Teh di cangkirku sudah dingin sejak tadi.
Aku tahu itu. Tapi tanganku tidak bergerak untuk menghangatkannya kembali. Aku hanya duduk di sini, di kursi yang sama setiap pagi, menatap uap yang sudah berhenti mengepul sejak setengah jam lalu.
Arkan berangkat pukul tujuh. Seperti biasa.
Ia mencium keningku — juga seperti biasa. Sepatah kata, *"Aku pergi ya,"* lalu suara kunci yang diputar, lalu sunyi yang langsung memenuhi seluruh ruangan seperti air mengisi ember.
Seperti biasa.
Tapi pagi ini tidak terasa biasa. Tidak sejak semalam.
*Jangan lupa—*
Aku mengangkat cangkir teh itu. Meminumnya meski sudah tidak hangat. Mencoba membuat tubuhku bergerak karena kalau aku terus diam, kepalaku tidak akan berhenti.
*Jangan lupa apa?*
Aku meletakkan cangkir itu terlalu keras. Suaranya berdetak di permukaan meja dan membuatku terkejut sendiri.
Berhenti. Berhenti berpikir tentang itu.
Aku menarik napas. Dalam. Perlahan.
Mungkin itu pesan dari rekan kerja. Mungkin ada meeting yang hampir terlupa, atau deadline proyek, atau titipan oleh-oleh dari seseorang yang pergi ke luar kota. Mungkin nama itu — *D* — tidak berarti apa-apa selain kontak yang belum sempat diberi nama lengkap.
Mungkin aku hanya lelah. Terlalu sensitif. Terlalu banyak berpikir.
Lima tahun pernikahan tidak bisa runtuh hanya karena dua kata dan satu huruf.
Aku bangkit. Membawa cangkir ke wastafel. Membuka keran dan membiarkan air dingin mengalir di atas jari-jariku terlalu lama. Seperti ada bagian dari otakku yang berharap sensasi itu bisa menghentikan suara-suara di dalam kepala.
Tidak bisa.
---
Dinda datang tanpa pemberitahuan. Juga seperti biasa.
Kudengar bel dibunyikan dua kali — pola yang sudah kukenal sejak kami masih mahasiswa semester dua. Selalu dua kali, selalu cepat, seperti dia tidak sabar bahkan untuk menunggu bunyi belnya sendiri selesai.
Aku membuka pintu.
Ia berdiri di sana dengan kantong plastik berisi dua bungkus cilok dan satu botol teh kemasan — sarapan kelas kita dulu, katanya, yang ia masih bawa sampai sekarang karena *"budget gue nggak pernah naik kelas, Rai."*
Tapi matanya tidak sedang tertawa.
Matanya sedang membaca wajahku.
"Kenapa?" tanyanya langsung. Tidak ada basa-basi, tidak ada *halo* atau *apa kabar*. Langsung seperti itu, seperti kalimat yang sudah ia siapkan sejak di perjalanan kemari.
"Nggak ada apa-apa," jawabku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Terlalu datar. Terlalu cepat.
Dinda mengangkat sebelah alis. Ia masuk ke dalam tanpa dipersilakan — juga seperti biasa — menaruh kantong plastiknya di meja dapur, dan duduk di kursi yang tadi kutinggalkan.
"Duduk," katanya, menunjuk kursi di seberangnya.
Aku duduk.
Ia membuka bungkusan cilok itu, mendorongnya ke arahku, lalu menatapku tanpa berkedip. "Cerita."
"Din—"
"Raisa." Nada suaranya tidak meninggi. Tidak perlu. Justru karena ia tidak berteriak, aku tahu ini serius. "Aku udah kenal kamu dua belas tahun. Muka kamu itu," ia menunjuk wajahku dengan ujung tusuk cilok, "muka orang yang udah tiga hari nggak tidur beneran tapi pura-pura baik-baik aja supaya nggak ada yang nanya."
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.
*Ia tidak salah.*
"Mas Arkan ngapain?" tanyanya. Kali ini lebih pelan.
Aku menatap meja. "Nggak ada apa-apa sama Mas Arkan."
"Rai."
"Beneran, Din. Aku cuma—" Aku berhenti. Mencari kata yang tepat. Atau mungkin mencari keberanian untuk mengatakannya dengan jujur. "Aku cuma overthinking."
Dinda diam sebentar. Ia mengunyah ciloknya dengan sabar. Menunggu.
Dan aku tidak tahu kenapa, mungkin karena sudah terlalu lama menyimpan ini sendirian, mungkin karena sunyi pagi ini terlalu berat untuk ditanggung seorang diri — aku akhirnya bicara.
"Semalam aku lihat notifikasi di HP-nya."
Dinda tidak langsung bereaksi. Hanya meletakkan tusuk ciloknya pelan.
"Dari nama yang disimpan cuma satu huruf," lanjutku. Suaraku terdengar aneh. Seperti sedang membaca teks orang lain. "Isinya cuma kebaca dua kata sebelum layarnya gelap. *Jangan lupa—*"
Hening.
"Itu aja?" tanya Dinda akhirnya.
"Itu aja."
Ia tidak langsung bicara. Dan justru kediaman itulah yang membuatku melanjutkan — semua yang selama ini kutimbun rapi, semua yang kusebut *overthinking* setiap kali muncul ke permukaan:
"Bulan lalu dia lupa anniversary kita." Aku mengatakannya pelan. "Aku nggak ngingetin. Nunggu. Sampai tengah malam. Dia nggak nyebut sama sekali."
Dinda mendengarkan tanpa menyela.
"Terus HP-nya. Dia mulai ngunci. Dulu nggak pernah. Kalau ada pesan masuk biasanya dia baca langsung di depan aku, nggak pernah nutup layar dulu. Sekarang..." Aku menggeleng. "Sekarang kalau ada yang nelpon dia pasti keluar dulu. Ke teras, atau ke mobil. Bilangnya biar nggak ganggu aku."
"Tapi kamu merasa terganggu justru karena itu."
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Aku mengangguk.
Dinda menghela napas panjang. Ia meraih tanganku di atas meja, menggenggamnya sebentar, lalu melepaskannya. "Rai, aku nggak mau nakut-nakutin kamu."
"Tapi?"
"Tapi kamu juga nggak bisa terus nutup mata kalau ada yang rasanya nggak bener." Matanya menatapku langsung. "Kamu terlalu baik buat dirimu sendiri. Dan maksudku itu bukan pujian."
Aku tahu apa yang ia maksud.
Ia sudah bilang itu sebelumnya. Berkali-kali. Bahwa aku terlalu mudah percaya, terlalu cepat memaafkan, terlalu bersedia menelan penjelasan yang bahkan separuhnya tidak masuk akal — karena menerima kebenaran terasa jauh lebih menyakitkan daripada memilih untuk tidak melihat.
Aku tahu itu. Aku tahu.
Tapi mengetahui sesuatu dan mampu melakukannya berbeda adalah dua hal yang berbeda.
---
Dinda pulang pukul setengah sebelas.
Kami tidak menyimpulkan apa-apa. Tidak ada keputusan yang diambil, tidak ada rencana yang disusun. Hanya percakapan yang mengalir sampai ia ingat ada urusan yang tidak bisa ditunda, ia berdiri, memelukku sebentar — lebih lama dari biasanya — lalu pergi.
Rumah kembali sunyi.
Aku membereskan bungkusan cilok yang tersisa. Menyapu lantai yang sebenarnya sudah bersih. Melipat handuk di kamar mandi yang sebenarnya sudah terlipat. Semua gerakan kecil yang membuatku tetap bergerak, supaya tidak duduk diam dan membiarkan pikiran itu kembali berkuasa.
*Jangan lupa—*
Aku masuk ke ruang tengah. Merapikan bantal sofa yang sedikit geser. Mengangkat selimut tipis yang tadi pagi Arkan singkirkan begitu saja ke sela-sela sofa—
Dan aku berhenti.
Di antara sela sofa dan sandaran, terselip sesuatu yang tipis dan datar dan berkilat tertimpa cahaya dari jendela.
Ponsel Arkan.
Ia tertinggal.
Jantungku tiba-tiba berdetak tidak karuan. Aku menatap benda itu tanpa bergerak. Mungkin sepuluh detik. Mungkin lebih.
*Ambil. Taruh di meja. Selesai.*
Aku berjongkok. Meraihnya.
Layarnya menyala begitu tanganku menyentuhnya — entah karena getaran atau karena memang baru masuk sesuatu. Aku tidak tahu. Yang kutahu, tiba-tiba ada cahaya di telapak tanganku, dan di atasnya, nama itu:
**D**
Kali ini layarnya tidak sempat menggelap.
Kali ini pesannya terbaca utuh.
Aku tidak bergerak. Tanganku berhenti di tengah udara. Dada ini — dada ini seperti tiba-tiba ada yang menuangkan beton ke dalamnya, berat, memadat, tidak bisa bernapas.
Bukan karena kata-katanya panjang.
Justru karena pendek. Sangat pendek. Tapi cukup. Lebih dari cukup.
Cukup untuk membuat seluruh tubuhku paham apa yang selama ini coba kutolak dengan segala tenaga.
Dan pertanyaan yang kini memenuhi kepalaku bukan lagi *siapa D* — melainkan satu hal lain yang jauh lebih menghancurkan:
*Sudah berapa lama aku tidak melihat apa yang ada tepat di depan mataku?*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar