Pagi datang terlalu cepat.

Rania sudah terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Bukan karena cukup tidur — justru karena ia hampir tidak tidur sama sekali.

Langit masih kelabu ketika ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai kamar yang dingin. Sisa hujan semalam masih menempel di udara, membuat rumah terasa lembap… dan entah kenapa, lebih asing dari biasanya.

Arvin masih terlelap di sebelahnya.

Posisinya berubah — kini membelakangi Rania.

Dulu, itu posisi favoritnya. Arvin selalu bilang ia tidur lebih nyenyak saat punggung mereka bersentuhan. Tapi sekarang, jarak kecil itu terasa seperti garis yang tak boleh dilewati.

Rania menatapnya cukup lama.

Mencari sesuatu.

Penyesalan?

 Ketakutan?

 Atau sekadar tanda bahwa ia terlalu jauh berpikir?

Tak ada.

Wajah Arvin tampak damai. Terlalu damai.

Dan justru itu yang membuat dada Rania terasa berat.

Ia berdiri pelan agar tidak membangunkan suaminya, lalu keluar kamar.

Aroma susu hangat sudah memenuhi dapur.

Rania berhenti di ambang pintu.

Lala berdiri di sana — membelakanginya — sambil menuangkan susu ke dalam gelas kecil berwarna biru milik Adit. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh ke pipinya. Ia tampak… nyaman.

Terlalu nyaman untuk seseorang yang baru bekerja tiga bulan.

“Aku bisa lanjut,” kata Rania.

Lala menoleh cepat. Sedikit terkejut, lalu tersenyum.

“Oh, Mbak Rania. Aku kira Mbak masih tidur.”

Rania tidak menjawab. Ia hanya berjalan masuk dan mengambil sendok dari rak.

Lala menyerahkan gelas susu tanpa diminta.

Gerakan refleks.

Seolah itu rutinitas mereka setiap pagi.

Padahal tidak.

Biasanya Rania yang menyiapkan semuanya.

“Mas Arvin belum bangun?” tanya Lala ringan.

Sendok di tangan Rania berhenti sesaat sebelum menyentuh gelas.

Belum bangun.

Pertanyaan biasa.

 Nada biasa.

Tapi entah kenapa terdengar seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya.

“Belum,” jawab Rania pendek.

Hening.

Hanya suara kompor kecil dan napas mereka.

Rania menatap permukaan susu yang berputar pelan. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya tidak di dapur.

Ia mengingat sesuatu.

Tiga minggu lalu.

Lala pernah bilang ia alergi susu sapi.

Tapi semalam — Rania melihatnya minum susu dari kulkas langsung, sambil tertawa bersama Arvin.

Saat itu ia tidak berpikir apa-apa.

Sekarang, detail kecil itu terasa… tidak pada tempatnya.

“Adit semalam tidur nyenyak?” tanya Rania.

“Iya. Jam dua sempat bangun bentar, tapi langsung tidur lagi.”

Jam dua.

Rania menoleh perlahan.

“Jam dua?”

“Iya…,” Lala mengangguk cepat, lalu seperti sadar sesuatu. “Eh… maksudnya… aku cek monitor bayi.”

Monitor bayi.

Rania tidak menjawab.

Karena ia tahu sesuatu.

Monitor bayi rusak sejak dua hari lalu.

Ia belum sempat memperbaikinya.

Dan hanya ia yang tahu itu.

Langkah kaki terdengar dari tangga.

Arvin turun sambil merapikan lengan kemejanya.

“Kopi ada?” tanyanya santai.

Lala langsung bergerak mengambil cangkir.

Gerakan cepat.

Hafal.

Tanpa bertanya gula berapa, tanpa bertanya mau panas atau hangat.

Rania menatap itu semua dalam diam.

Arvin menerima kopi, lalu meneguknya.

“Pas,” katanya singkat.

Tak ada yang aneh.

Tapi juga… terlalu pas.

Rania tiba-tiba merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.

Saat Arvin berangkat kerja, ia mencium kening Rania seperti biasa.

Rutinitas lama.

Tapi ada jeda kecil sebelum ia melakukannya.

Sangat kecil.

Hampir tak terlihat.

Namun cukup bagi seseorang yang mengenalnya selama tujuh tahun.

Setelah pintu tertutup, Rania berdiri lama di ruang tamu.

Rumah kembali sunyi.

Lala sedang menidurkan Adit di kamar bayi.

Rania berjalan menuju dapur.

Lalu membuka kulkas.

Kotak vitamin kehamilan ada di sana.

Ia mengeluarkannya.

Satu strip kosong.

Bukan miliknya.

Karena ia tidak pernah mengonsumsi itu sejak Adit lahir.

Tanggal pembelian masih menempel di label apotek.

Dua minggu lalu.

Hari ketika Arvin pulang lebih malam dari biasanya.

Rania menutup kulkas perlahan.

Untuk pertama kalinya, pertanyaannya semalam berubah.

Bukan lagi anak siapa yang ditunggu di rumah ini.

Tapi…

Sejak kapan ia bukan satu-satunya perempuan dalam kehidupan suaminya?