu terasa terlalu besar untukku.
Bukan karena megah — meskipun memang megah. Tapi karena setiap kali aku melangkah masuk, ada perasaan ganjil yang menyusup ke tulang-tulangku. Perasaan bahwa aku tamu, bukan menantu. Bahwa aku diterima, tapi tidak benar-benar disambut.
Arkan memegang punggungku saat kami masuk. Gerakan otomatis yang ia lakukan di depan keluarganya — selalu terasa lebih seperti penanda kepemilikan daripada kasih sayang.
"Raisa!" Ibu Wulandari menyambutku dengan kedua tangan terbuka. Pelukannya hangat. Parfumnya mahal. Senyumnya sempurna.
Sempurna sekali hingga aku lupa, untuk sepersekian detik, bahwa aku baru semalam tidak tidur memikirkan gelang emas itu.
"Ibu sudah kangen sama kamu, Nak."
*Nak.* Ia selalu memanggilku itu. Dan aku selalu tidak tahu apakah itu tulus atau sekadar kata yang paling mudah untuk membungkus sesuatu yang lain.
"Ibu," aku membalas pelukannya. Senyumku terpasang dengan sempurna juga. Lima tahun bersamanya mengajarkanku itu.
Ruang makan sudah penuh. Ada Om Hendra dan Tante Sari — adik dan kakak ipar Ibu Wulandari. Ada beberapa sepupu Arkan yang wajahnya sudah kuhapal tapi namanya sering tertukar di kepalaku. Dan di ujung meja, berdiri membelakangi kami sambil menyusun tatanan buah — Bagas.
Adik iparku itu menoleh saat mendengar langkahku.
Matanya bertemu mataku hanya sekejap. Lalu ia mengalihkan pandangan, berbalik, dan sibuk dengan tatanan buah yang sebenarnya sudah cukup rapi sejak tadi.
*Ada yang salah.*
Aku sudah cukup mengenal Bagas untuk tahu bahwa ia bukan orang yang menghindari kontak mata tanpa alasan. Ia cerewet, terlalu jujur, dan biasanya yang pertama menghampiriku dengan pertanyaan "mbak bawa oleh-oleh apa?"
Tapi hari ini ia sibuk dengan buah-buahan.
Arkan berbisik di telingaku, "Duduk dulu, Ra. Aku salim ke Om Hendra sebentar."
Lalu ia pergi. Dan aku berdiri sendirian di antara keramaian keluarga suamiku — seperti biasa.
---
Meja makan Ibu Wulandari selalu seperti panggung.
Ada peran untuk semua orang. Ada naskah yang tidak pernah tertulis tapi semua orang hapal. Dan ada sutradara tunggal yang duduk di ujung meja dengan senyum yang tidak pernah goyah.
"Ayo semua sudah makan belum?" Ibu Wulandari mengetuk tepi gelasnya pelan. Semua orang duduk. "Hari ini kita kumpul karena ada kabar bahagia dari Raisa dan Arkan. Alhamdulillah, akhirnya."
*Akhirnya.*
Kata itu menggantung di udara lebih lama dari yang seharusnya.
Tepuk tangan terdengar. Ucapan selamat mengalir. Tante Sari menggenggam tanganku dan berkata betapa cantiknya aku. Aku tersenyum, mengangguk, mengucapkan terima kasih dengan nada yang benar.
Arkan duduk di sebelahku. Diam.
Bukan diam yang nyaman — diam yang ia bangun seperti dinding, setinggi yang cukup untuk membuatku tidak bisa menjangkaunya.
"Pasti capek ya, Arkan?" Ibu Wulandari menyendok nasi ke piring anaknya dengan tangan sendiri — kebiasaan yang tidak pernah berubah meskipun Arkan sudah 33 tahun. "Kerjaan makin banyak belakangan ini."
"Biasa, Bu." Arkan mengangkat bahu.
"Bukan biasa." Ibu Wulandari tersenyum, tapi matanya serius. "Ibu lihat kamu kurus. Kurang makan. Pasti kurang istirahat juga."
Aku merasakan sesuatu bergeser dalam percakapan ini. Halus. Hampir tidak terasa.
"Makanya, kalau memang kerjaan sedang berat, harus ada yang ngerti." Ibu Wulandari menatapku sebentar — cukup lama untuk terasa, terlalu sebentar untuk disebut tatapan. "Istri yang baik itu yang bisa jadi tempat suami pulang dengan tenang, bukan menambah beban."
Tante Sari mengangguk setuju. Om Hendra fokus pada ayam bakarnya.
Aku menelan suapan nasinya pelan-pelan.
"Raisa juga capek kok, Bu." Bagas tiba-tiba bicara dari ujung meja — suaranya terdengar lebih keras dari yang ia rencanakan, kurasa. "Apalagi sekarang hamil."
Semua orang menoleh ke Bagas. Ibu Wulandari tersenyum.
"Iya, betul. Makanya harus jaga kesehatan." Ia menoleh ke arahku lagi. "Raisa sudah periksa ke dokter kandungan belum, Nak?"
"Sudah, Bu. Minggu lalu."
"Bagus." Ia mengangguk puas. "Doakan saja semoga sehat selalu. Keluarga besar sudah lama menunggu cucu laki-laki, lho."
Di sana.
Di sana kalimat itu.
Diselipkan di antara doa dan senyum manis, dibungkus kepedulian, tapi ujungnya tajam seperti duri mawar — tidak terasa sebelum darah mulai menetes.
*Cucu laki-laki.*
Bukan *cucu yang sehat*. Bukan *anak yang bahagia*. Tapi *laki-laki* — seolah janinku yang baru enam minggu sudah harus memenuhi ekspektasi sebelum sempat bernapas di dunia.
Aku tersenyum. "Aamiin, Bu."
Arkan tidak mengatakan apa-apa.
---
Setengah jam kemudian aku meminta izin ke kamar mandi.
Bukan karena ingin ke kamar mandi — tapi karena aku butuh berhenti tersenyum sebentar. Berhenti duduk tegak. Berhenti menjadi menantu yang baik selama lima belas menit.
Lorong menuju kamar mandi melewati area dapur. Rumah ini sudah kuhapal setiap sudutnya — lima tahun cukup untuk itu.
Tapi langkahku melambat saat mendengar suara dari balik pintu dapur yang sedikit terbuka.
Suara Ibu Wulandari. Berbicara di telepon.
Aku tidak berniat menguping. Sungguh tidak. Tapi kaki ini berhenti bergerak sebelum aku sempat memintanya berjalan.
"—sudah Ibu bilang, sabar sedikit. Semua perlu waktu yang tepat." Suaranya rendah. Bukan suara yang kukenal dari meja makan tadi. Bukan suara ibu yang hangat dan penuh perhatian. Ini suara yang lain — dingin, terencana, seolah sedang menggerakkan bidak-bidak di papan catur yang tidak aku tahu keberadaannya.
"Ibu tidak bilang begitu. Ibu bilang tunggu sampai kondisinya tepat." Jeda. "Arkan itu anak Ibu. Ibu yang paling tahu apa yang terbaik buat dia."
Aku tidak bernapas.
"Kamu tenang saja. Ibu yang urus semuanya. Seperti yang sudah Ibu janjikan dari awal."
Lalu tertawa kecil — tertawa yang terdengar seperti seseorang yang tahu bahwa permainannya sudah berjalan sesuai rencana.
Aku mundur satu langkah. Punggungku menyentuh dinding lorong.
Nama yang disebut sebelum tawa itu — nama yang meluncur dari mulut mertuaku dengan nada yang terlalu akrab, terlalu hangat, jauh lebih hangat dari cara ia menyebut namaku dalam lima tahun terakhir —
Bukan nama anggota keluarga yang aku kenal.
Bukan nama yang pernah aku dengar di meja makan manapun.
Tapi cara Ibu Wulandari menyebutnya — seperti menyebut seseorang yang sudah lama ia kenal. Seseorang yang sudah lama *ada* dalam hidupnya. Dalam hidup keluarga ini.
Bahkan mungkin — dalam hidup Arkan.
---
Aku kembali ke meja makan dengan langkah yang aku paksa terlihat biasa.
Duduk. Mengambil segelas air. Meneguknya pelan.
Ibu Wulandari kembali beberapa menit kemudian, duduk di kursinya, dan melanjutkan percakapan tentang resep masakan Bi Yem seolah tidak ada yang terjadi.
Senyumnya sempurna. Hangat. Manis.
Tepat seperti tadi.
Tepat seperti selalu.
Aku menatapnya dari seberang meja. Menatap cara ia menepuk tangan Arkan dengan penuh kasih. Cara ia tertawa bersama Tante Sari. Cara matanya sesekali menyapu ruangan — memeriksa, mengontrol, memastikan semua bidak berada di tempat yang seharusnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun — untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke keluarga ini dengan gaun pengantin putih dan harapan yang terlalu besar — aku bertanya pada diriku sendiri sebuah pertanyaan yang tidak pernah berani aku rumuskan sebelumnya.
Selama ini, apa yang sebenarnya sedang dibangun wanita itu?
Dan sudah seberapa jauh bangunan itu berdiri — di balik punggungku, tanpa aku tahu?
Ponselku bergetar pelan di saku.
Satu pesan masuk. Dari nomor yang sama yang mengirimkan foto semalam.
Kali ini bukan foto.
Hanya empat kata.
*'Tanyakan pada Bagas.'*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar