Malam itu, jam dinding perak seolah berhenti berdetak saat napas terakhir Elara terlepas. Tidak ada drama, tidak ada jeritan. Hanya sebuah tarikan napas panjang yang lambat, seperti embusan angin yang memadamkan sebatang lilin yang sudah mencapai sumbu terakhirnya.

Laksmi berdiri mematung di sisi tempat tidur. Ia melihat tangan Elara yang tadi mencengkeramnya kini terkulai lemas, terbuka seolah akhirnya melepaskan beban rahasia yang ia pikul. Di saat yang sama, pintu kamar terbuka. Adran masuk. Ia tidak berlari, tidak menangis. Ia berjalan dengan ketenangan yang mengerikan, seolah-olah momen ini telah ia jadwalkan dalam agenda hariannya.

Adran mendekati jenazah istrinya, namun matanya sama sekali tidak menatap wajah Elara yang pucat. Ia menatap pantulan Laksmi di jendela kaca yang gelap.

"Waktunya sudah tiba," bisik Adran. Suaranya tidak pecah karena duka; suaranya justru terdengar seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan bab lama dan siap membuka lembaran baru. "Maya, panggil pelayan. Kita akan mengurusnya secara pribadi. Tidak ada keramaian. Elara menyukai ketenangan."

Laksmi merasa kedinginan. "Tuan, bukankah keluarga Nyonya harus dikabari? Pemakaman umum—"

"Keluarganya adalah aku," potong Adran, suaranya naik satu oktaf, tajam dan dingin. "Dan rumah ini adalah dunianya. Dia akan tetap di sini."

Pemakaman itu dilakukan saat fajar menyingsing, ketika kabut kota masih menyelimuti tanah. Di sudut terjauh dari taman belakang rumah yang luas, di bawah pohon beringin tua yang akarnya melilit tanah seperti jemari raksasa, sebuah liang lahat telah digali. Hanya ada Adran, Laksmi, dan dua pria pendiam berseragam hitam yang tampaknya lebih seperti algojo daripada penggali kubur.

Laksmi berdiri dengan pakaian hitam yang diberikan Adran. Kain sutranya terasa berat, seolah menyerap seluruh kelembapan pagi. Saat peti kayu itu diturunkan, ia teringat pada tanah pesisir rumahnya. Di sana, kematian adalah urusan komunal; orang-orang akan datang membawa beras, doa, dan air mata. Di sini, kematian terasa seperti sebuah rahasia yang dikubur hidup-hidup.

Adran mengambil segenggam tanah, namun sebelum melemparnya ke dalam liang, ia menoleh pada Laksmi.

"Kemarilah," perintahnya.

Laksmi melangkah mendekat dengan ragu. Adran meraih tangan Laksmi, memaksa telapak tangan wanita itu terbuka, lalu menuangkan separuh tanah di tangannya ke tangan Laksmi.

"Ikutlah mengubur masa lalu, Maya. Karena mulai hari ini, tidak ada lagi Elara di rumah ini. Yang ada hanyalah kau," bisik Adran tepat di telinganya.

Laksmi merasakan butiran tanah itu kasar di telapak tangannya—tanah yang tidak berbau garam, melainkan bau busuk dari ambisi yang gelap. Ia melepaskan tanah itu ke atas peti. Bunyi buk yang dihasilkan saat tanah menghantam kayu terdengar seperti palu hakim yang mengesahkan hukuman penjaranya.

Setelah gundukan tanah itu selesai dan taburan bunga kamboja yang pucat menutupi permukaannya, Adran tidak segera beranjak. Ia berdiri tegak di depan pusara tanpa nama itu.

"Tunggulah aku di sana," gumam Adran pelan, hampir tak terdengar. "Aku akan memastikan kali ini semuanya berjalan sempurna. Tidak akan ada lagi kegagalan seperti Saras. Tidak akan ada lagi kelemahan seperti Elara."

Laksmi tersentak mendengar nama Saras disebut kembali. Jadi, Elara memang 'pengganti' sebelum dirinya. Dan Saras? Apakah Saras adalah prototipe asli yang coba diciptakan kembali oleh Adran?

Kembali ke dalam rumah, suasana berubah drastis. Foto-foto Elara yang sebelumnya menghiasi dinding koridor telah hilang, menyisakan noda bersih di dinding yang kusam. Kamar utama yang tadi berbau antiseptik kini telah dibersihkan total, diganti dengan aroma mawar segar yang kuat—aroma yang sama dengan parfum di foto Saras yang ia temukan.

"Mulai malam ini, kau pindah ke kamar utama," ujar Adran saat mereka berdiri di lobi. "Pelayan akan membawakan pakaian-pakaian baru. Bukan pakaian perawat. Pakaian seorang nyonya rumah."

"Tuan, saya... saya belum bisa," Laksmi mencoba memprotes, meski ia tahu itu sia-sia. "Saya hanya seorang ibu dari pesisir yang mencari nafkah untuk anak-anak saya."

Adran berbalik, langkahnya cepat hingga ia mengunci Laksmi di dinding marmer. Ia mencengkeram bahu Laksmi, tidak cukup kuat untuk memar, tapi cukup kuat untuk membuat Laksmi tahu siapa yang berkuasa.

"Kau ingin melihat Bayu dan Gendis lagi, bukan?"

Laksmi membeku. Nama anak-anaknya di mulut Adran terdengar seperti ancaman pembunuhan.

"Yayasan itu milikku, Laksmi. Atau Maya. Siapa pun kau ingin disebut. Anak-anakmu sedang belajar di sana, makan makanan enak, dan tidur di kasur empuk. Tapi semua itu bisa berubah dalam satu panggilan telepon dariku. Jika kau menjadi Maya yang patuh, mereka akan menjadi pangeran dan putri. Jika kau membangkang... mereka akan kembali ke tumpukan sampah di pesisir, atau lebih buruk lagi."

Adran melepaskan cengkeramannya dan merapikan rambut Laksmi yang sedikit berantakan dengan kelembutan yang manipulatif. "Pilihan ada di tanganmu. Jadilah bayangan yang indah, maka duniamu akan indah."

Malam itu, Laksmi duduk di depan meja rias besar di kamar utama. Ia menatap wajahnya di cermin. Ia mengenakan gaun malam hitam dengan renda yang rumit. Di atas meja, terdapat sebuah kalung mutiara yang berkilau di bawah lampu kristal.

Ia meraih kotak hitam yang sempat ia curi dari bawah dipan Elara sebelum kamar itu dibersihkan. Ia menyembunyikannya di balik bantal sutranya yang baru. Ia menyadari satu hal: Adran tidak hanya ingin seorang istri. Ia sedang mencoba menghidupkan kembali seseorang yang sudah mati melalui wajah Laksmi.

Namun, Adran melakukan kesalahan satu hal. Ia mengira kemiskinan telah mematahkan semangat Laksmi. Ia tidak tahu bahwa seorang ibu yang pernah bertarung dengan badai laut setiap hari tidak akan mudah hancur hanya oleh sangkar emas.

Laksmi mengambil pemerah bibir berwarna merah gelap, memulasnya di bibir dengan tangan yang kini tak lagi gemetar. Jika ia harus menjadi Maya untuk menyelamatkan anak-anaknya, maka ia akan menjadi Maya. Tapi di balik topeng itu, Laksmi akan mulai menenun jaringnya sendiri.

Tunggulah, Adran, batinnya sambil menatap tajam ke arah pintu yang sebentar lagi akan terbuka. Kau mungkin pemilik rumah ini, tapi kau tidak akan pernah memiliki jiwaku. Dan rahasia di balik pusara tanpa nama itu akan menjadi awal dari keruntuhanmu.

Di kejauhan, petir menyambar, menerangi nisan baru di taman belakang. Badai sesungguhnya bukan lagi di laut, tapi tepat di dalam jantung rumah megah itu.