"J-Jenderal... B-bagaimana bisa?" Suara Kapolsek itu tercekat di tenggorokan. Tongkat karet di tangannya telah jatuh menggelinding di lantai berdebu. Wajahnya yang arogan seketika berubah seperti mayat hidup.

Suara berat dan penuh amarah meledak dari speaker telepon merah itu, menggema di ruang interogasi yang sempit.

"Kau bosan hidup, Haryo?! Pria yang kau borgol itu adalah Baskara Adyatama! Pewaris tunggal Adyatama Group! Lepaskan dia detik ini juga, atau kau dan seluruh keturunanmu akan kuhapus dari peta negara ini!"

Kaki Kapolsek Haryo kehilangan tenaga. Ia ambruk, bersujud tepat di ujung sepatu kets Baskara yang lusuh. Keringat dinginnya menetes ke lantai. "A-ampun... Tuan Muda. S-saya buta huruf! Saya tidak tahu siapa Anda! Tolong ampuni nyawa saya!"

Baskara menatap pria berseragam itu dengan jijik. "Buka borgolku."

Dengan tangan gemetar hebat, Haryo merogoh kunci dan melepaskan borgol besi itu. Pergelangan tangan Baskara sedikit memerah.

"Dengarkan aku baik-baik," desis Baskara, mencengkeram kerah seragam Haryo hingga pria itu nyaris tercekik. "Identitasku malam ini tidak boleh bocor. Jika ada satu kata saja keluar dari mulut anjingmu tentang siapa aku, lidahmu akan kupotong."

"S-siap, Tuan! Saya bersumpah! Saya akan bilang Anda dibebaskan karena kurang bukti!" ratap Haryo sambil menangis.

Baskara menghempaskan pria itu bak sampah, lalu melangkah keluar dari polsek. Hujan deras menyambutnya di halaman depan. Namun, sebuah payung hitam besar segera menaunginya.

Seorang pria jangkung berjas rapi membungkuk hormat. "Tuan Muda, helikopter medis telah tiba di rumah sakit. Nyonya Wulandari sedang dioperasi."

"Bagus, Leo," sahut Baskara dingin.

"Namun ada masalah lain, Tuan," suara Leo memberat. Pria itu menyodorkan sebuah tablet yang menampilkan rekaman CCTV real-time. "Siska Kusuma baru saja menelepon Darmawan. Dia menjebak Nyonya Naira ke Hotel Grand Royale malam ini sebagai ganti investasi proyek ayahnya."

Udara di sekitar Baskara mendadak terasa membeku. Matanya berkilat sekelam malam tanpa bintang. "Siapkan pasukan bayangan. Malam ini, aku akan merobohkan hotel itu beserta isinya."


Ruang tunggu VVIP Rumah Sakit Medika terasa canggung. Naira duduk memeluk lututnya di sofa berlapis kulit, matanya merah dan kosong menatap pintu ruang operasi. Ibunya selamat, tapi pertanyaan besar masih menghantuinya. Dari mana uang lima miliar itu berasal?

"Coba kau lihat ruangan ini, Naira. Karpet wol, sofa kulit asli, kopi impor," sindir Siska sambil menyesap kopinya dengan gaya elegan yang dibuat-buat. "Inilah kelas sosial yang sebenarnya. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh suami gembelmu itu."

Herman Kusuma, yang duduk di sebelah Siska, mendengus angkuh. "Untung saja pacarmu, Tuan Dion, sangat bermurah hati, Siska. Kalau menunggu mekanik miskin itu, ibumu sudah masuk liang lahat sekarang, Naira! Kau harus segera menceraikannya!"

"Baskara tidak miskin hati, Pa!" bantah Naira dengan suara serak, berani menatap ayahnya. "Dia membela kehormatanku saat Tuan Darmawan—"

"Tuan Darmawan adalah kolega bisnisku!" potong Herman membentak. "Kau yang merayunya, kan?! Membawa sial saja!"

Tiba-tiba, pintu ruang tunggu didorong terbuka dengan kasar. Tiga pria berjas masuk. Yang memimpin adalah seorang pengacara berkacamata dengan raut wajah licik.

"Keluarga Kusuma?" sapa pengacara itu dingin. Ia melemparkan sebuah map tebal ke atas meja kaca di depan Naira. "Saya kuasa hukum Tuan Darmawan. Klien saya mengalami patah tulang permanen akibat serangan brutal suami Anda, Nyonya."

Naira menahan napas. "S-suami saya hanya membela diri!"

"Di mata hukum, buktinya adalah klien saya yang cacat!" balas pengacara itu tajam. "Klien saya menuntut ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah malam ini juga. Jika tidak, Baskara akan membusuk di penjara dengan dakwaan percobaan pembunuhan terencana, dan kami akan menyita aset Keluarga Kusuma sebagai jaminan!"

Herman pucat pasi. "A-apa?! Kenapa perusahaan saya dibawa-bawa?! Ini murni kesalahan mekanik gembel itu!"

"Sepuluh miliar..." Naira bergumam putus asa. Dunia seolah kembali runtuh menimpanya.

Siska melirik pengacara itu sekilas, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum iblis yang disembunyikan di balik cangkir kopinya. "Mbak Naira," panggilnya dengan nada sok prihatin, "Sepertinya aku tahu cara menyelamatkan suamimu tanpa harus membayar sepuluh miliar."