​Matahari baru saja memanjat pagar beton tinggi yang mengelilingi Kompleks Melati Residence, menyapu embun di atas pucuk-pucuk kamboja bali yang berjajar rapi di sepanjang jalan aspal mulus. Di rumah nomor 05, sebuah bangunan kolonial modern yang luas namun tak mencolok—khas selera orang kaya lama yang enggan pamer—aroma nasi goreng kencur dan kopi luwak mulai memenuhi udara.

​Bagi dunia luar, keluarga Adiwangsa adalah definisi keberhasilan. Namun, bagi penghuni rumah itu, pagi hari adalah medan perang diplomatik yang dibungkus dalam denting sendok dan porselen.

​Ritual Sang Kepala Keluarga

​Ayah, yang nama lengkapnya masih tercatat sebagai Komisaris di beberapa anak perusahaan bank swasta milik mendiang kakek, duduk di kursi kebesarannya. Di usianya yang sudah memasuki masa pensiun, ia lebih suka mengenakan kaos polo santai dan sarung. Di depannya bukan lagi laporan audit tahunan, melainkan koran fisik—sebuah kebiasaan lama yang tak bisa digantikan oleh gawai secanggih apa pun.

​"Bu, Elang sudah bangun?" tanya Ayah tanpa mengalihkan pandangan dari berita ekonomi.

​Ibu, yang sedang menata piring-piring, tersenyum kecil. "Sudah dari jam lima, Yah. Elang kan jarang tidur lama kalau mau ada rapat besar. Kamu kayak nggak tahu anak sulungmu saja."

​Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang mantap terdengar menuruni tangga jati.

​Elang Adiwangsa muncul dengan kemeja slim-fit biru gelap yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Dengan tinggi hampir 187 cm, bahu lebar, dan garis rahang yang tegas, Elang adalah representasi sempurna dari visual idola papan atas. Rambutnya ditata rapi, namun sorot matanya yang tajam selalu menyiratkan ada beban yang ia panggul sendirian.

​"Pagi, Yah. Bu," sapa Elang singkat. Ia menarik kursi di sebelah kanan Ayah.

​"Pagi, CEO," goda Ibu sambil meletakkan piring berisi nasi goreng telur mata sapi di depan Elang. "Gimana tidurmu? Nyenyak? Atau masih mimpiin grafik saham?"

​Elang terkekeh tipis, sebuah tawa yang jarang ia perlihatkan di luar rumah. "Mimpiin kapan Ibu berhenti nanya soal saham pas sarapan, Bu."

​"Ibu nggak bakal nanya soal saham kalau kamu kasih Ibu topik lain. Misalnya... soal siapa yang bakal nemenin Ibu ke acara ulang tahun pernikahan minggu depan?" Ayah menimpali, kali ini menurunkan korannya.

​Skakmat. Elang mendadak sibuk dengan sendoknya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Di usianya yang ke-35, dengan kekayaan yang sanggup membeli satu blok kompleks ini secara tunai, status lajangnya adalah "cacat" terbesar di mata keluarga besar Adiwangsa.

​Si Tengah yang Berduri

​Ketegangan di meja makan itu pecah oleh suara langkah kaki yang lebih terburu-buru. Aruna, anak kedua, muncul dengan setelan blazer kerja yang tajam. Wajahnya cantik, namun ekspresinya selalu terlihat seperti orang yang siap meledak jika disapa dengan nada yang salah.

​"Masih bahas itu lagi?" suara Aruna datar, dingin. Ia langsung duduk dan meraih segelas air putih tanpa menyentuh nasi gorengnya.

​"Aruna, makan sedikit. Kamu itu makin kurus," tegur Ibu lembut.

​"Nggak selera, Bu. Kantor lagi berisik. Asisten Manajer nggak punya waktu buat lambung yang manja," jawab Aruna ketus.

​Aruna adalah benteng yang kokoh. Sebagai satu-satunya anak perempuan, ia tumbuh menjadi sosok yang mandiri sekaligus defensif. Tak ada yang tahu bahwa di balik sikap galaknya, Aruna baru saja terbangun dari mimpi buruk yang membuatnya harus meremas sprei hingga jarinya memutih. Tak ada yang tahu bahwa di laci nakasnya, ada botol obat dari psikiater yang labelnya selalu ia robek agar tak terbaca.

​"Lagian, kenapa sih harus maksa Bang Elang nikah?" Aruna melanjutkan, matanya menatap tajam ke arah Ayah. "Dunia nggak bakal kiamat kalau kita tetap kayak gini. Aruna juga nggak mau nikah. Aruna mau di sini aja, nemenin Ayah sama Ibu sampai tua. Jadi nggak usah repot-repot cari menantu."

​Ibu menghela napas panjang. Kalimat Aruna selalu terdengar seperti pengabdian, namun bagi Ibu, itu terdengar seperti sebuah penolakan terhadap kebahagiaan.

​Si Bungsu yang Ingin Mandiri

​"Pagi semua! Wah, aromanya sampai kamar atas!"

​Bagas muncul dengan energi yang kontras. Mahasiswa tingkat akhir yang paling dimanja itu turun dengan kaos oblong dan celana pendek. Ia adalah kesayangan semua orang. Ayah memberinya jatah bulanan, Elang sering membelikannya sepatu bermerek, dan Aruna—meski galak—selalu memastikan uang jajan Bagas tak pernah kurang.

​"Tumben semangat, Gas? Ada jadwal bimbingan?" tanya Elang.

​Bagas nyengir, duduk di sebelah Aruna. "Nggak, Bang. Gue lagi ada... proyekan."

​"Proyekan apa? Main game?" sindir Aruna.

​"Eh, jangan salah! Gue lagi ambil freelance desain dan kurir logistik khusus barang antik," jawab Bagas bangga.

​Sebenarnya, Bagas punya alasan lain. Ia lelah dianggap bocah. Apalagi sejak ia tahu bahwa wanita yang ia taksir sejak SMP—wanita yang pernah menyelamatkannya dari perundungan kakak kelas—ternyata adalah sosok yang sangat mandiri. Bagas ingin punya uang sendiri, hasil keringat sendiri, agar suatu saat jika ia bertemu wanita itu lagi, ia bisa berdiri tegak sebagai seorang pria, bukan sebagai "adik kecil" yang ditolong.

​"Bagus kalau mau mandiri," sahut Ayah. "Tapi kuliah jangan lupa. Kakekmu nggak bangun bank ini buat cucunya jadi kurir selamanya."

​"Siap, Bos Besar!" Bagas memberi hormat komedi, membuat suasana sedikit mencair.

​Dinamika Tetangga: Anak Pak RT dan Si Novelis Misterius

​Di luar pagar rumah Adiwangsa, kehidupan Kompleks Melati Residence mulai berdenyut. Baim, putra tunggal Pak RT, sudah berdiri di depan rumahnya yang hanya berjarak tiga rumah dari kediaman Elang. Baim adalah pemuda berdarah Betawi-Padang yang bicaranya secepat peluru tapi punya otak bisnis yang encer.

​Pagi itu, Baim tidak sedang mengurus surat pengantar warga. Ia sedang berdiri mematung di depan rumah nomor 09, sebuah rumah yang halamannya penuh dengan tanaman merambat dan jendela yang selalu tertutup gorden tebal.

​"Aira... Aira... lo itu manusia apa bidadari sih? Betah amat di dalem," gumam Baim sambil memegang sekantong martabak manis yang ia beli tadi malam—yang kini tentu sudah dingin.

​Baim jatuh cinta mati pada Aira, seorang novelis introvert yang hanya keluar rumah untuk mengambil paket atau membuang sampah. Bagi Baim yang ekstrovert dan berisik, Aira adalah teka-teki paling rumit yang ingin ia pecahkan. Baim bahkan membangun sebuah startup jasa—yang ia namakan "EasyDate"—hanya untuk membuktikan pada Aira bahwa ia adalah pria sukses yang visioner, bukan sekadar anak Pak RT yang hobi nongkrong di pos ronda.

​Namun, pagi ini Aira tetap tidak keluar. Baim hanya bisa menghela napas, meletakkan kantong plastik itu di atas pagar, lalu berteriak, "Aira! Ini martabak! Makan ya, jangan nulis mulu, ntar otaknya keriting!"

​Tanpa Baim sadari, dari balik celah gorden, sepasang mata bulat milik Aira memperhatikan dengan perasaan campur aduk antara gemas dan ngeri.

​Rahasia di Balik Pintu Kamar

​Kembali ke rumah Adiwangsa, sarapan telah usai. Elang sedang merapikan tas kerjanya di ruang tamu ketika Aruna mendekat.

​"Bang," panggil Aruna pelan.

​Elang menoleh. "Kenapa, Run? Mau pinjam mobil?"

​"Bukan. Soal permintaan Ayah... Abang beneran mau cari pacar?"

​Elang terdiam sejenak. Ia teringat luka lama. Pengkhianatan di masa lalu yang membuatnya merasa bahwa cinta hanyalah transaksi yang ujung-ujungnya merugikan. Ia tidak percaya pada komitmen, tapi ia sangat menghargai ketenangan orang tuanya.

​"Entahlah. Mungkin gue bakal cari solusi instan," jawab Elang penuh teka-teki.

​"Jangan aneh-aneh, Bang. Jangan sampai bawa cewek yang nggak bener ke rumah ini. Ibu bisa jantungan," Aruna memperingatkan sebelum melenggang pergi menuju garasi.

​Aruna sendiri segera masuk ke mobilnya. Namun, ia tidak langsung berangkat ke kantor. Ia mematikan mesin, menyandarkan kepala ke setir, dan memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat janji temu jam 4 sore nanti dengan dokter barunya—seorang duda bernama Adrian yang baru pindah ke kompleks ini. Aruna benci fakta bahwa ia butuh orang asing untuk merasa "waras".

​Di lantai atas, Bagas sedang sibuk mengecek ponselnya. Ada sebuah notifikasi dari grup freelance.

​“Butuh kurir antar cepat untuk dokumen di area Sudirman. Fee 200rb.”

​Bagas segera mengambil jaketnya. Ia butuh uang itu. Ia butuh membuktikan bahwa ia bukan lagi Bagas yang menangis di gudang sekolah lima belas tahun lalu. Ia ingin mencari sosok "Mbak Hero" yang menghilang tanpa nama itu.

​Tanpa mereka sadari, benang merah nasib sedang bekerja. Di tempat lain, Citra sedang mengemasi koper kecilnya di sebuah kosan sederhana, menjauh dari kemewahan Bali dan kejaran ayahnya. Dan Nadin, sahabat Aruna, sedang duduk di lantai dapur rumahnya yang sempit, menyuapi ibunya yang sedang tertawa sendiri—sebuah beban yang ia simpan rapat dari dunia, termasuk dari Aruna.

​Pagi itu di Kompleks Melati Residence, simfoni dimulai. Bukan simfoni yang harmonis, melainkan awal dari sebuah komposisi yang penuh dengan kejutan, air mata, dan tawa yang dipaksakan.