Rania tidak langsung menutup kotak vitamin itu.

Ia hanya berdiri di depan kulkas yang masih terbuka, udara dinginnya mengalir pelan menyentuh wajahnya. Tangan kirinya menggenggam strip kosong, sementara tangan kanannya bertumpu di pintu kulkas seolah butuh sesuatu untuk menahan tubuhnya tetap tegak.

Dua minggu lalu.

Hari Arvin pulang hampir tengah malam.

Hari ketika ia berkata rapat dengan klien dari luar kota.

Hari ketika Rania tertidur di sofa menunggunya… dan bangun saat mendengar suara pintu kamar mandi.

Basah.

Bukan karena hujan.

Ia ingat detail kecil itu sekarang.

Dulu ia tak bertanya.

Hari ini… ia tak bisa berhenti mengingat.

Rania menutup kulkas.

Klik kecil terdengar lebih keras dari seharusnya.

Siang menjelang, rumah terasa terlalu tenang.

Adit akhirnya tidur setelah hampir satu jam rewel. Lala menepuk-nepuk punggungnya pelan di kamar bayi, bersenandung lirih. Rania berdiri di luar pintu — tidak masuk, hanya memperhatikan dari celah kecil.

Ada sesuatu yang berbeda.

Cara Lala menggendong Adit bukan seperti pengasuh yang masih canggung. Terlalu pas. Terlalu naluriah. Ia bahkan tahu kapan harus berhenti menepuk sebelum Adit benar-benar terbangun.

Gerakan yang biasanya hanya dimiliki seorang ibu… atau seseorang yang sering melakukannya.

Rania mundur selangkah sebelum lantai berderit.

Ia kembali ke ruang tengah.

Meja kerja Arvin berada di sudut ruang keluarga — tempat yang jarang ia sentuh. Bukan karena dilarang, tapi karena tak pernah perlu.

Hari ini berbeda.

Laptop Arvin tidak ada.

Tapi tas kerjanya tertinggal.

Rania menatapnya cukup lama.

Jantungnya berdetak lebih cepat — bukan karena takut ketahuan… tapi karena ia tahu ia sedang melewati garis yang tak pernah ia sentuh selama pernikahan mereka.

Ia membuka resleting perlahan.

Dompet.

 Pulpen.

 Kartu parkir.

Dan sebuah amplop kecil dari klinik.

Rania tidak langsung menariknya keluar. Ia hanya membaca nama klinik yang tercetak di pojok.

Klinik Kandungan Bunda Sehat.

Napasnya tertahan.

Tangannya akhirnya bergerak.

Di dalam amplop ada selembar kertas hasil pemeriksaan.

Bukan miliknya.

Nama pasien tertulis jelas.

Lala Ayuningtyas

Tanggal pemeriksaan: tiga belas hari lalu.

Usia kehamilan: 6 minggu.

Rania tidak menyadari kapan ia duduk.

Tiba-tiba saja ia sudah berada di sofa, kertas itu bergetar di tangannya. Rumah tetap sunyi — terlalu sunyi untuk sesuatu yang baru saja mengubah bentuk dunia di kepalanya.

Enam minggu.

Rania menghitung tanpa sadar.

Enam minggu lalu Arvin dinas dua hari ke Bandung.

Ia ingat karena Adit demam malam itu… dan Arvin tak bisa pulang.

Atau tidak pulang.

Pintu kamar bayi terbuka.

Rania langsung melipat kertas itu, memasukkannya kembali ke amplop, lalu ke dalam tas — tepat sebelum Lala keluar sambil mengusap bahunya.

“Adit udah tidur,” katanya pelan.

Rania mengangguk.

Ia tidak tahu wajah seperti apa yang sedang ia pakai sekarang, tapi Lala menatapnya sedikit lebih lama dari biasanya.

“Mbak… sehat?”

Pertanyaan sederhana.

Namun untuk pertama kalinya Rania melihat sesuatu di mata gadis itu.

Bukan kepolosan.

Bukan ketulusan.

Melainkan kewaspadaan.

Seolah Lala sedang memastikan sesuatu.

Rania berdiri.

“Lala.”

“Iya, Mbak?”

Hening sepersekian detik.

Banyak kalimat muncul di kepala Rania — semua bisa mengakhiri segalanya hari ini.

Tapi tidak satu pun keluar.

Sebagai gantinya ia berkata pelan,

“Nanti sore temani aku ke supermarket, ya. Kita belanja kebutuhan Adit.”

Lala terlihat sedikit terkejut… lalu mengangguk.

“Iya, Mbak.”

Rania berjalan melewatinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Bukan bertanya.

Belum.

Ia perlu melihat… seberapa jauh kebohongan ini sudah berjalan.

Di belakangnya, Lala berdiri diam.

Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri — singkat, hampir refleks.

Gerakan kecil.

Namun cukup bagi seseorang yang kebetulan menoleh di cermin ruang tamu.

Rania melihatnya.

Dan kali ini, ia tidak ragu lagi.

Masalahnya bukan apakah Arvin berkhianat.

Tapi sejak kapan mereka berdua berhenti menyembunyikannya