Aku bangun sebelum alarm berbunyi.

Bukan karena ingin. Tapi karena tubuhku sudah lupa cara tidur nyenyak.

Sisi kanan kasur sudah dingin ketika aku menyentuhnya. Arkan pergi bahkan sebelum langit benar-benar terang — meninggalkan lekukan kecil di bantal sebagai satu-satunya bukti bahwa ia pernah ada di sini semalam. Tidak ada catatan. Tidak ada pesan. Hanya pintu yang tertutup rapat dan sunyi yang terasa terlalu penuh.

*Urusan kantor,* katanya tadi malam, singkat, saat aku bertanya ia akan berangkat jam berapa besok.

Aku mengangguk. Tidak bertanya lebih.

Itu sudah menjadi bahasa kami sekarang — bahasa yang terdiri dari kata-kata secukupnya, anggukan yang berarti iya tanpa benar-benar setuju, dan diam yang kami sebut ketenangan padahal sebenarnya adalah jarak.

---

Dapur terasa lebih besar dari biasanya pagi ini.

Aku menyalakan kompor, merebus air, mengeluarkan telur dari kulkas — semua dengan gerakan yang sudah hafal otot tanganku. Lima tahun mengulang ritual yang sama membuatnya terasa seperti bernapas. Tidak perlu dipikir. Tinggal dilakukan.

Masalahnya, pagi ini pikiranku tidak mau diam meski tubuhku bergerak otomatis.

Dua kata itu masih ada. *Jangan lupa—*

Dan kalimat yang semalam terbaca utuh dari layar ponsel Arkan — kalimat yang tidak bisa kutuliskan ulang dalam kepalaku tanpa ada sesuatu yang mencelos di perut.

Aku mengaduk telur lebih keras dari yang perlu.

*Berhenti,* kataku pada diri sendiri. *Masak saja. Sarapan dulu. Sisanya nanti.*

---

Jaket Arkan masih tergantung di sandaran kursi makan.

Ia pasti terburu-buru tadi sampai lupa membawanya. Aku menatapnya sebentar, lalu berbalik ke kompor. Tapi entah kenapa — mungkin kebiasaan, mungkin sesuatu yang lain yang tidak mau kuakui — kakiku berjalan sendiri ke sana.

Tanganku mengangkat jaket itu. Berat. Wangi parfumnya masih menempel.

Aku berniat melipatnya, meletakkannya di tempat yang benar. Tapi saat aku melakukan itu, ada sesuatu yang jatuh dari saku.

Selembar kertas kecil.

Nota.

Aku memungutnya. Refleks.

*Restoran La Maison. Table for two. Tanggal—*

Aku berhenti membaca.

Tanggal itu adalah kemarin malam.

Kemarin malam ketika Arkan bilang lembur. Ketika ia pulang pukul sebelas lewat dengan dasi sedikit kendur dan bilang *"sudah makan, makasih"* saat aku tanya apa mau dihangatkan lauk yang kusimpan.

*Table for two.*

Bukan kantin kantor. Bukan warteg dekat gedung. *La Maison* — restoran yang bahkan untuk ulang tahun pernikahan kami tahun lalu, Arkan bilang terlalu mahal untuk momen biasa.

Aku berdiri lama sekali menatap kertas itu.

Menunggu kemarahan datang.

Tapi yang datang justru bukan itu.

Yang datang adalah rasa lelah yang sangat tua. Seolah tulang-tulangku baru menyadari bahwa mereka sudah menopang sesuatu yang terlalu berat selama terlalu lama.

Dengan gerakan yang terasa di luar tubuhku sendiri, aku melipat nota itu. Memasukkannya kembali ke saku jaket. Meletakkan jaket itu di sandaran kursi — persis seperti posisi semula.

Lalu aku kembali ke kompor.

Mengaduk telur yang hampir gosong.

Dan aku sadar, dengan kepiluan yang datang perlahan seperti air meresap ke tanah — inilah luka terdalam yang tidak pernah kupahami sebelumnya. Bukan meledak. Bukan menangis. Bukan menghadapi.

Tapi meletakkan kembali. Berpura-pura tidak melihat. Meneruskan memasak.

*Aku sudah terlalu terlatih untuk ini.*

---

Ibu Wulandari datang jam sembilan pagi.

Tanpa kabar sebelumnya — tapi itu memang selalu caranya. Seolah memberitahu terlebih dahulu adalah kelemahan, dan kelemahan bukan sesuatu yang ia izinkan dalam kamus hidupnya.

"Raisa, Ibu bawa buah ya. Melon dari Pak Hendra, manis sekali katanya."

Senyumnya selalu seperti itu. Hangat sempurna. Seperti foto di majalah parenting tentang mertua ideal.

"Terima kasih, Bu. Masuk dulu, Ibu sudah sarapan?"

"Sudah, sudah. Ibu cuma sebentar."

Tapi *sebentar* versi Ibu Wulandari biasanya berarti satu jam dan beberapa lapis percakapan yang harus aku navigasi dengan hati-hati.

Kami duduk di ruang tamu. Aku menyeduhkan teh. Ibu Wulandari melihat-lihat ruangan dengan tatapan yang selalu membuatku ingin memeriksa apakah ada yang salah letak atau kurang bersih — meski aku tahu rumah ini sudah cukup rapi.

"Arkan sudah berangkat?"

"Iya, Bu. Dari sebelum subuh tadi."

"Rajin anakku itu." Ibu Wulandari tersenyum dengan bangga yang tidak ditutup-tutupi. "Memang dari kecil dia paling serius soal karir."

Aku mengangguk. Menyeruput teh.

Percakapan mengalir — tentang melon yang manis, tentang tetangga yang baru renovasi rumah, tentang arisan keluarga Pradipta bulan depan. Semua terasa hangat di permukaan. Tapi aku sudah cukup lama mengenal Ibu Wulandari untuk tahu: selalu ada sesuatu yang sedang berjalan menuju sesuatu.

Dan ia sampai di sana sekitar dua puluh menit kemudian.

"Raisa..." Ibu Wulandari meletakkan cangkirnya. Nadanya berganti — masih manis, tapi ada sesuatu di bawahnya yang terasa seperti batu. "Ibu mau tanya sesuatu. Jangan salah sangka ya, ini karena Ibu sayang."

*Ini.*

"Iya, Bu."

"Kamu dan Arkan... sudah lima tahun ya." Ia tersenyum lagi. Tapi matanya tidak. "Ibu nggak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Tapi keluarga besar mulai tanya-tanya. Bapak juga. Soal..." ia berhenti sebentar, memilih kata, "...soal kabar baik."

Aku tahu *kabar baik* itu artinya apa.

"Kami masih berusaha, Bu."

"Iya, Ibu tahu. Tapi mungkin perlu lebih... diprioritaskan?" Suaranya tetap lembut. "Maksud Ibu, Arkan juga makin sibuk. Kamu di rumah. Ini justru waktu yang bagus, lho. Kalau nunggu sempurna, nggak akan pernah ada waktu yang sempurna."

Setiap kalimat itu terasa seperti jarum yang ditusukkan perlahan. Tidak cukup dalam untuk berdarah. Tapi cukup untuk terasa.

"Ibu Wulandari," aku menjaga suaraku tetap tenang, "kami sudah konsultasi ke dokter. Ada prosesnya."

"Oh iya, iya." Ia mengangguk cepat, seolah itu bukan hal yang penting. "Ibu cuma bilang, jangan sampai keburu terlambat. Kamu sudah hampir tiga puluh, Raisa. Ini bukan soal tekanan — ini soal harapan keluarga."

*Harapan keluarga.*

Bukan *harapanmu*. Bukan *kebahagiaanmu*. Tapi *harapan keluarga* — seolah rahimku adalah properti kolektif yang perlu dilaporkan perkembangannya setiap kuartal.

Aku tersenyum.

Karena itu yang bisa kulakukan.

"Kami akan terus berusaha, Bu."

---

Ibu Wulandari pergi jam sepuluh lewat dua puluh.

Membawa senyum yang sama seperti waktu datang. Meninggalkan melon yang belum aku sentuh dan rasa sesak di dada yang tidak tahu harus kuletakkan di mana.

Aku duduk di sofa.

Tidak mengambil ponsel. Tidak menyalakan TV. Hanya duduk dan membiarkan keheningan rumah ini mengisi semua sudutnya sendiri.

*Nota dari La Maison.*

*Table for two.*

*Kabar baik. Harapan keluarga. Keburu terlambat.*

*Jangan lupa—*

Potongan-potongan itu berputar di kepalaku seperti mobile bayi yang masing-masing bagiannya bergerak sendiri tapi entah bagaimana saling terhubung.

Aku memejamkan mata.

Dan itulah saat ponselku bergetar.

Satu notifikasi. Dari Dinda.

Aku membukanya.

Sebuah foto.

Aku melihatnya selama mungkin tiga detik sebelum paru-paruku lupa cara bekerja.

Arkan. Di sebuah kafe — kafe yang bahkan aku kenal, pernah kami datangi berdua dua tahun lalu untuk merayakan ulang tahunnya. Duduk di meja pojok dekat jendela. Tertawa. Dengan cara yang sudah lama tidak kutahu ia masih bisa melakukannya.

Dan di seberangnya — seorang perempuan. Wajahnya tidak sepenuhnya tertangkap kamera. Tapi tangannya ada di atas meja. Dekat. Terlalu dekat untuk sekadar rekan kerja.

Di bawah foto itu, Dinda menulis satu kalimat.

Hanya satu.

*'Aku mau tanya sesuatu, Ra. Tapi aku takut jawabannya.'*

Aku menatap layar itu lama.

Jempolku bergerak ke kolom balas — berhenti.

Di kepalaku ada dua suara. Yang satu bilang: *balas. tanya. hadapi.*

Yang lain — suara yang jauh lebih lama tinggal di dalam diriku, suara yang sama yang tadi pagi meletakkan nota itu kembali ke saku jaket — bilang sesuatu yang berbeda.

*Letakkan ponselnya, Ra. Pura-pura saja fotonya tidak pernah ada.*

*Seperti yang selalu kamu lakukan.*

Jempolku masih menggantung di antara dua pilihan itu.

Dan aku tidak tahu — untuk pertama kalinya dalam lima tahun — mana yang akan aku pilih kali ini.