Sore turun perlahan, meninggalkan cahaya pucat di jendela ruang tamu.
Rania sudah siap sejak lima belas menit lalu.
Tas kecilnya tergantung di bahu, dompet di tangan, kunci mobil di meja.
Ia hanya menunggu satu hal.
Lala.
Gadis itu keluar dari kamar dengan baju yang berbeda dari biasanya — bukan kaus rumah yang longgar, melainkan blus sederhana berwarna krem. Rambutnya disisir rapi, bahkan memakai lip balm tipis.
Bukan berlebihan.
Tapi juga bukan seperti seseorang yang hanya menemani belanja popok.
“Kita berangkat sekarang, Mbak?” tanyanya.
Rania mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada percakapan lain sampai mereka duduk di mobil.
Perjalanan menuju supermarket hanya lima belas menit. Biasanya terasa singkat. Hari ini… terlalu panjang.
Rania menyetir pelan.
Ia tidak menyalakan musik.
Keheningan di antara mereka bukan canggung — lebih seperti dua orang yang sama-sama menunggu siapa yang akan lebih dulu bicara… atau lebih dulu salah.
Lampu merah pertama.
Rania berhenti.
Tangannya tetap di setir, matanya lurus ke depan.
“Kamu dari mana sebelum kerja di sini, La?”
Pertanyaan itu keluar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang sudah dipikirkannya sejak pagi.
Lala sedikit terkejut, tapi menjawab cepat.
“Dari Bekasi, Mbak. Ikut tante dulu.”
“Tante yang nyaranin kerja ke sini?”
“Iya… temennya tante kenal Bu Rika, agen penyalur.”
Bu Rika memang nama yang tercatat di kontrak.
Sesuai.
Tidak salah.
Namun Rania tetap bertanya,
“Udah pernah kerja di rumah lain sebelumnya?”
“Belum.”
Lampu berubah hijau.
Mobil kembali berjalan.
Rania mengangguk kecil.
“Cepat ya belajarnya. Kamu langsung ngerti kebiasaan Adit.”
Hening.
Sangat tipis — tapi cukup membuat napas Lala tertahan sepersekian detik.
“Adit anaknya gampang ditebak, Mbak.”
Rania menoleh sekilas.
Tidak ada senyum di wajahnya.
“Bahkan jam bangunnya malam?”
Lala tidak langsung menjawab.
Hanya dua detik.
Tapi dua detik yang terlalu lama untuk pertanyaan sederhana.
“Aku… sering denger bayi nangis tetangga dulu, Mbak.”
Jawaban yang terdengar masuk akal.
Namun tidak menjelaskan kenapa ia tahu Adit selalu bangun tepat pukul dua lewat lima.
Jam yang bahkan Arvin sering lupa.
Mereka tiba di supermarket.
Troli didorong perlahan melewati lorong kebutuhan bayi. Rania mengambil popok, susu, tisu basah — rutinitas yang biasa ia lakukan tanpa berpikir.
Hari ini ia memperhatikan hal lain.
Lala berjalan sedikit lebih pelan.
Tangannya beberapa kali menyentuh perutnya — kecil, seperti refleks menahan pegal.
Rania pura-pura fokus membaca label susu.
“Capek?”
“Enggak, Mbak.”
Jawaban cepat.
Terlalu cepat.
Di kasir, antrean cukup panjang. Rania berdiri di depan, Lala di belakangnya.
Seorang ibu hamil lewat di samping mereka, perutnya mulai terlihat.
Lala tanpa sadar menatap cukup lama.
Tangannya kembali bergerak ke perutnya.
Kali ini lebih jelas.
Rania tidak menoleh.
Namun dari pantulan kaca freezer di depan, semuanya terlihat.
Setelah beberapa detik, Lala menyadari… lalu menjatuhkan tangannya.
Terlambat.
Di parkiran, matahari hampir tenggelam.
Rania memasukkan belanjaan ke bagasi. Lala membantu, tapi gerakannya lebih hati-hati dari biasanya.
Saat Rania menutup bagasi, ia akhirnya berbicara.
“Nanti malam Arvin pulang jam berapa ya kira-kira.”
Bukan pertanyaan.
Lebih seperti umpan.
Lala menegang sangat halus.
“Biasanya… jam tujuh, Mbak.”
Biasanya.
Bukan “aku tidak tahu”.
Rania menatapnya sekarang.
Tatapan datar, tanpa emosi.
“Kamu hafal ya.”
Lala terdiam.
Udara sore terasa lebih berat.
Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab pelan,
“Sering lihat Mas pulang… jadi kebiasaan.”
Rania mengangguk.
Ia membuka pintu mobil.
Namun sebelum masuk, ia berkata pelan — hampir seperti berbicara pada diri sendiri.
“Enam minggu itu cepat ya.”
Tubuh Lala membeku.
Tidak bergerak.
Tidak bertanya balik.
Tidak menyangkal.
Dan reaksi itulah yang lebih jujur daripada jawaban apa pun.
Rania masuk ke mobil.
Mesin dinyalakan.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada lagi percakapan.
Tapi sekarang… mereka berdua tahu.
Pertanyaannya bukan lagi apakah rahasia itu ada.
Melainkan siapa yang akan lebih dulu mengatakannya keras-keras.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar