Undangan itu masih tergeletak di meja ketika Rendra bangun pagi.

Ia mengambilnya sambil menyeruput kopi yang kubuat.

“Aku harus tampil maksimal di acara ini,” katanya tanpa melihatku. “Direktur Surya jarang bikin acara sebesar ini.”

Aku mengangguk pelan.

Direktur Surya.

Pria yang menentukan promosi jabatan.

Pria yang sangat memperhatikan detail.

Termasuk… siapa yang datang dan bagaimana penampilannya.

“Mas mau pakai jas yang mana?” tanyaku lembut.

Rendra menoleh. “Yang abu-abu tua.”

Yang itu.

Jas yang sudah dua tahun dipakai ke semua acara penting.

Aku pura-pura ragu.

“Itu bukan yang dipakai waktu presentasi gagal kemarin?”

Ia langsung kaku.

Ah. Titik sensitifnya.

“Itu bukan gagal,” desisnya. “Cuma revisi.”

“Tapi Mas bilang Pak Surya kurang puas…”

Ia membanting cangkir ke meja.

“Jangan menggurui aku!”

Aku menunduk.

Maaf, Mas.

Aku tidak menggurui.

Aku mengarahkan.


Siang itu aku mendekatinya dengan wajah sedikit cemas.

“Mas…”

“Apa lagi?”

“Kalau aku tampil biasa saja, nggak apa-apa?”

“Maksudnya?”

“Aku cuma punya gamis lama. Make up-ku juga habis. Takut mempermalukan Mas.”

Ia terdiam.

Rendra tipe pria yang tidak peduli kenyamanan istrinya.

Tapi sangat peduli penilaian orang lain.

“Apa maksud kamu mempermalukan?”

“Kalau istri manajer datang tanpa make up, pakai baju lusuh… orang bisa berpikir Mas nggak mampu.”

Kalimat itu sengaja kuucapkan pelan.

Namun cukup keras untuk menghantam harga dirinya.

Wajahnya berubah.

“Berapa?”

Aku pura-pura menghitung di kepala.

“Salon dan make up mungkin… satu juta.”

“Satu juta?!” suaranya melengking.

Aku cepat-cepat menambahkan, “Kalau kemahalan nggak apa-apa. Aku pakai bedak lama saja.”

Diam.

Ia berjalan mondar-mandir.

“Ada paket yang lebih murah?”

“Kalau murah biasanya hasilnya menor, Mas…”

Ia menggertakkan gigi.

Harga diri vs uang.

Aku tahu siapa yang menang.

“Ambil uangku di laci.”

Aku tersenyum dalam hati.

Langkah pertama.

Berhasil.


Tapi aku belum selesai.

Malamnya aku duduk di sampingnya.

“Mas…”

“Kenapa lagi?”

“Amplopnya kira-kira berapa?”

Ia terdiam.

Aku tahu ia belum memikirkan itu.

Padahal di acara seperti itu, nominal amplop adalah simbol status.

“Ada manajer lain datang, kan?” tanyaku.

“Iya.”

“Biasanya mereka isi berapa ya?”

Ia menatap kosong ke depan.

Aku sengaja membuka ponsel.

“Katanya kalau level manajer minimal lima juta supaya nggak terlihat kecil…”

“LIMA JUTA?!” ia berdiri.

“Kalau Mas isi satu juta nanti dibandingkan… aku cuma takut Mas jadi bahan omongan.”

Aku melihat dadanya naik turun.

Ia sedang berhitung cepat.

Gaji lima belas juta.

Cicilan motor.

Cicilan kartu kredit.

Belum belanja.

Belum listrik.

Tapi gengsi?

Tidak ada batasnya.

“Aku nggak bisa lima juta.”

Aku pura-pura terdiam.

“Ya sudah… dua juta saja?”

Ia masih gelisah.

“Aku nggak mau kelihatan miskin,” gumamnya.

Aku menatapnya lembut.

“Mas nggak miskin kok.”

Kalimat itu seperti bensin pada api harga diri.

Ia mengambil ponselnya.

Membuka aplikasi pinjaman online.

Aku pura-pura tidak melihat.

Namun sudut bibirku hampir terangkat.

Ia sedang menggali lubang sendiri.

Dan aku hanya memberi sekop.


Keesokan harinya aku pergi ke salon.

Bukan untuk paket satu juta.

Aku hanya touch up alis dan hair spa sederhana.

Total: dua ratus lima puluh ribu.

Sisanya?

Masuk ke rekening rahasiaku.

Sore itu aku menemui Marni.

“Bu Azzura, wajahnya beda!”

“Latihan jadi orang kaya,” jawabku ringan.

Marni tertawa.

“Mas Rendra masih nggak tahu soal omzet bulan ini?”

Aku menggeleng.

“Sudah tembus delapan puluh tiga juta.”

Ia membelalak bangga.

Aku menatap buku laporan.

Bersih.

Rapi.

Profesional.

Kalau Rendra tahu aku bisa menghasilkan lima kali lipat gajinya…

Harga dirinya akan runtuh.

Tapi belum.

Belum sekarang.

Aku ingin ia jatuh dari tempat tinggi.

Bukan tersandung di tangga pertama.


Hari acara tiba.

Aku mengenakan gamis lama yang sudah kusetrika rapi.

Dengan make up natural.

Aku tampak elegan.

Tidak berlebihan.

Namun cukup untuk membuat orang menoleh.

Rendra tampak tegang.

Amplop coklat di tangannya terasa berat.

“Mas isi berapa?” tanyaku lembut.

Ia menelan ludah.

“Tiga juta.”

Pinjaman online cair semalam.

Bunganya 18%.

Aku hampir tersenyum.

Di ballroom hotel, lampu kristal berkilau.

Para manajer datang bersama istri-istri anggun.

Aku melihat beberapa di antaranya mengenakan tas branded.

Rendra langsung mengecil.

Aku meraih lengannya.

“Mas kelihatan paling percaya diri.”

Ia langsung menegakkan bahu.

Ah.

Begitu mudahnya memompa laki-laki yang haus pengakuan.

Saat kami mendekati meja penerima tamu, seorang pria menyapa.

“Rendra! Datang juga.”

Pak Surya.

Direktur utama.

Rendra langsung tersenyum lebar.

Aku menunduk sopan.

Pak Surya menatapku sejenak.

“Ini istri Anda?”

“Iya, Pak.”

“Cantik. Anggun sekali.”

Aku tersenyum tipis.

“Terima kasih, Pak.”

Rendra tampak bangga.

Amplop diserahkan.

Pak Surya menerimanya.

Sekilas saja.

Namun aku melihat alisnya terangkat sedikit.

Menilai.

Mencatat.

Dan saat kami melangkah masuk ke dalam ballroom…

Ponsel Rendra bergetar.

Notifikasi.

Tagihan pinjaman.

Angsuran pertama jatuh tempo dua minggu lagi.

Wajahnya berubah pucat.

Ia menghitung cepat di kepala.

Aku berdiri di sampingnya.

Tenang.

Diam.

Seperti emas di brankas kecilku.

Tak bersuara.

Namun bernilai.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku melihat sesuatu di matanya.

Bukan marah.

Bukan sombong.

Tapi takut.

Takut tidak mampu mempertahankan citranya.

Dan itu…

Baru permulaan.

Karena malam ini aku belum memberitahunya satu hal.

Aku sengaja membawa kartu namaku.

Yang bertuliskan:

Azzura Prameswari

Konsultan Digital Marketing

Dan tadi…

Pak Surya memintanya.


Aku menatap ponselku.

Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal.

“Bu Azzura, saya Surya. Kita bisa bertemu minggu depan? Saya tertarik dengan profil Anda.”

Aku tersenyum.

Di sampingku, Rendra masih sibuk menghitung beban hutangnya.

Ia tidak tahu.

Pintu yang selama ini ia jaga mati-matian…

Baru saja kubuka dari sisi lain.