Televisi masih menyala.

Aku tidak tahu sejak kapan acara yang ditonton Arvin berganti. Cahaya biru dari layar berkedip pelan di wajahnya. Tangannya bersandar di sandaran sofa, hampir menyentuh pundakku — tapi tidak benar-benar.

Jarak satu jengkal.

 Jarak yang baru terasa malam ini.

“Aku bikinin teh hangat?” tanyaku.

Aku tidak haus.

 Tapi diam di sebelahnya terasa lebih sulit.

Arvin mengalihkan pandangan dari layar. “Nggak usah, kamu capek. Duduk aja.”

Biasanya aku akan menurut.

Malam itu aku berdiri.

“Aku pengen,” jawabku pelan.

Di dapur lampu hanya sebagian yang menyala. Hujan menitik di kaca jendela, ritmenya stabil seperti detak jam.

Aku membuka lemari cangkir.

Ada tiga cangkir di rak pengering.

Satu milikku.

 Satu milik Arvin.

 Satu lagi — bukan milik siapa-siapa.

Cangkir kecil bergambar daun, baru. Kami tidak pernah beli itu.

Tanganku berhenti di udara beberapa detik.

“Kak Lala suka minum teh malam?” tanyaku tiba-tiba saat dia masuk dapur mengambil botol air minum.

Ia tampak sedikit kaget, lalu tersenyum. “Kadang, Mbak. Kalau dingin.”

Aku mengangguk.

 Air mendidih pelan.

“Di rumah dulu juga suka?” tanyaku lagi, seolah obrolan biasa.

“Jarang, sih… dulu nggak sempat.”

Aku menuang air ke dua cangkir.

 Tidak ke yang bergambar daun.

“Kalau hamil biasanya gampang kedinginan,” ucapku ringan, menatap uap air.

Sunyi.

Sendok di tangan Lala berhenti bergerak.

Hanya sepersekian detik.

Tapi cukup.

Ia terkekeh kecil. “Iya juga ya, Mbak… eh— maksudnya— iya sih, orang hamil.”

Aku tersenyum tipis tanpa melihatnya.

Ketika aku kembali ke ruang keluarga, Arvin mematikan televisi.

“Adit udah tidur?”

“Udah.”

Aku menyerahkan tehnya.

Ia menerimanya, tapi tidak langsung minum.

“Besok aku berangkat pagi,” katanya. “Ada site visit.”

Biasanya ia akan menjelaskan panjang. Lokasi, proyek, siapa kliennya.

Sekarang cuma satu kalimat.

Aku duduk di ujung sofa.

“Berapa hari?”

“Belum tahu.”

Aku mengangguk.

 Menyesap teh yang terlalu panas.

Lidahku perih, tapi aku tidak bereaksi.

Arvin akhirnya minum juga.

Ia menatapku sebentar.

“Ada apa?”

“Kenapa?”

“Kamu diem banget dari tadi.”

Aku tersenyum. “Capek.”

Ia menatap lebih lama, seperti mencoba membaca sesuatu — lalu mengangguk kecil.

“Tidur yuk.”

Di kamar, lampu mati lebih cepat dari biasanya.

Arvin sudah terbaring membelakangiku. Napasnya pelan, teratur.

Aku menatap langit-langit.

Biasanya aku bisa tidur hanya dengan mendengar napasnya.

 Malam ini, suara itu terasa seperti milik orang asing yang kebetulan berada di kasur yang sama.

Ponselnya bergetar.

Sekali.

Ia tidak bergerak.

Aku menunggu beberapa detik.

 Lalu meraih pelan dari nakasnya.

Layar menyala.

1 pesan baru

Nama pengirimnya tidak disimpan.

Hanya nomor.

Preview pesan muncul sebelum layar terkunci lagi.

Aku udah minum obatnya.

Tanganku kaku.

Tidak ada nama.

 Tidak ada emoji.

 Tidak ada konteks.

Aku meletakkan kembali ponsel itu di tempat semula.

Beberapa detik kemudian Arvin bergerak sedikit — cukup untuk membuat jarak di antara kami semakin kecil.

Tangannya tanpa sadar menyentuh pergelangan tanganku.

Hangat.

Akrab.

Dan untuk pertama kalinya… terasa salah.

Aku menutup mata.

Hujan masih turun.

Dan di kepalaku, satu pikiran muncul pelan — bukan tuduhan, bukan kesimpulan.

Sebuah pertanyaan.

Jika bukan milikku…

 anak siapa yang sedang ditunggu di rumah ini?