Laksmi tidak pernah menyangka bahwa aroma laut yang dahulu ia cintai kini berubah menjadi bau tembaga yang menyesakkan. Di teras rumah panggung yang kayunya sudah mulai keropos dimakan usia dan uap garam, ia duduk bersimpuh. Di pangkuan, Gendis, bocah perempuan berusia empat tahun yang rambut jagungnya mulai kusam, tertidur lelap. Napas bocah itu teratur, namun sesekali ia mengigau pelan, mungkin bermimpi tentang perut yang kenyang.

Di halaman yang hanya berupa tanah kering berpasir, Bayu, kakaknya, sedang jongkok sendirian. Bocah laki-laki berusia tujuh tahun itu tidak mengejar kupu-kupu; tidak ada bunga yang sanggup tumbuh di tanah sepayau ini. Ia hanya menusuk-nusuk cangkang kepiting mati dengan ranting kayu, matanya redup, seolah energinya telah habis diserap oleh terik matahari pesisir yang baru saja terbenam.

"Bayu, ajak adikmu masuk. Angin laut sudah mulai jahat," suara Laksmi parau, hampir hilang ditelan debur ombak di kejauhan.

Bayu menoleh, memberikan senyum tipis yang terlalu dewasa untuk usianya. Ia bangkit, membersihkan debu di celana pendeknya yang sudah kehilangan warna aslinya. Dengan cekatan, ia membantu ibunya memindahkan Gendis ke dalam rumah. Rumah itu kecil, hanya terdiri dari satu ruang utama yang merangkap dapur dan satu kamar dengan dipan kayu yang miring.

Saat memandikan kedua anaknya di balik sekat bambu yang hanya setinggi dada, hati Laksmi seperti diremas. Air di dalam drum plastik itu tinggal sedikit, berwarna agak keruh dan berbau kaporit tajam. Ia menggosok punggung Bayu dengan potongan sabun yang sudah setipis kuku, hampir tak lagi mengeluarkan busa.

"Ibu, besok apa kita bisa makan telur?" tanya Bayu tiba-tiba saat Laksmi menyiramkan air ke bahunya yang menonjolkan tulang.

Laksmi terdiam. Gerakan tangannya terhenti sesaat. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Di dapur, gentong berasnya sudah benar-benar kosong. Tadi pagi, ia hanya mampu memasak kerak nasi yang dicampur sedikit garam untuk mereka bertiga. Tidak ada telur, tidak ada sayur, bahkan tidak ada lagi janji yang bisa ia berikan.

"Kita lihat nanti ya, Nak. Sekarang tidur dulu supaya tidak terasa lapar," bisiknya, mencium puncak kepala Bayu yang basah.

Setelah anak-anaknya terlelap di atas tikar pandan yang sobek di sana-sini, Laksmi duduk di ambang pintu. Ia menatap kegelapan laut lepas. Pikirannya melayang pada suaminya, seorang pelaut yang hilang kontak sejak badai besar dua tahun lalu. Tak ada uang pensiun, tak ada santunan. Yang tersisa hanyalah hutang pada juragan kapal yang terus berbunga.

Tiba-tiba, suara deru mesin motor memecah kesunyian. Sebuah lampu sorot terang menusuk matanya. Laksmi bangkit dengan waspada. Seorang wanita dengan pakaian rapi—terlalu rapi untuk kampung nelayan yang kumuh ini—turun dari boncengan motor dan berjalan mendekat. Namanya adalah Ibu Ratna, seorang perantara yang dikenal sebagai 'penyambung nasib' bagi orang-orang yang sudah berada di ujung tanduk.

"Laksmi, aku dengar juragan kapal akan menyita rumah ini minggu depan," suara Ratna dingin, tanpa basa-basi.

Laksmi mencengkeram kusen pintu yang kasar. "Aku akan mencicilnya, Bu. Beri aku waktu sedikit lagi."

Ratna tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas di telinga Laksmi. "Mencicil dengan apa? Dengan pasir laut? Aku punya tawaran yang jauh lebih masuk akal. Ada seorang pengusaha di kota yang mencari pengasuh untuk ibunya yang sakit. Gajinya sepuluh kali lipat dari hasilmu menjemur garam sebulan. Tapi..."

Ratna menggantung kalimatnya, matanya menatap tajam ke dalam rumah yang temaram. "Kau harus berangkat malam ini juga. Dan kau tidak boleh membawa anak-anakmu. Mereka harus dititipkan di panti asuhan milik yayasan kami sampai kontrakmu selesai."

Dunia seolah runtuh menimpa bahu Laksmi. Meninggalkan Bayu dan Gendis? Di tempat asing? Itu sama saja dengan mencabut separuh nyawanya. Namun, bayangan wajah lapar Bayu saat menanyakan telur tadi sore menghantui pikirannya. Jika ia bertahan di sini, mereka semua akan mati perlahan karena lapar atau didepak ke jalanan tanpa atap.

"Berapa lama kontraknya?" suara Laksmi bergetar.

"Dua tahun. Tanpa kunjungan di tahun pertama. Tapi mereka akan mendapatkan pendidikan dan makan yang layak di sana. Pikirkanlah, Laksmi. Ini bukan soal egomu, ini soal nyawa mereka."

Laksmi menoleh ke dalam, melihat dua siluet kecil yang tidur meringkuk di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip ditiup angin. Ia merasa seperti seorang pengkhianat. Namun, kemiskinan adalah penjara yang tidak memiliki pintu keluar selain lubang yang sangat sempit dan menyakitkan.

Ia kembali menatap Ratna, matanya kini berkaca-kaca namun ada kilat keputusan yang keras di sana. "Jika aku pergi... pastikan mereka tidak pernah merasa lapar lagi."

Malam itu, di bawah kesaksian bulan yang separuh tertutup awan, Laksmi mengemasi satu-satunya kain panjang miliknya ke dalam tas plastik. Ia tidak membangunkan anak-anaknya. Ia takut jika ia melihat mata mereka, keberaniannya akan menguap seperti air laut yang dijemur.

Saat ia melangkah turun dari rumah panggung itu, ia merasa tanah yang ia pijak bukan lagi bumi yang sama. Setiap langkah menjauh adalah luka yang menganga. Ia tidak tahu bahwa pekerjaan yang dijanjikan Ratna memiliki wajah yang jauh lebih gelap dari sekadar menjadi pengasuh orang sakit. Ia tidak tahu bahwa perjalanannya ini akan membawanya ke sebuah labirin rahasia yang melibatkan identitas palsu dan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Laksmi naik ke atas motor, memunggungi rumah reotnya. Angin malam menerpa wajahnya, menghapus air mata yang jatuh, namun tidak mampu menghilangkan rasa perih di dadanya. Di sisa pasir yang masih menempel di telapak tangannya, ia bersumpah akan kembali, entah dalam keadaan seperti apa.

Di kejauhan, ombak besar menghantam karang, seolah memberi peringatan bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai dalam hidup Laksmi. Sebuah awal dari penyamaran panjang, di mana ia harus mengubur nama Laksmi dan menjadi orang lain demi sejumput harapan yang mungkin saja palsu.