Naira menatap pena emas di tangannya seolah itu adalah belati beracun. Di balik kaca buram ICU, mesin monitor jantung berbunyi putus-putus, seolah menghitung mundur sisa napas ibunya.

"Ambil saja, Naira. Harga dirimu tidak akan bisa membeli nyawa," bisik Darmawan. Suaranya mengalun seperti iblis yang menawarkan kesepakatan dari dasar neraka. "Lagipula, apa yang bisa diberikan pria miskin itu padamu? Hidup melarat? Dihina ayahmu sendiri di depan umum?"

Air mata Naira jatuh menetes di atas blangko kosong yang disodorkan pengawal Darmawan. Kepalanya berdenyut nyeri. Ia benci situasi ini. Ia benci menjadi lemah. Tapi jika ibunya mati, untuk apa ia mempertahankan harga diri?

"Satu tanda tangan, Sayang," desak Darmawan. Jemari keriput pria tua itu mulai berani menyentuh bahu telanjang Naira yang kedinginan.

Naira memejamkan mata, membiarkan pertahanannya hancur. Ujung pena emas itu baru saja menyentuh permukaan kertas—

SRAAK!

Sebuah tangan kokoh merampas kertas itu dengan kasar, merobeknya menjadi serpihan kecil dalam sekejap mata.

Naira tersentak mundur. Darmawan mengumpat marah.

Baskara berdiri di sana, napasnya memburu, matanya berkilat memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Air hujan masih menetes dari ujung rambutnya, tapi suhu di sekitarnya seolah turun drastis menembekukan darah.

"Singkirkan tangan kotormu dari istriku, Bangsat," desis Baskara. Suaranya tidak keras, tapi menggetarkan udara di lorong itu.

Darmawan tertawa meremehkan, menarik jasnya yang sedikit kusut. "Oh, si pahlawan kesiangan sudah kembali. Dapat berapa hasil mengemis di jalanan? Lima puluh ribu? Asal kau tahu, istrimu baru saja mau menjual dirinya padaku."

"Baskara, aku... aku terpaksa..." Naira terisak, mencoba meraih tangan suaminya.

Baskara tidak menatap Naira, pandangannya terkunci rapat pada Darmawan. Dengan gerakan kilat, Baskara meraih kerah kemeja taipan tua itu, mengangkat tubuh gempalnya hingga ujung kakinya tidak menyentuh lantai.

"Lepaskan Bos kami!" teriak salah satu pengawal bertubuh raksasa, bersiap menerjang.

"Maju satu langkah, dan leher bos kalian patah," ancam Baskara dingin. Cengkeramannya di leher Darmawan menguat, membuat wajah pria tua itu memerah kebiruan karena kehabisan napas.

"K-kau... kau hanya lalat miskin! Aku bisa membelimu dan istrimu sekaligus!" erang Darmawan di sela cekikan, masih berusaha mempertahankan kesombongannya.

Mata Baskara menyipit tajam. "Begitukah?"

KRAK!

Baskara tidak mematahkan lehernya, tapi dengan tangan kirinya, ia memelintir pergelangan tangan Darmawan—tangan yang tadi berani menyentuh bahu Naira—hingga terdengar bunyi tulang patah yang mengerikan.

Jeritan melengking Darmawan merobek kesunyian rumah sakit. Pria tua itu jatuh berlutut di lantai sambil memegangi tangannya yang bengkok dengan sudut tidak wajar.

"Bunuh dia! Bunuh anjing itu sekarang juga!" raung Darmawan sambil menangis kesakitan.

Kedua pengawal itu mencabut tongkat besi taktis dari balik jas mereka, menatap Baskara dengan tatapan mematikan.


Dua pengawal berbadan tegap itu menerjang maju secara bersamaan. Naira menjerit histeris, "Baskara, awas!"

Bukannya mundur menghindar, Baskara justru memajukan langkah. Saat ayunan tongkat besi pertama mengarah ke pelipisnya, ia menunduk dengan akurasi milimeter. Tangannya melesat seperti cambuk, menangkis lengan si pengawal, lalu menghantamkan siku kanannya tepat ke rahang pria itu.

BUGH!

Pengawal pertama ambruk seketika dengan mata memutih, pingsan sebelum menyentuh lantai. Pengawal kedua ragu sejenak melihat kecepatan itu, tapi sudah terlambat. Baskara menendang lutut pria itu hingga patah ke belakang, lalu mencengkeram kerah jasnya dan melemparnya menabrak tempat sampah besi hingga penyok parah.

Semua itu terjadi kurang dari sepuluh detik. Tidak ada gerakan sia-sia. Bersih, brutal, dan mematikan.

Naira membekap mulutnya sendiri, menatap suaminya dengan tubuh gemetar. Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa mekanik bengkel memiliki teknik bertarung sekelas pembunuh bayaran?

Darmawan merangkak mundur, wajahnya pucat pasi melihat kedua anak buahnya terkapar tak berdaya. "K-kau... kau monster!"

Tiba-tiba, suara sirine polisi meraung dari luar gedung. Derap langkah berat dari belasan sepatu bot menggema di tangga darurat, diakhiri dengan gebrakan pintu lorong.

"Ada keributan di sini! Angkat tangan!" Empat polisi menerobos masuk, menodongkan pistol tepat ke arah Baskara.

"Pak Polisi, tangkap dia!" jerit Darmawan, seolah mendapat nyawanya kembali. "Dia mencoba membunuhku! Kalian tahu siapa aku? Aku Darmawan! Aku donatur terbesar di kepolisian distrik ini!"

Komandan polisi itu menatap Darmawan yang terluka parah, lalu menatap Baskara dengan sorot mengancam. "Borgol bajingan ini!"

Dua polisi maju, memaksa Baskara berlutut dan memasangkan borgol besi yang dingin ke pergelangannya. Baskara tidak melawan sedikit pun. Ia tahu, jika ia memukul polisi sekarang, peluru nyasar bisa saja mengenai Naira.

"Jangan! Suami saya cuma membela diri!" Naira berlari maju, menangis sambil menarik seragam komandan polisi itu. "Pria tua ini yang mencoba melecehkan saya!"

"Minggir, Nyonya. Dia harus ikut ke kantor polisi malam ini juga," bentak polisi itu kasar, mendorong bahu Naira hingga wanita itu terjerembap.

Baskara menahan napas, menatap tajam sang polisi. "Sentuh istriku sekali lagi, dan tanganmu akan bernasib sama dengan pria tua itu."

Polisi itu menelan ludah, entah kenapa merasa ngeri melihat sorot mata tajam dari pria berpakaian lusuh di bawahnya.

Baskara diseret paksa menjauh. Ia menoleh ke arah Naira yang menangis tersedu di lantai. "Naira, dengarkan aku! Bertahanlah sebentar lagi. Aku berjanji semuanya akan selesai malam ini!"

Tepat saat pintu lift tertutup membawa Baskara pergi, pintu ruang ICU terbuka dengan kasar.

Dokter keluar dengan wajah pias, sarung tangannya berlumuran darah.

"Nyonya Naira! Tekanan darah pasien drop drastis! Kami tidak bisa menunggu lagi, operasi harus dilakukan menit ini juga. Mana uang depositnya?!"