Suara deru mesin bus antarkota itu terdengar seperti geraman binatang buas yang sedang menelan masa lalu Laksmi bulat-bulat. Di balik jendela yang bergetar dan berdebu, lampu-lampu jalan kota besar mulai merayap masuk, menggantikan kegelapan pekat pesisir yang baru saja ia tinggalkan. Laksmi memeluk tas plastiknya erat-erat di atas pangkuan, seolah benda itu adalah jangkar terakhir yang menahannya agar tidak hanyut dalam ketidakpastian.
Di dalam tas itu, selain selembar kain panjang, ada sebuah kerikil putih yang diam-diam ia ambil dari halaman rumahnya—sepotong kecil tanah air yang ia curi untuk menemaninya di pengasingan.
"Jangan pasang wajah seperti itu," suara Ibu Ratna memecah lamunan Laksmi. Wanita itu duduk di sebelahnya, aroma parfum mawarnya yang tajam terasa asing dan menyesakkan di ruang bus yang sempit. "Anak-anakmu aman di yayasan. Mereka makan tiga kali sehari dengan daging, bukan garam. Kau seharusnya bersyukur."
Laksmi hanya mengangguk pelan, meski dadanya terasa seperti dihantam ombak besar. Aman. Kata itu terasa hambar. Bagaimana bisa mereka aman jika tidak mendengar dongengnya sebelum tidur? Bagaimana bisa Bayu tertidur tanpa memegang jempol ibunya? Namun, Laksmi mengunci bibirnya rapat-rapat. Ia tahu, di dunia ini, kasih sayang seringkali harus dikalahkan oleh kebutuhan untuk tetap hidup.
Bus berhenti di sebuah terminal yang hiruk-pikuk. Mereka berganti kendaraan menjadi sebuah mobil sedan hitam yang mengilap, sangat kontras dengan pakaian Laksmi yang pudar. Mobil itu membawa mereka membelah hutan beton, melewati gedung-gedung yang puncaknya menembus awan, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang dijaga ketat.
Rumah itu tidak tampak seperti rumah bagi Laksmi. Itu adalah benteng. Arsitektur bergaya kolonial yang megah dengan pilar-pilar putih besar yang tampak seperti taring-taring raksasa di bawah sorotan lampu taman. Kesunyian di sana begitu absolut, seolah suara bising kota tidak berani melewati dinding-dinding batunya.
"Ingat," bisik Ratna saat mereka turun. "Mulai detik ini, kau bukan lagi penjemur garam dari pesisir. Kau adalah Maya, perawat pribadi yang didatangkan khusus dari yayasan medis. Jangan banyak bicara, jangan banyak bertanya. Lakukan saja tugasmu."
Laksmi—atau kini Maya—menelan ludah. Namanya pun kini telah dirampas.
Mereka disambut oleh seorang pria paruh baya berseragam pelayan yang mengantar mereka masuk ke dalam keheningan interior rumah yang dingin. Lantai marmer di bawah kakinya terasa seperti es, dan setiap langkahnya menggema, mengkhianati kegugupannya.
Di ruang tengah yang luas, seorang pria berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota di kejauhan. Pria itu, Adran, memiliki pundak yang lebar namun tampak terbebani oleh sesuatu yang tak kasat mata. Saat ia berbalik, Laksmi melihat wajah yang keras, dengan garis-garis kelelahan yang dalam di sekitar matanya yang kelabu.
"Jadi, ini orangnya?" suara Adran rendah, berwibawa, namun mengandung getaran kepedihan yang sulit disembunyikan.
Ratna tersenyum profesional. "Dia yang terbaik, Tuan Adran. Sabar, telaten, dan yang terpenting... dia tidak memiliki ikatan yang akan mengganggu pekerjaannya di sini."
Adran berjalan mendekat, matanya menatap Laksmi seolah sedang memeriksa sebuah barang dagangan. Laksmi menunduk, namun ia bisa merasakan aura dingin yang terpancar dari pria itu. Ada sesuatu yang janggal dalam cara Adran menatapnya—bukan tatapan seorang majikan kepada pelayan, melainkan tatapan seseorang yang sedang mencari bayangan di dalam cermin yang retak.
"Tugasmu sederhana," kata Adran, suaranya kini lebih lembut namun tetap dingin. "Istriku, Elara, sedang dalam tahap akhir perjuangannya melawan sakit. Dia tidak membutuhkan obat-obatan medis lagi—itu sudah melampaui kemampuan kita. Dia membutuhkan... kedamaian. Dia membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya di saat-saat terakhirnya, tanpa bertanya, tanpa menghakimi."
Laksmi memberanikan diri untuk mendongak. "Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan."
Adran terdiam sejenak, matanya tertuju pada tangan Laksmi yang kasar dan pecah-pecah akibat air garam. "Pastikan tanganmu selalu bersih. Elara tidak suka bau laut."
Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi Laksmi. Bau laut adalah bagian dari dirinya, bagian dari rumahnya. Namun, ia menyadari bahwa di rumah ini, identitasnya harus dikubur sedalam-dalamnya.
Ia kemudian diantar menuju lantai dua, ke sebuah sayap bangunan yang terisolasi. Di sana, aroma mawar dan antiseptik bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Saat pintu kamar utama dibuka, Laksmi melihat seorang wanita yang sangat kurus terbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari kayu jati berukir.
Wanita itu, Elara, tampak seperti boneka porselen yang hampir pecah. Rambutnya telah hilang, ditutupi oleh penutup kepala sutra yang elegan. Matanya terpejam, namun napasnya yang pendek dan berat menandakan perjuangan yang melelahkan.
Adran berjalan menuju sisi tempat tidur, menyentuh tangan istrinya dengan kelembutan yang menyayat hati. "Dia sudah datang, Elara. Seseorang yang akan menjagamu saat aku tidak ada."
Laksmi berdiri di ujung tempat tidur, merasa seperti penyusup di dalam drama duka orang lain. Namun, saat Elara perlahan membuka matanya, sesuatu yang aneh terjadi. Mata wanita itu, meski redup oleh sakit, membelalak saat menatap Laksmi. Ada binar ketakutan—atau mungkin pengenalan—yang berkelebat di sana selama sepersekian detik sebelum kembali meredup.
"Siapa...?" bisik Elara nyaris tak terdengar.
"Namanya Maya," sahut Adran cepat, suaranya sedikit meninggi seolah sedang menutupi sesuatu. "Dia akan bersamamu sekarang."
Malam itu, setelah Adran dan Ratna pergi, Laksmi duduk sendirian di samping tempat tidur Elara. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu tidur yang temaram. Kesunyian terasa begitu tebal hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang karena rasa asing.
Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang biasa memegang jala dan mengusap air mata anak-anaknya. Sekarang, tangan itu harus memegang jemari seorang wanita asing yang sedang menjemput maut.
Tiba-tiba, Elara menggerakkan jemarinya, memberi isyarat agar Laksmi mendekat. Laksmi mencondongkan tubuhnya, telinganya berada hanya beberapa inci dari bibir Elara yang pucat.
"Jangan... jangan percaya padanya," bisik Elara, suaranya seperti desiran pasir di atas kaca.
Laksmi membeku. "Nyonya? Apa maksud Anda?"
Namun Elara tidak menjawab lagi. Ia kembali memejamkan mata, meninggalkan Laksmi dalam ketakutan yang merayap perlahan. Di luar sana, angin malam kota besar melolong, jauh berbeda dengan suara ombak yang biasa menenangkannya. Di dalam sangkar kaca yang megah ini, Laksmi menyadari bahwa ia bukan sekadar perawat. Ada rahasia yang tersimpan di balik pilar-pilar putih rumah ini, rahasia yang mungkin lebih berbahaya daripada kemiskinan yang ia tinggalkan di pesisir.
Ia merogoh sakunya, menyentuh kerikil putih kecil itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri: apa pun yang terjadi di rumah ini, ia harus bertahan. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk Bayu dan Gendis yang kini hanya bisa ia temui dalam doa. Namun, bisikan Elara terus bergema di kepalanya, sebuah peringatan halus bahwa pernikahan dan kemewahan di rumah ini hanyalah topeng dari sesuatu yang jauh lebih gelap.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar