Keheningan di kamar Elara malam itu terasa seperti air yang membeku—statis, dingin, dan siap retak kapan saja. Laksmi berdiri mematung di samping tempat tidur, tangannya masih bergetar setelah bisikan terakhir Elara. Suara detak jam dinding perak di sudut ruangan berdentang seperti palu yang menghantam paku ke peti mati. Di luar, bayangan dahan pohon kamboja bergoyang di balik jendela, menyerupai jemari kurus yang berusaha menggapai kaca.
Laksmi menoleh ke arah pintu. Ia tahu Adran bisa muncul kapan saja. Pria itu memiliki kebiasaan berjalan tanpa suara, muncul dari kegelapan koridor seperti hantu yang mengawasi wilayah kekuasaannya. Namun, dorongan rasa ingin tahu dan rasa takut akan nasibnya sendiri jauh lebih kuat daripada peringatan logika.
Dengan perlahan, ia berlutut di lantai marmer yang dingin. Ia bisa merasakan debu halus menempel di lutut gaun sutranya—gaun yang kini terasa seperti kain kafan yang indah. Ia mencondongkan tubuh, tangannya meraba-raba di bawah kolong dipan kayu jati yang berat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya akan membangunkan Elara, atau lebih buruk lagi, memanggil Adran.
Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang kasar dan dingin. Sebuah sudut kayu.
Laksmi menarik napas panjang dan menarik objek itu keluar. Benar saja, sebuah kotak kayu hitam kecil dengan ukiran yang sudah memudar. Kotak itu tidak dikunci, seolah pemiliknya sudah terlalu lemas untuk menjaga rahasia dengan gembok.
Saat Laksmi membukanya, aroma kertas tua dan melati kering menyeruak. Di dalamnya terdapat tumpukan surat yang diikat pita merah kusam, sebuah cincin perak yang retak, dan beberapa lembar foto polaroid yang sudah menguning di bagian tepinya.
Laksmi mengambil salah satu foto. Napasnya tercekat.
Dalam foto itu, Adran tampak lebih muda, tersenyum lebar di sebuah taman bunga. Di sampingnya berdiri seorang wanita. Namun, itu bukan Elara yang terbaring di tempat tidur ini. Wanita itu memiliki wajah yang identik dengan Laksmi—bahkan memiliki tahi lalat kecil yang sama di sudut garis rambutnya. Di balik foto itu tertulis sebuah nama dengan tinta hitam yang sudah meresap ke serat kertas: “Saras, Cahaya Abadiku. 2014.”
"Saras?" bisik Laksmi pada kegelapan.
Siapa Saras? Dan mengapa ia terlihat seperti bayangan cermin Laksmi? Jika Elara adalah istri Adran yang sekarang, lalu siapa wanita ini? Laksmi buru-buru membuka salah satu surat. Tulisan tangannya terburu-buru, penuh dengan coretan emosional.
“Dia tidak mencintaiku. Dia mencintai bayangan yang ia ciptakan sendiri. Aku hanyalah kanvas baginya untuk melukis kembali masa lalunya. Jangan biarkan dia menemukanmu, karena jika kau masuk ke rumah ini, kau tidak akan pernah bisa keluar sebagai dirimu sendiri.”
Tangan Laksmi gemetar hebat. Surat itu bukan untuknya, tapi rasanya seperti sebuah peringatan dari alam kubur yang ditujukan langsung ke jantungnya. Ia menyadari sebuah pola yang mengerikan. Adran tidak sedang mencari perawat. Ia sedang melakukan sebuah ritual koleksi—mengganti satu wanita dengan wanita lain yang memiliki wajah yang sama, mengubur identitas mereka di bawah nama-nama baru dan gaun-gaun mahal.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor. Ringan, berirama, dan semakin mendekat.
Laksmi panik. Ia segera menutup kotak itu, mendorongnya kembali ke bawah dipan dengan gerakan serampangan, dan berdiri dengan cepat. Ia menyambar botol air mineral di meja samping tempat tidur, berpura-pura sedang memeriksa asupan cairan Elara.
Pintu terbuka. Adran berdiri di sana, masih mengenakan pakaian hitamnya, separuh wajahnya tertutup bayangan lampu koridor.
"Belum tidur, Maya?" suara Adran tenang, namun ada nada interogasi yang terselip di sana. Matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak pada ujung gaun Laksmi yang sedikit kotor karena debu lantai.
"Saya baru saja hendak memberikan air untuk Nyonya, Tuan. Dia sepertinya sedikit gelisah dalam tidurnya," jawab Laksmi, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak pecah.
Adran berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti beban berton-ton bagi Laksmi. Pria itu berdiri di depan Laksmi, jarak mereka begitu dekat hingga Laksmi bisa mencium aroma kayu cendana dan alkohol dari napasnya. Adran mengulurkan tangan, menyentuh dagu Laksmi dan mengangkatnya perlahan agar mata mereka bertemu.
"Kau terlihat pucat. Apa rumah ini mulai menakutimu?"
Laksmi memaksakan sebuah senyuman kecil, jenis senyuman yang biasa ia berikan pada penagih utang di pesisir—sebuah topeng ketegaran di atas kerapuhan. "Hanya kelelahan, Tuan. Saya belum terbiasa dengan kesunyian kota."
Adran menatapnya lama, seolah sedang mencoba membaca setiap pikiran yang tersembunyi di balik pupil mata Laksmi. "Kesunyian adalah kemewahan, Maya. Di sini, kau tidak perlu khawatir tentang badai atau perut yang lapar. Kau hanya perlu menjadi... patuh. Elara tidak akan bertahan lama. Dokter bilang malam ini adalah puncaknya. Setelah itu, dunia yang baru akan terbuka untukmu."
Ia melepaskan dagu Laksmi, namun tatapannya tetap mengunci. "Jangan mengecewakanku. Aku sudah menginvestasikan banyak hal untuk membawamu ke sini. Termasuk masa depan anak-anakmu."
Ancaman itu dijatuhkan selembut bulu, namun dampaknya seberat hantaman karang. Adran kemudian berbalik dan keluar, meninggalkan pintu kamar sedikit terbuka—sebuah pengingat bahwa di rumah ini, tidak ada privasi yang benar-benar mutlak.
Laksmi terduduk di kursi kayu di samping Elara. Ia menatap wanita yang sedang sekarat itu. Apakah Elara juga dulunya adalah seorang wanita malang yang dijanjikan kehidupan lebih baik? Apakah nama "Elara" juga sebuah nama pemberian, seperti "Maya"?
Di bawah dipan, kotak hitam itu seolah berdenyut, menyimpan kebenaran yang bisa menghancurkan Adran, atau justru menghancurkan Laksmi lebih dulu. Ia teringat pada Bayu dan Gendis. Ia harus bertahan. Jika ia lari sekarang tanpa rencana, ia akan kehilangan segalanya. Namun jika ia tinggal, ia mungkin akan berakhir menjadi "Saras" yang berikutnya—sebuah boneka tak bernyawa dalam koleksi obsesi seorang pria berdarah dingin.
Laksmi menggenggam kerikil putih di sakunya erat-erat hingga sudut tajamnya melukai telapak tangannya. Rasa perih itu menyadarkannya: ia bukan Maya. Ia adalah Laksmi. Dan jika Adran menginginkan sebuah sandiwara, maka ia akan memberikan pertunjukan yang tidak akan pernah dilupakan pria itu.
Malam semakin larut, dan napas Elara semakin berat, seperti mesin tua yang kehabisan oli. Laksmi tahu, sebelum matahari terbit, salah satu dari mereka akan terlepas dari penderitaannya, dan perjuangan Laksmi yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia harus menemukan cara untuk menghubungi dunia luar, sebelum gerbang besi rumah ini tertutup selamanya untuk identitas aslinya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar