Naira menatap Siska dengan penuh kecurigaan. Adik tirinya ini tidak pernah bersikap baik padanya seumur hidup. "Apa maksudmu, Siska?"
Siska meletakkan cangkir kopinya dan meraih tangan Naira, berpura-pura iba. "Tuan Darmawan itu sebenarnya kenalan baik pacarku, Dion. Aku baru saja meneleponnya diam-diam. Tuan Darmawan bersedia mencabut tuntutan sepuluh miliar itu, asalkan..."
"Asalkan apa?!" bentak Herman tidak sabar. "Cepat katakan! Aku tidak mau perusahaanku disita gara-gara anak pembawa sial ini!"
"Asalkan Mbak Naira datang menemuinya malam ini di kamarnya, di Hotel Grand Royale. Hanya untuk meminta maaf secara langsung dan menuangkan teh untuknya. Tuan Darmawan bilang, dia hanya butuh permintaan maaf yang tulus untuk meredakan amarahnya."
"Hanya menuangkan teh?" Naira mengerutkan kening. Logikanya menolak keras. Pria hidung belang yang baru saja dilecehkan harga dirinya tidak mungkin puas hanya dengan segelas teh.
"Naira! Tunggu apa lagi?!" teriak Herman, menarik paksa lengan Naira hingga wanita itu berdiri. "Cepat pergi ke hotel itu dan mengemis padanya! Ini salah suamimu, kau yang harus bertanggung jawab! Kalau kau menolak, aku sendiri yang akan memastikan ibumu diusir dari ruang VVIP ini malam ini juga!"
Ancaman itu adalah titik lemah mutlak Naira. Ia menatap ke arah pintu ruang perawatan tempat ibunya terbaring lemah. Jika ia menolak, ibunya mati. Jika ia pergi, ia masuk ke kandang singa.
"Baik," bisik Naira, suaranya bergetar menahan tangis kehancuran. "Aku akan pergi."
Herman setengah mendorong Naira keluar dari ruang tunggu. Begitu punggung Naira menghilang di balik pintu lift, raut sok prihatin di wajah Siska seketika menguap, digantikan oleh tawa melengking yang mengerikan.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan panggilan cepat.
"Halo, Tuan Darmawan? Umpannya sudah menggigit," ucap Siska sambil menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Dia sedang menuju kamarmu sekarang. Jangan lupa, kesepakatan kita. Proyek Dermaga Selatan jatuh ke tangan perusahaanku besok pagi."
Dari seberang telepon, terdengar tawa serak yang menjijikkan. "Tentu saja, Siska sayang. Malam ini, aku akan menghancurkan wanita sombong itu sampai dia memohon untuk mati."
Siska mematikan telepon, tersenyum puas. "Selamat tinggal, Naira. Besok pagi, kau hanya akan menjadi sampah yang rusak."
Kamar Presidential Suite di lantai tertinggi Hotel Grand Royale itu beraroma cerutu dan alkohol yang menyengat. Naira berdiri kaku di tengah ruangan, mencengkeram erat ujung bajunya yang masih setengah basah.
Di sofa beludru merah di depannya, Darmawan duduk menyandarkan tubuh gempalnya. Tangan kanannya dibalut gips putih tebal, digantung di lehernya. Di belakangnya, dua pengawal berbadan raksasa berdiri seperti patung algojo.
"Akhirnya kau datang merangkak padaku, jalang," seringai Darmawan, matanya yang kemerahan menatap rakus setiap lekuk tubuh Naira. "Menuangkan teh? Hahaha! Adik tirimu memang aktris yang hebat."
Darah Naira berdesir dingin. Siska benar-benar menjualnya!
"S-saya ke sini hanya untuk meminta maaf mewakili Baskara," ucap Naira, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Cabut tuntutan Anda, dan kita impas."
"Impas?" Darmawan tertawa keras hingga wajahnya memerah. "Suamimu mematahkan tulangku, mempermalukanku di depan umum! Kau pikir itu bisa dibayar dengan maaf? Malam ini, kau akan membayarnya dengan tubuhmu! Kunci pintunya!"
KLIK!
Suara kunci elektronik dari pintu utama memutus jalan keluar Naira. Kepanikan meledak di dadanya. Ia mundur selangkah, lalu berbalik dan berlari menuju pintu, memukul-mukul kayu tebal itu dengan putus asa. "Tolong! Tolong buka!"
"Percuma berteriak. Seluruh lantai ini sudah kusewa. Tidak akan ada yang datang menolongmu!" Darmawan memberi isyarat dengan kepalanya. "Pegang dia dan sobek bajunya!"
Kedua pengawal raksasa itu melangkah maju. Naira mundur ke arah meja konsol, tangannya meraba-raba mencari senjata. Jarinya menyentuh sebuah vas bunga kristal yang berat.
Tanpa berpikir panjang, Naira menghantamkan vas itu ke ujung meja hingga pecah berantakan. Ia memungut pecahan kaca paling tajam dan mengarahkannya langsung ke lehernya sendiri.
"Berhenti di sana!" jerit Naira, matanya liar dan penuh air mata. Ujung kaca itu menekan kulit lehernya, memunculkan segaris darah segar. "Maju satu langkah lagi, dan kalian hanya akan mendapatkan mayatku malam ini!"
Langkah kedua pengawal itu terhenti. Darmawan mendengus kesal, bangkit dari sofa dengan susah payah. "Berani kau mengancamku? Coba saja potong lehermu! Biar kulihat bagaimana suamimu membusuk di penjara besok pagi!"
Tangan Naira bergetar hebat. Keputusasaan menelannya bulat-bulat. Ia memejamkan mata, bersiap menekan kaca itu lebih dalam untuk mengakhiri segalanya.
Namun, sebelum kaca itu merobek nadinya, sebuah ledakan memekakkan telinga menggetarkan seluruh lantai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar