Rumah selalu punya bau.

Setiap rumah menyimpan identitasnya sendiri — campuran sabun cuci, bedak bayi, kayu lemari, dan sisa masakan pagi.

Dan rumahku… biasanya berbau vanila.

Aku bahkan bisa mengenalinya sebelum pintu terbuka penuh.

Tapi sore itu, ketika kunci berputar pelan di lubangnya, hidungku menangkap sesuatu yang asing.

Bukan bau tamu.

Bukan bau makanan.

Bau perempuan.

Aku berhenti di ambang pintu.

Ruang keluarga tampak seperti biasa. Karpet penuh mainan bayi. Botol susu tergeletak di meja. Baby monitor menyala dengan lampu kecil berkedip pelan.

Normal.

Terlalu normal.

Tangisan kecil terdengar dari kamar.

Adit.

Aku langsung berjalan cepat ke dalam. Naluri seorang ibu selalu lebih dulu dari pikiran.

Pintu kamar bayi setengah terbuka.

Lala berdiri di samping boks, menggoyang pelan sambil bersenandung lirih. Tangannya terlatih. Gerakannya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru dua bulan bekerja di rumah ini.

“Udah bangun ya, Sayang…” suaranya lembut.

Adit berhenti menangis begitu melihatku. Tangannya terulur, kecil dan gemetar.

Aku menggendongnya. Tubuh mungil itu menempel di dadaku, hangat dan akrab. Bau susu dan minyak telon menyatu.

Di balik bahuku, aku melihat Arvin berdiri di pintu kamar.

Ia tersenyum.

“Dia rewel dari tadi,” katanya. “Untung ada Lala.”

Untung ada Lala.

Kalimat itu sederhana. Wajar.

Entah kenapa terdengar seperti sesuatu yang lebih dari sekadar bantuan.

Aku tersenyum tipis. “Aku bisa.”

“Ya, tapi kamu capek kerja.”

Lala menunduk sopan. “Saya cuma bantu, Mbak.”

Wangi parfumnya samar lewat di udara.

Dan di detik itu aku sadar.

Itu bau yang menyambutku di pintu tadi.

Bukan vanila.

Bukan rumahku.



Malam turun pelan bersama hujan tipis.

Adit akhirnya tidur setelah menyusu. Nafasnya kecil, teratur. Monitor bayi menyala di nakas kamar kami.

Arvin mandi.

Lala belum kembali ke kamarnya.

Aku berdiri di lorong. Tidak ada alasan jelas untuk melangkah ke kamar Lala. Tidak ada keperluan mendesak.

Tapi perasaan aneh sejak sore tadi belum juga reda.

Pintunya tidak tertutup rapat.

Lampu kamar menyala temaram.

Aku mengetuk pelan. Tidak ada jawaban.

Dorong sedikit.

Kosong.

Di meja kecil dekat ranjang, ada botol vitamin. Air mineral setengah kosong. Sebuah tas kecil terbuka.

Dan di dalamnya— sesuatu yang membuat napasku tertahan.

Benda putih kecil.

Dua garis merah.

Tanganku terasa dingin.

Testpack.

Aku tidak menyentuhnya.

Tidak perlu.

Dua garis itu sudah cukup jelas bahkan dari jarak satu meter.

Suara air kamar mandi berhenti.

Refleks, aku melangkah mundur keluar kamar tepat saat Lala muncul dari ujung lorong dengan rambut basah.

Ia sedikit terkejut melihatku.

“Mbak? Ada yang dicari?”

Aku menahan wajahku tetap netral.

“Botol susu Adit mungkin ketinggalan di sini.”

“Oh, nggak, Mbak. Tadi saya sudah cuci.”

Aku mengangguk.

Saat ia lewat menuju kamarnya, aku melihatnya sekilas.

Baju tidurnya longgar. Tidak ada yang mencolok. Tidak ada yang jelas.

Tapi tubuh perempuan yang sedang mengandung selalu membawa perubahan kecil.

Sangat kecil.

Cukup untuk mata yang gelisah.



Di kamar, Arvin sudah duduk di tepi ranjang. Rambutnya masih basah.

“Kenapa lama?” tanyanya santai.

“Cuma cek Adit.”

Ia mengangguk.

“Aku besok berangkat pagi. Ada site visit.”

Biasanya ia menjelaskan panjang lebar. Lokasi. Durasi. Detail proyek.

Malam ini hanya satu kalimat.

Aku berbaring di sisi ranjang, menjaga jarak kecil yang tak pernah ada sebelumnya.

Baby monitor berdengung halus di antara kami.

Rumah terasa sunyi, padahal hujan masih turun.

Arvin mematikan lampu.

Tangannya tanpa sadar menyentuh lenganku. Hangat. Familiar.

Aku menatap gelap.

Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi istri—

aku merasa ada sesuatu yang tumbuh di rumah ini.

Sesuatu yang bukan milikku.

Dan aku belum tahu…

milik siapa.