Fajar di kota ini tidak pernah membawa aroma tanah basah atau amis laut yang segar. Bagi Laksmi, pagi hanya berarti cahaya pucat yang memantul di lantai marmer, mengingatkannya bahwa ia berada di tempat yang salah. Ia terbangun di sofa kecil di sudut kamar Elara, tubuhnya kaku karena posisi tidur yang terjaga.

Tugas pertamanya hari itu adalah membersihkan tubuh Elara. Saat Laksmi memeras handuk kecil di dalam baskom perak, ia memperhatikan betapa kontrasnya tangannya yang kasar dengan kulit Elara yang setipis kertas roti.

"Maafkan saya, Nyonya," bisik Laksmi pelan saat air hangat menyentuh bahu Elara.

Elara tidak bicara. Sejak peringatan singkat semalam, ia seolah menarik diri ke dalam cangkang kebisuan yang dalam. Matanya hanya menatap langit-langit, kosong dan pasrah. Namun, saat Laksmi merapikan bantal, tangannya tak sengaja menyentuh sebuah laci kecil di meja rias yang sedikit terbuka. Di dalamnya, ia melihat sekilas sebuah potret tua—seorang wanita yang sangat mirip dengan dirinya, namun dengan binar mata yang jauh lebih ceria.

"Itu saya... sepuluh tahun lalu," suara Elara mengejutkannya. Lemah, namun tajam.

Laksmi tertegun. Ia menatap foto itu, lalu menatap wajahnya sendiri di cermin besar di depan mereka. Ada kemiripan struktur tulang pipi yang ganjil. Apakah ini alasan ia dipilih oleh Ibu Ratna? Apakah kemiskinannya hanya sekadar alasan, sementara wajahnya adalah komoditas yang sesungguhnya?

Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Adran masuk dengan langkah tegap yang memecah keheningan. Pria itu tidak lagi mengenakan jas formal; ia hanya memakai kemeja hitam dengan lengan digulung, namun auranya tetap mengintimidasi.

"Bagaimana keadaannya pagi ini, Maya?" tanya Adran. Ia tidak menatap istrinya, melainkan menatap Laksmi.

"Nyonya masih sangat lemah, Tuan," jawab Laksmi sambil menunduk.

Adran berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Laksmi. Ia bisa merasakan hawa dingin yang seolah menjalar dari pria itu. Adran mengulurkan tangan, bukan untuk menyentuh Elara, melainkan untuk merapikan kerah seragam perawat yang dikenakan Laksmi. Gerakannya lambat, hampir seperti sebuah belaian yang tidak pada tempatnya.

"Mulai hari ini, kau tidak perlu mengenakan seragam itu lagi," kata Adran dingin. "Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian di kamar sebelah. Pakailah. Elara merasa lebih tenang jika melihatmu mengenakan pakaian rumah yang biasa... seperti yang biasa dia kenakan."

Laksmi mendongak, bingung. "Tapi Tuan, tugas saya adalah perawat—"

"Tugasmu adalah melakukan apa pun yang kukatakan agar istriku merasa damai," potong Adran, suaranya merendah namun mengandung ancaman yang jelas. "Pakaian itu akan membantunya merasa seolah-olah waktu belum berjalan sejauh ini. Kau mengerti?"

Laksmi menelan keberatannya. Bayangan Bayu dan Gendis kembali muncul—perut mereka yang kenyang adalah harga yang harus ia bayar dengan kepatuhan ini.

Siang harinya, Laksmi berdiri di depan cermin kamar tamu, mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang disediakan Adran. Gaun itu pas di tubuhnya, seolah-olah dijahit khusus untuknya. Saat ia memoleskan sedikit pemerah bibir seperti instruksi pelayan rumah, ia merasa identitas Laksmi si penjemur garam semakin terkikis, tertimbun oleh lapisan kemewahan yang palsu.

Ia kembali ke kamar Elara. Wanita itu kini sedang duduk bersandar, disuapi sup oleh seorang pelayan lain. Saat melihat Laksmi masuk dengan gaun itu, Elara menjatuhkan sendoknya. Denting logam di lantai terdengar seperti lonceng kematian.

"Keluar..." bisik Elara, napasnya mulai tersengal. "Adran... apa yang kau lakukan?"

Adran, yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu, hanya tersenyum tipis. "Aku hanya mengembalikan keindahan yang hilang dari rumah ini, Sayang."

Laksmi merasa mual. Ia merasa seperti bidak di atas papan catur yang tidak ia pahami aturannya. Sore itu, saat Adran memintanya menemaninya minum teh di balkon sementara Elara tertidur pulas karena pengaruh obat penenang, kecurigaannya semakin mengental.

"Kau tahu, Maya," ujar Adran sambil menatap lurus ke arah taman yang tertata rapi. "Di dunia ini, beberapa orang dilahirkan untuk memimpin, dan sisanya dilahirkan untuk menggantikan apa yang hilang. Kau beruntung memiliki wajah yang bisa menyelamatkan hidup anak-anakmu."

Laksmi membeku. "Tuan... bagaimana Anda tahu tentang anak-anak saya?"

Adran menyesap tehnya, matanya yang kelabu tidak menunjukkan emosi apa pun. "Ibu Ratna tidak pernah mengirimkan siapa pun ke rumah ini tanpa laporan lengkap. Aku tahu tentang rumah panggung itu. Aku tahu tentang utangmu. Dan aku tahu betapa mudahnya bagi yayasan itu untuk... memindahkan anak-anakmu ke tempat yang tidak bisa kau jangkau jika kau gagal dalam tugas ini."

Darah Laksmi terasa berhenti mengalir. Ini bukan sekadar tawaran kerja. Ini adalah pemerasan yang dikemas dalam keanggunan. Ia tidak hanya menjual tenaganya; ia telah menyerahkan hidupnya ke tangan seorang pria yang tampaknya sedang menyusun sebuah sandiwara besar.

"Apa sebenarnya yang Anda inginkan dari saya?" tanya Laksmi, suaranya bergetar namun ada nada perlawanan di sana.

Adran meletakkan cangkirnya. Ia bangkit dan berjalan mendekati Laksmi, mengurungnya di antara pagar balkon dan tubuhnya yang tinggi. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Laksmi yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Aku ingin kau menjadi istri yang sempurna, Maya. Karena sebentar lagi, Elara akan 'pergi', dan posisi itu tidak boleh kosong terlalu lama."

Laksmi mencengkeram besi balkon hingga buku-buku jarinya memutih. Di kejauhan, ia melihat burung-burung camar terbang rendah, seolah memberi tanda akan datangnya badai besar. Ia baru saja menyadari bahwa "wajah asli" pria di hadapannya bukan sekadar suami yang berduka, melainkan seorang arsitek yang sedang membangun penjara baru untuknya.

Malam itu, saat ia kembali ke samping tempat tidur Elara, wanita itu meraih pergelangan tangan Laksmi dengan sisa kekuatannya yang terakhir.

"Cari... kotak hitam... di bawah dipan," bisik Elara dengan mata yang berkaca-kaca. "Sebelum... dia menghapusmu... seperti dia menghapusku."

Laksmi terdiam, jantungnya berpacu. Ia menatap pintu yang tertutup rapat, lalu menatap bayangan dirinya di jendela kaca—sosok wanita asing dengan gaun biru mahal yang tidak lagi ia kenali. Permainan ini jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan, dan langkah selanjutnya akan menentukan apakah ia akan selamat, atau terkubur bersama rahasia rumah ini.