Akhirnya aku membalas pesan Dinda.
Tiga kata saja. *Besok kita ngobrol.* Lalu aku letakkan ponsel menghadap bawah di atas nakas dan memejamkan mata — pura-pura bisa tidur, pura-pura semuanya bisa menunggu sampai besok.
Tapi seperti biasa, pagi datang lebih cepat dari kesiapanku.
---
Rumah Ibu Wulandari selalu membuat aku merasa seperti sedang mengunjungi museum. Semua tertata. Semua pada tempatnya. Semua terlihat sempurna dari jarak yang tepat, asalkan kamu tidak mencoba menyentuh apa pun.
Arkan memarkirkan mobil tepat pukul enam sore. Ia turun lebih dulu, merapikan kemejanya, dan membuka pintu untukku dengan senyum yang sudah hafal aku baca — senyum performa, bukan senyum sungguhan.
"Jangan lupa, Ma. Mama minta kita datang tepat waktu hari ini," katanya.
Aku mengangguk. Tidak menjawab.
Sudah tiga hari ini aku memilih diam sebagai bahasa. Arkan belum menyadarinya — atau mungkin ia sadar, tapi memilih tidak bertanya. Kami berdua terlalu pandai berpura-pura.
Pintu rumah dibuka oleh Bi Yati sebelum kami sempat mengetuk. Di baliknya, suara tawa dan percakapan menyambut kami seperti gelombang — keluarga besar Pradipta memang selalu hadir lengkap untuk acara seperti ini. Pakde Harto dan Bude Lies dari Semarang. Om Benny dan keluarganya. Sepupu-sepupu Arkan yang namanya aku hafal tapi wajahnya masih sering aku campur aduk.
Dan di ujung ruang tamu, berdiri Ibu Wulandari.
Ia mengenakan kebaya brokat abu-abu muda yang membuatnya terlihat seperti permaisuri di istana kecilnya sendiri. Rambutnya disanggul rapi. Kalung mutiaranya berkilat pelan di bawah lampu. Saat mata kami bertemu, wajahnya langsung menyala.
"Raisa!" Ia melangkah cepat ke arahku. Lebih cepat dari biasanya.
Sebelum aku sempat bereaksi, ia memelukku.
Bukan pelukan tipis yang biasa. Bukan pelukan basa-basi. Ia memelukku erat, seperti benar-benar merindukanku, dan tangannya menepuk punggungku perlahan.
"Anak Ibu yang cantik," bisiknya. Hangat. Tulus.
Aku membeku sedetik sebelum membalas pelukannya.
*Ini Ibu Wulandari yang mana?* tanyaku dalam hati.
Ia melepaskan pelukan dan menggenggam kedua tanganku, lalu berbalik ke arah seluruh ruangan.
"Lihat, semuanya — ini Raisa, menantu Ibu." Suaranya bergema di antara para tamu. "Lima tahun menemani Arkan, tidak pernah satu kali pun Ibu dengar ia mengeluh. Ibu bangga punya menantu seperti ini."
Tepuk tangan kecil dari sudut-sudut ruangan. Senyum dari Pakde Harto. Anggukan dari Bude Lies.
Pipiku memanas.
Aku tersenyum — senyum yang juga sudah terlatih, senyum yang sudah menjadi seragamku setiap kali datang ke rumah ini.
Arkan berdiri di sebelahku dan meletakkan tangannya di punggungku. Tipis. Sebentar. Lalu ia ikut mengobrol dengan Pakde Harto dan tangannya perlahan turun dan hilang.
Seperti semua hal tentang Arkan belakangan ini — hadir sebentar, lalu hilang sebelum aku sempat memegang.
---
Makan malam berlangsung di meja panjang yang selalu terasa terlalu besar buatku. Dua belas orang duduk berderet, piring-piring penuh masakan yang dimasak Ibu Wulandari bersama dua asisten rumah tangganya sejak siang.
Aku duduk di sebelah Arkan, dua kursi dari Ibu Wulandari.
Percakapan mengalir. Tentang bisnis keluarga. Tentang renovasi rumah Om Benny. Tentang anak-anak yang masuk sekolah baru. Tawa bergantian dengan canda yang sudah sering aku dengar dalam versi berbeda.
Aku ikut tertawa di waktu yang tepat. Aku mengambil makanan dengan porsi yang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit — cukup untuk terlihat menikmati, tidak berlebihan agar tidak terkesan rakus. Lima tahun menghadiri meja ini mengajarkan aku kalibrasi yang halus.
"Raisa, ayam gepreknya dimakan — kamu yang minta Ibu bikin," tegur Ibu Wulandari dari ujung meja, tapi nada suaranya penuh perhatian.
"Iya, Bu, enak sekali," jawabku, langsung mengambil sepotong.
Bagas — adik Arkan — duduk tiga kursi dari tempatku. Ia lebih banyak diam dari biasanya. Sesekali ia memainkan garpu di tangannya, menatap meja, dan aku menangkap beberapa kali matanya melayang ke arahku sebelum cepat berpaling.
Ada yang berbeda pada Bagas malam ini.
Tapi aku tidak tahu harus memikirkan apa.
---
Setelah makan malam, para tamu memencar ke ruang keluarga. Ada yang duduk berkelompok, ada yang pergi ke taman belakang. Arkan langsung ditarik Pakde Harto untuk bicara soal investasi properti — aku tahu itu akan berlangsung lama.
Aku meminta diri ke dapur untuk membantu Bi Yati membereskan piring.
Rumah ini punya lorong kecil di antara ruang makan dan dapur — sempit, bercahaya redup dari lampu yang wattnya tidak pernah diganti Ibu Wulandari sejak dulu. Aku sudah hafal lorong ini. Sudah sering lewat.
Tapi malam ini, tepat saat aku hendak mendorong pintu dapur, aku mendengar suara.
Suara Ibu Wulandari.
Ia ada di sisi lain dinding tipis itu — di ruang cuci yang kecil, tepat di samping dapur. Suaranya rendah. Terkontrol. Sangat berbeda dengan suara hangatnya di meja makan tadi.
Aku tidak sengaja berhenti.
Harusnya aku teruskan melangkah. Harusnya aku dorong pintu dan masuk ke dapur dan berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
Tapi kakiku tidak mau bergerak.
"...sudah aku bilang, bukan sekarang waktunya." Suara Ibu Wulandari. Tegas. "Tunggu sampai momen yang tepat. Kamu tidak perlu terburu-buru."
Jeda. Ia mendengarkan seseorang di telepon.
"Lima tahun kosong. Pohon yang tidak berbuah, mau dipertahankan sampai kapan?"
Dunia di sekitarku tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Suara piring yang beradu di dapur. Suara tawa dari ruang keluarga. Semua itu ada, tapi aku tidak bisa mendengarnya — hanya kalimat itu yang bergema, membentur setiap sudut di dalam kepalaku.
*Pohon yang tidak berbuah.*
Aku.
Ia sedang membicarakan aku.
"Nanti aku yang urus," lanjut Ibu Wulandari, dan nada suaranya kini terdengar seperti sesuatu yang baru pertama kali aku dengar dari perempuan ini — dingin, terukur, seperti seseorang yang sudah menyusun rencana jauh sebelum pertandingan dimulai. "Percayakan ke Ibu."
Klik.
Telepon ditutup.
Aku mundur satu langkah, dua langkah, sampai punggungku menyentuh dinding lorong. Jantungku berdetak terlalu keras untuk situasi yang harusnya biasa saja — aku hanya berdiri di lorong, aku hanya mendengar sepotong percakapan, aku mungkin salah menangkap konteksnya.
*Kamu selalu terlalu sensitif, Ra.* Suara Arkan dari ingatan, dari percakapan yang sudah lama. *Mama tidak sejahat yang kamu pikir.*
Aku mencoba menarik napas pelan.
Dan saat itu aku melihat Bagas.
Ia berdiri di ujung lorong yang lain — dari arah ruang keluarga. Entah sudah berapa lama ia ada di sana. Entah berapa banyak yang ia dengar.
Mata kami bertemu.
Dan dalam sekian detik itu, aku membaca sesuatu di wajahnya yang tidak bisa aku salah tafsir — bukan terkejut, bukan bingung. Ekspresinya adalah sesuatu yang jauh lebih berat dari itu.
Seperti seseorang yang sudah tahu. Yang sudah lama tahu.
Dan seperti seseorang yang tidak tahu harus melakukan apa dengan pengetahuannya itu.
Ia membuka mulut — setengah gerak, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Tapi kemudian dari arah ruang keluarga terdengar suara Arkan memanggil. "Gas, ke sini dulu, Pakde mau nanya soal lo."
Bagas berkedip. Ekspresi itu — ekspresi yang hampir menjadi sesuatu — langsung terkunci kembali di balik wajah normalnya. Ia menatapku satu detik lagi, dan ada sesuatu di matanya yang terasa seperti permintaan maaf.
Atau peringatan.
Sebelum aku sempat memutuskan yang mana, ia sudah berbalik dan melangkah pergi.
---
Aku tidak ingat bagaimana sisa malam itu berlangsung.
Aku ingat mengangguk. Tersenyum. Menjawab pertanyaan Bude Lies soal memasak. Aku ingat Ibu Wulandari keluar dari lorong itu beberapa menit kemudian dengan wajah yang kembali hangat, kembali sempurna, seolah tidak ada apa-apa.
Aku ingat ia memelukku lagi di depan pintu ketika kami pamit.
"Cepat kasih kabar baik ya, sayang." Ia menepuk pipiku lembut. "Ibu selalu mendoakan kalian."
Aku tersenyum dan mengiyakan.
Di dalam mobil, Arkan mengemudi sambil menceritakan obrolan dengan Pakde Harto. Aku mendengarkan. Atau pura-pura mendengarkan. Aku sudah tidak yakin mana yang mana.
---
Kamar kami terasa lebih dingin dari biasanya malam itu.
Arkan tertidur dalam dua puluh menit. Aku berbaring di sebelahnya dengan mata terbuka, menatap langit-langit yang gelap, mengulangi kalimat itu berkali-kali sampai ia terasa seperti tulisan yang terukir.
*Pohon yang tidak berbuah, mau dipertahankan sampai kapan?*
Aku meletakkan tangan di perutku — kebiasaan lama, tanpa sadar.
Kosong. Hanya perutku sendiri di bawah telapak tangan.
Aku mengambil ponsel untuk mencari pesan Dinda yang belum aku balas dengan benar. Tapi saat layar menyala, aku melihat ada satu notifikasi lain.
Nomor tidak dikenal.
Tidak ada teks. Tidak ada keterangan apa pun.
Hanya sebuah foto.
Aku memperbesar gambar itu dengan jari yang tiba-tiba terasa dingin.
Sebuah restoran. Lampu temaram. Meja yang diset untuk dua orang dengan anggur merah di antaranya.
Dan Arkan.
Arkan sedang tertawa — tawa yang sudah lama tidak aku lihat, tawa yang lepas dan ringan dan nyata, tawa yang sudah lupa kapan terakhir ia hadirkan di depanku.
Di sebelahnya, seorang perempuan.
Rambutnya panjang, hitam, digerai. Ia mengenakan gaun hitam tanpa lengan. Dan tangannya — tangannya melingkari lengan Arkan dengan cara yang tidak bisa disebut sekadar teman, tidak bisa dimaknai hanya sebagai rekan kerja, tidak bisa aku beri penjelasan lain yang tidak akan membuatku hancur.
Foto itu tidak punya tanggal. Tidak punya nama pengirim. Tidak punya kata-kata.
Tapi ia berkata lebih banyak dari apa pun yang pernah Arkan katakan padaku dalam setahun terakhir.
Aku menatap layar itu lama sekali.
Dan hal yang paling menghancurkan bukan fotonya.
Bukan tangannya yang melingkari lengan suamiku.
Tapi satu detail kecil yang baru aku sadari setelah menatap cukup lama — di pergelangan tangan perempuan itu, ada gelang emas tipis dengan liontin huruf kecil.
Huruf D.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar