Naira bersujud di lantai koridor, mencengkeram erat ujung celana dokter yang berdiri di depannya.

"Saya mohon, Dok! Saya akan jadi pembantu seumur hidup di rumah sakit ini asalkan ibu saya dioperasi! Tolong selamatkan dia!" ratap Naira dengan suara serak. Harga dirinya sudah terkikis habis, rata dengan lantai marmer yang dingin.

Dokter itu membuang muka, mencoba menahan rasa ibanya. "Maafkan saya, Nyonya. Sistem administrasi sudah mengunci akses ruang bedah. Tanpa deposit, staf tidak berani bergerak. Ini kebijakan mutlak dari direktur utama."

Naira menangis meraung, memukul dadanya yang sesak. Di tengah keputusasaan itu, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah panggilan video masuk dari Siska. Dengan tangan gemetar dan kotor, Naira mengangkatnya.

Layar ponsel menampilkan wajah Siska yang sedang bersandar di sofa kulit mewah sambil menyesap segelas wine.

"Halo, Mbak Naira sayang," sapa Siska dengan senyum mengejek. "Gimana? Udah pesan peti mati buat ibu tiri kesayanganku itu? Kalau butuh uang buat beli kain kafan, aku bisa pinjami lima ratus ribu."

"Siska, kumohon..." cengkeraman Naira pada ponsel mengerat. "Bicara pada Papa. Ini istri yang sudah menemaninya puluhan tahun. Setidaknya beri pinjaman untuk operasi malam ini—"

"Cuih!" Siska meludah ke arah layar. "Wanita penyakitan itu pantas mati. Oh ya, kudengar suami gembelmu malah ditangkap polisi karena memukul Tuan Darmawan? Hahaha! Karma memang cepat! Sudahlah, biarkan saja ibumu mati, sekalian kamu ikut lompat dari atap rumah sakit!"

Klik. Panggilan dimatikan sepihak.

Naira menjerit frustrasi, melempar ponselnya hingga retak. Ia benar-benar sendirian. Ibu yang melahirkannya akan pergi di depan matanya hanya karena ia tidak punya uang.

Namun, tiba-tiba suara derap langkah berlari dengan panik memecah keheningan lorong rumah sakit.

"Minggir! Buka jalan!"

Direktur Rumah Sakit Medika—pria botak arogan yang biasanya hanya duduk di ruangan mewahnya—berlari terengah-engah dari arah lift. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras di dahinya, jasnya berantakan. Ia didampingi tiga kepala perawat yang tampak pucat pasi ketakutan.

"Dokter Andreas!" bentak sang Direktur dengan napas memburu. "Kenapa pasien atas nama Nyonya Wulandari belum dimasukkan ke ruang operasi VVIP?! Apakah kalian ingin kita semua dipecat dan rumah sakit ini ditutup malam ini juga?!"

Dokter Andreas terkejut bukan main. "T-tapi Dok, pihak keluarga belum membayar deposit—"

"Persetan dengan deposit!" raung sang Direktur, suaranya menggema. "Seseorang baru saja mentransfer lima miliar tunai langsung ke rekening pusat rumah sakit dengan status Priority Red!"

Naira menghentikan isakannya, menatap bingung. Lima miliar?

Sang Direktur buru-buru menunduk 90 derajat di depan Naira yang masih duduk berantakan di lantai. Ia bersikap seolah Naira adalah ratu yang harus dipuja.

"Nyonya Naira, mohon maafkan kelancangan staf kami," ucap Direktur itu dengan bibir gemetar. "Seluruh biaya telah dilunasi oleh donatur istimewa. Kami akan mendatangkan tim bedah spesialis terbaik menggunakan helikopter malam ini juga."

Naira masih ternganga shock saat pintu lift di ujung lorong kembali terbuka berdenting.

Suara ketukan sepatu hak tinggi bergema congkak. Siska melangkah keluar dengan senyum lebar penuh kemenangan.

"Tentu saja sudah dilunasi," ucap Siska lantang, menyedot perhatian semua orang. Ia menatap Naira dari atas ke bawah dengan dagu terangkat. "Pacar baruku, Tuan Muda dari ibu kota, baru saja mentransfer uang itu untuk menyelamatkan wajah keluarga ini."


"Pacarmu?" Naira menatap Siska dengan dahi berkerut, antara bingung dan muak. Namun, melihat sikap percaya diri adik tirinya, keraguannya goyah. Darimana lagi uang lima miliar itu berasal kalau bukan dari konglomerat? Jelas tidak mungkin Baskara yang hanya seorang mekanik dan kini berada di penjara.

"Iya, Nona Siska memang luar biasa!" timpal Herman Kusuma yang tiba-tiba muncul di belakang Siska, membusungkan dada dengan bangga. "Pacar Siska, Tuan Dion, adalah pewaris tambang emas di ibu kota. Dia mendengar soal mertuaku dan langsung mengutus asistennya untuk mentransfer lima miliar. Tidak sepertimu, Naira! Bersuamikan sampah yang sekarang malah mendekam di jeruji besi!"

Dada Naira bergemuruh. Kebenaran palsu bahwa ibunya diselamatkan oleh uang pacar Siska menjadi tamparan paling memalukan. Siska kembali menginjak harga dirinya, menjadikan nyawa ibunya sebagai panggung pamer kekayaan.

"Minggir kau, pembawa sial!" Siska menyenggol bahu Naira dengan kasar. "Direktur, pastikan pelayanan paling mewah untuk ibu tiri saya. Tunangan saya tidak suka uangnya dipakai untuk pelayanan kelas rendahan."

Direktur rumah sakit itu tampak bingung, menyeka keringat dingin di pelipisnya. Ia menatap layar tabletnya yang menunjukkan kode enkripsi transfer bank internasional tanpa nama, lalu melirik Naira sekilas, sebelum menunduk serba salah. "B-baik, Nona Siska."

Sementara Naira dipaksa menelan racun penghinaan itu demi ibunya, di belahan kota yang lain, suasana gelap dan mencekam menyelimuti ruang interogasi Polsek Selatan.

Baskara duduk tenang di kursi besi, tangannya diborgol ketat ke meja. Tidak ada raut ketakutan atau panik di wajahnya, hanya tatapan dingin mematikan yang menembus bayang-bayang ruangan sempit itu.

Pintu besi terbuka kasar. Kapolsek masuk membawa tongkat karet hitam di tangan kanannya, tersenyum bengis memperlihatkan gigi kuningnya.

"Kau berani mematahkan tangan Tuan Darmawan, keparat miskin," desis Kapolsek itu, menepuk-nepukkan tongkat ke telapak tangan kirinya. "Kau tahu berapa banyak uang yang Darmawan sumbangkan untuk polisiku? Malam ini, aku akan membuatmu cacat permanen sebagai tanda terima kasihku padanya."

Baskara menyandarkan punggungnya dengan santai. "Coba saja. Tapi aku jamin, sebelum tongkat murah itu menyentuh kulitku, seragammu akan dilucuti dan kepalamu akan berlubang."

"Hahaha! Menggonggonglah terus, anjing jalanan!" Kapolsek itu mengangkat tongkat karetnya tinggi-tinggi, bersiap menghantam kepala Baskara dengan sekuat tenaga.

TRRRRT! TRRRRT!

Telepon merah di meja interogasi—jalur khusus komando militer pusat yang tak pernah berbunyi selama lima tahun terakhir—tiba-tiba berdering dengan suara melengking yang memekakkan telinga.

Kapolsek menghentikan gerakannya di udara, mengerutkan kening. Dengan jengkel, ia mengangkat gagang telepon tua itu. "Halo! Saya sedang sibuk mengurus sampah, apa—"

Suaranya terputus tiba-tiba. Wajah Kapolsek yang tadinya merah padam karena amarah, perlahan memutih pucat seperti mayat. Matanya melotot lebar hingga nyaris keluar dari rongganya, menatap Baskara dengan lutut yang mendadak bergetar hebat.

Tongkat karet di tangannya terlepas, jatuh berdebum ke lantai semen.

"P-Panglima... S-siap, Jenderal! T-tapi... b-bagaimana mungkin..." suara Kapolsek itu mencicit seperti tikus terjepit, keringat dingin membanjiri seragamnya. "S-siapa pria berpakaian mekanik yang sedang saya tahan ini, Jenderal?!"