Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam kamar penthouse mewah yang terletak di lantai tiga puluh itu, kesunyian terasa mencekam, seolah oksigen pun enggan untuk bergerak. Di tengah kegelapan yang hanya ditembus oleh sisa cahaya lampu jalan dari balik jendela kaca besar, seorang pria mengerang dalam tidurnya.

"Arini... jangan pergi..."

Suaranya parau, penuh dengan keputusasaan yang tertahan selama bertahun-tahun. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membasahi bantal sutra yang mahal. Dalam mimpinya, ia kembali ke lima tahun yang lalu—di sebuah stasiun kereta yang bising, di mana seorang wanita dengan gaun merah menatapnya dengan tatapan dingin yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Wanita itu, Arini, istrinya, melepaskan genggaman tangannya hanya untuk meraih tangan pria lain yang keluar dari sebuah mobil mewah.

"Arini!"

Haidar Subagja tersentak bangun. Tubuhnya terduduk tegak di atas ranjang king size-nya. Napasnya memburu, paru-parunya terasa sempit seolah baru saja berlari maraton menanjak. Mesin pendingin ruangan berdesis pelan pada suhu enam belas derajat Celcius, namun kaos piyamanya basah kuyup oleh keringat.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau bayangan punggung Arini yang menjauh. Setiap malam selama lima tahun terakhir, adegan itu selalu terulang seperti kaset rusak. Sebuah trauma yang telah mengakar dan menjadi bagian dari DNA-nya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Haidar meraih gelas air putih di atas nakas, meneguknya hingga tandas. Setelah detak jantungnya sedikit melambat, jemarinya bergerak secara otomatis membuka laci meja samping tempat tidurnya. Di sana, tersimpan sebuah bingkai foto perak yang permukaannya sudah sedikit memudar karena sering diusap.

Foto itu menampilkan sosok wanita manis berkulit sawo matang dengan senyum yang dulu dianggap Haidar sebagai dunianya. Arini. Wanita yang meninggalkannya saat ia masih merangkak dari nol, saat ia hanya seorang sales lapangan yang kepanasan dan kehujanan demi mencari sesuap nasi.

"Lihat aku sekarang, Rin," bisik Haidar. Suaranya pecah di tengah kamar yang sunyi. "Aku sudah punya segalanya. Jabatan District Manager, rumah yang lebih besar dari yang kamu impikan, mobil yang lebih mewah dari milik pria yang membawamu pergi. Tapi kenapa... kenapa kamu masih menghantui aku?"

Ia memeluk foto itu erat-erat di dadanya. Ada percampuran antara cinta yang belum padam sepenuhnya dan dendam yang sudah mengkristal. Baginya, Arini adalah simbol pengkhianatan. Sejak hari itu, Haidar bersumpah bahwa tidak akan ada lagi wanita yang bisa melukai pertahanannya. Ia membangun benteng tinggi di sekeliling hatinya, memelihara brewoknya agar terlihat lebih keras dan tak tersentuh, serta mengubah kepribadiannya menjadi sosok yang dingin dan otoriter.

Pagi harinya, Haidar berdiri di depan cermin besar di ruang ganti. Ia mengenakan kemeja slim-fit berwarna biru gelap yang dipadukan dengan setelan jas abu-abu arang. Ia merapikan brewoknya yang tertata rapi, memberikan kesan maskulin sekaligus mengintimidasi. Matanya yang tajam menatap pantulan dirinya sendiri—sosok pria sukses yang disegani, namun memiliki lubang besar di hatinya.

Ia melangkah keluar dari apartemennya dengan langkah tegap. Hari ini adalah hari pertamanya di kantor baru setelah mutasi besar-besaran di perusahaannya. Sebagai District Manager yang baru, ia tahu semua mata akan tertuju padanya. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun.

Gedung perkantoran di kawasan Sudirman itu sudah mulai sibuk saat mobil sedan mewah Haidar memasuki lobi. Begitu ia keluar, aura otoritasnya langsung terasa. Ia berjalan melewati lobi dengan langkah cepat, tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Karyawan yang berpapasan dengannya secara refleks menyingkir dan menunduk hormat, terintimidasi oleh wajahnya yang kaku tanpa senyum.

Di lantai dua belas, Cindy, manajer lama yang akan menyerahkan jabatannya, sudah menunggu bersama beberapa staf senior.

"Selamat pagi, Pak Haidar. Selamat datang di kantor cabang utama," sapa Cindy dengan sopan.

Haidar hanya mengangguk singkat. "Terima kasih, Bu Cindy. Langsung saja ke ruang rapat. Saya ingin melihat laporan triwulan terakhir sebelum saya mulai bekerja secara efektif."

Cindy sedikit terkejut dengan sikap to-the-point Haidar, namun ia segera menyesuaikan diri. "Baik, Pak. Tapi sebelumnya, saya ingin memperkenalkan sekretaris yang akan membantu Anda. Namanya Azzura Yuana. Dia adalah salah satu staf terbaik kami, sangat cekatan dan—"

Belum sempat Cindy menyelesaikan kalimatnya, pintu lift di ujung lorong terbuka dengan bunyi ting yang nyaring. Seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang dikuncir kuda acak-acakan berlari dengan napas tersengal-sengal. Ia membawa setumpuk map di tangan kiri dan segelas kopi di tangan kanan yang terlihat sangat tidak stabil.

"Awas! Awas! Beri jalan!" teriak gadis itu.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Gadis itu tidak menyadari ada sekelompok orang yang berdiri di depan ruang rapat. Karena kecepatan larinya yang tidak terkendali, sepatunya selip di atas lantai marmer yang baru saja dipel.

Bruk!

Gadis itu jatuh tersungkur tepat di depan kaki Haidar. Map-map yang ia bawa berhamburan ke segala arah, dan yang lebih buruk lagi, kopi panas di tangannya tumpah tepat mengenai sepatu kulit mahal milik Haidar.

Suasana seketika menjadi hening. Sangat hening hingga suara detak jam dinding pun bisa terdengar. Cindy menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya pucat pasi. Para staf lainnya menahan napas.

Haidar menatap sepatunya yang kini berwarna kecokelatan karena noda kopi. Perlahan, ia mengalihkan pandangannya ke bawah, menatap gadis yang masih berusaha bangkit sambil merintih kesakitan.

"Aduh... sakit banget," gumam Azzura sambil mengusap lututnya. Ia belum sadar siapa yang berdiri di depannya. Saat ia mendongak dan melihat sepasang sepatu mahal yang kini kotor, matanya membelalak. Ia perlahan menelusuri ke atas: celana kain yang rapi, jas yang mahal, hingga berhenti di wajah seorang pria yang menatapnya dengan pandangan seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.

"Anda..." Haidar memulai pembicaraan dengan suara rendah yang bergetar karena amarah yang tertahan. "Apakah Anda sedang ikut perlombaan lari di koridor kantor saya?"

Azzura segera berdiri, wajahnya memerah karena malu sekaligus takut. Namun, dasar sifatnya yang tidak mau kalah, ia mencoba membela diri. "Maaf, Pak. Saya tadi... saya tadi terburu-buru karena liftnya macet dan saya tidak ingin terlambat di hari pertama atasan baru datang. Dan lantai ini... lantainya licin sekali!"

Haidar menaikkan satu alisnya. "Oh, jadi sekarang lantai ini yang salah? Bukan kecerobohan Anda?"

Azzura tertegun. Pria ini sangat tidak ramah. "Maksud saya tidak begitu, Pak. Saya minta maaf. Biar saya bersihkan sepatu Bapak."

Azzura secara spontan merogoh tasnya, mengambil tisu basah, dan membungkuk untuk mengelap sepatu Haidar. Tindakan itu justru membuat Haidar merasa tidak nyaman. Ia menarik kakinya menjauh dengan kasar.

"Jangan sentuh saya!" gertak Haidar.

Azzura tersentak dan kembali berdiri tegak. Ia merasa harga dirinya sedikit tersinggung. "Saya hanya ingin membantu, Pak. Tidak perlu membentak seperti itu."

Cindy segera menengahi. "Azzura! Jaga bicaramu. Pak Haidar, ini adalah Azzura Yuana, sekretaris yang saya ceritakan tadi."

Haidar menatap Cindy, lalu kembali menatap Azzura dengan pandangan meremehkan. "Sekretaris? Dengan tingkat kecerobohan seperti ini? Saya tidak butuh badut di kantor saya, Bu Cindy."

Azzura mengepalkan tangannya di samping tubuh. Badut? Dia menyebutku badut? "Maaf Pak Brewok—eh, maksud saya Pak Haidar. Kejadian tadi murni kecelakaan. Saya profesional dalam pekerjaan saya."

Mendengar sebutan "Brewok", rahang Haidar mengeras. Belum pernah ada karyawan yang berani mengejek fisiknya secara terang-terangan di depan wajahnya.

"Profesional? Mari kita lihat seberapa profesional Anda setelah saya memberikan evaluasi pertama saya hari ini," ucap Haidar dingin. "Bersihkan kekacauan ini dalam lima menit, lalu datang ke ruangan saya. Dan jangan lupa, bawa kopi yang baru. Jika terlambat satu detik saja, Anda bisa langsung mengemasi barang-barang Anda."

Haidar membalikkan badan dan berjalan menuju ruangannya dengan langkah yang sangat keras, meninggalkan Azzura yang berdiri mematung dengan perasaan campur aduk.

Di dalam ruangannya, Haidar menghempaskan tubuh ke kursi kebesarannya. Ia memijat pangkal hidungnya. Pertemuan pertamanya dengan Azzura benar-benar merusak suasana hatinya yang sudah buruk sejak semalam.

Gadis itu mengingatkannya pada sesuatu yang sangat ia benci: ketidakberaturan. Arini dulu juga tipe wanita yang santai dan sering meremehkan hal-hal kecil, yang akhirnya berujung pada pengkhianatan besar. Bagi Haidar, kecerobohan Azzura adalah tanda awal dari ketidaksetiaan pada tanggung jawab.

Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya. Mata gadis itu. Saat Azzura membalas tatapannya tadi, tidak ada rasa tunduk yang buta. Ada api di sana, sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat pada orang-orang di sekitarnya. Semua orang biasanya takut padanya, tapi gadis ini... dia berani melawannya.

"Azzura Yuana..." gumam Haidar sambil melihat profil karyawan di komputernya. Ia melihat foto profil Azzura yang tersenyum ceria ke arah kamera. Kontras sekali dengan dirinya yang selalu memasang wajah mendung.

Tepat lima menit kemudian, ketukan di pintu terdengar.

"Masuk," sahut Haidar tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Azzura masuk dengan membawa segelas kopi baru dan beberapa map yang sudah dirapikan. Ia berjalan dengan sangat hati-hati, hampir terlihat kaku karena takut terpeleset lagi. Ia meletakkan kopi itu di atas meja Haidar dengan perlahan.

"Kopi hitam tanpa gula, sesuai catatan sekretaris lama. Dan ini laporan yang Anda minta, Pak," ucap Azzura dengan nada suara yang berusaha ditekan agar terdengar formal.

Haidar mengambil kopi tersebut, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali. Ia menatap Azzura yang berdiri tegak di depan mejanya.

"Dengar, Nona Azzura. Saya tidak peduli seberapa lama Anda sudah bekerja di sini atau seberapa baik penilaian Bu Cindy terhadap Anda. Di mata saya, Anda saat ini adalah beban. Saya memberikan Anda waktu satu minggu masa percobaan di bawah pengawasan langsung saya. Jika dalam satu minggu Anda melakukan satu saja kesalahan sekecil tumpahan kopi tadi pagi... Anda keluar."

Azzura menelan ludah. Syarat itu sangat berat, apalagi ia sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk biaya pengobatan ibunya yang sedang sakit jantung di kampung. Ia tidak punya pilihan selain bertahan.

"Baik, Pak. Saya terima tantangannya," jawab Azzura mantap.

Haidar sedikit terkejut dengan ketegasan jawaban itu. Ia menyandarkan tubuhnya, menyilangkan tangan di dada. "Bagus. Sekarang, mulailah dengan menjadwalkan ulang semua pertemuan saya untuk sisa minggu ini. Saya ingin kunjungan lapangan ke semua gudang distribusi. Dan Anda... Anda harus ikut saya."

Azzura mengangguk. "Baik, Pak. Akan segera saya siapkan."

Saat Azzura berbalik untuk keluar, Haidar memanggilnya sekali lagi.

"Satu lagi, Nona Azzura."

Azzura menoleh. "Ya, Pak?"

"Lain kali, ikat rambut Anda dengan benar. Ini kantor, bukan taman bermain," ucap Haidar tajam.

Azzura hanya bisa menghela napas panjang di dalam hati. Ia keluar dari ruangan itu dengan perasaan jengkel yang luar biasa. Pria itu benar-benar monster. Si Brewok Sombong yang merasa dunia berputar di sekelilingnya.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Azzura merasakan sesuatu yang aneh. Ia melihat ada kesedihan yang sangat dalam di balik mata tajam Haidar. Sebuah luka yang disembunyikan di balik jas mahal dan kata-kata kasar.

Azzura mengepalkan tangannya. Lihat saja, Pak Haidar. Aku akan membuktikan bahwa aku bukan beban. Dan aku akan membuatmu menyesal karena sudah menyebutku badut.

Di dalam ruangan, Haidar kembali menatap foto Arini di dalam lacinya sebelum menutupnya rapat-rapat. Pertempuran baru saja dimulai, bukan hanya antara dia dan sekretaris barunya, tetapi juga antara dia dan masa lalunya yang mulai terusik kembali.