Ruang meeting lantai sembilan terasa lebih dingin dari biasanya.
Semua manajer sudah duduk ketika aku masuk.
Beberapa wajah menoleh.
Beberapa pura-pura sibuk membuka laptop.
Dan di sisi kiri meja panjang itu…
Rendra duduk dengan rahang mengeras.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
ia harus melihat istrinya berjalan ke ujung meja rapat,
bukan sebagai pendamping,
bukan sebagai tamu—
Tapi sebagai pimpinan.
Aku berdiri di depan layar presentasi.
“Selamat pagi.”
Suara yang stabil.
Tidak gemetar.
Tidak ragu.
“Mulai hari ini, Divisi Digital Transformation resmi berjalan. Target kita enam bulan pertama adalah menaikkan engagement dan konversi sebesar tiga puluh persen.”
Beberapa orang langsung mencatat.
Aku menekan remote.
Grafik muncul.
“Selama dua tahun terakhir, strategi digital perusahaan stagnan.”
Kalimat itu sengaja netral.
Tidak menyebut nama.
Namun semua orang tahu siapa yang memegang strategi sebelumnya.
Aku melirik Rendra sekilas.
Ia tidak menatapku.
Tapi jarinya mencengkeram pena terlalu kuat.
“Mas Rendra,” ucapku profesional,
“bisa jelaskan alasan penurunan conversion rate kuartal terakhir?”
Hening.
Semua mata beralih padanya.
Ia menarik napas.
“Karena perubahan algoritma platform.”
Aku mengangguk.
“Betul. Lalu adaptasinya apa?”
Ia terdiam.
Beberapa detik.
Lalu sepuluh detik.
Ruangan mulai tidak nyaman.
Aku melangkah mendekat.
“Data menunjukkan tidak ada penyesuaian strategi setelah perubahan algoritma. Kenapa?”
Ia menatapku sekarang.
Tatapan campur aduk:
marah,
malu,
terancam.
“Kami sedang dalam proses,” jawabnya akhirnya.
Aku tersenyum tipis.
“Baik. Mulai minggu ini kita tidak lagi dalam proses. Kita eksekusi.”
Beberapa orang terlihat menahan napas.
Aku tidak membentaknya.
Tidak mempermalukannya.
Tapi lebih menyakitkan dari itu.
Aku membuktikan bahwa ia tidak siap.
Rapat selesai satu jam kemudian.
Tim terlihat antusias.
Beberapa bahkan mendekatiku.
“Bu Azzura, presentasinya jelas banget.”
“Strateginya fresh.”
“Kita memang butuh perubahan.”
Rendra keluar lebih dulu.
Tanpa menatapku.
Siang itu aku menerima pesan dari Pak Surya.
“Good job. Tim terlihat hidup lagi.”
Aku membalas singkat,
“Terima kasih atas kepercayaannya, Pak.”
Di sisi lain kota, Rendra sedang menatap layar ponselnya dengan wajah pucat.
Notifikasi baru.
Pinjaman online menagih.
Nada ancaman mulai muncul.
“Jika tidak dibayar, kami akan menghubungi kontak darurat Anda.”
Kontak darurat.
Nomorku.
Ia langsung mematikan ponselnya.
Keringat dingin muncul di pelipisnya.
Gajinya bulan ini hampir habis sebelum tanggal sepuluh.
Amplop tiga juta.
Salon satu juta.
Cicilan.
Tagihan lama.
Dan sekarang—
istrinya menjadi atasannya.
Ia merasa terpojok.
Dan pria yang terpojok akan melakukan dua hal:
mengaku salah…
atau menyerang.
Rendra memilih yang kedua.
Malam itu pintu rumah dibuka lebih keras dari biasanya.
“Kamu puas?”
Aku sedang menyuapi Alea.
“Puas apa, Mas?”
“Kamu sengaja mempermalukan aku di depan tim!”
Aku menatapnya tenang.
“Aku menjalankan rapat.”
“Kamu bisa tanya orang lain dulu!”
“Data menunjuk kamu sebagai penanggung jawab.”
Ia mendekat.
Terlalu dekat.
“Kamu mau hancurkan aku?”
Aku tersenyum tipis.
“Mas menghancurkan diri sendiri jauh sebelum aku masuk kantor itu.”
Tangannya mengepal.
Aku tahu pola ini.
Ia ingin menampar.
Ingin menunjukkan kuasa.
Namun kali ini ada yang berbeda.
Ia tahu sekarang…
aku bukan lagi perempuan yang hanya bergantung padanya.
Dan tamparan itu bisa berbalik menghancurkannya.
Ia mundur selangkah.
“Jangan ikut campur hutangku.”
Aku berhenti menyuapi Alea.
“Hutang apa?”
Ia membeku.
Terlambat.
Aku menatapnya lurus.
“Pinjaman online yang berbunga delapan belas persen itu?”
Wajahnya langsung pucat.
“Kamu ngintip ponselku?!”
“Aku cuma tidak sengaja lihat notifikasi.”
Ia terdiam.
Untuk pertama kalinya,
aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya di matanya.
Takut.
Bukan takut padaku.
Tapi takut kehilangan kendali.
“Berapa totalnya, Mas?” tanyaku pelan.
Ia tidak menjawab.
Aku melanjutkan,
“Sepuluh juta? Atau lebih?”
Sunyi.
Jam dinding berdetak keras.
“Kenapa kamu tahu semua?” suaranya melemah.
Aku mendekat.
Namun bukan untuk memeluk.
“Karena aku selalu tahu, Mas. Kamu cuma tidak pernah menyadari.”
Kalimat itu seperti palu terakhir.
Ia terduduk di sofa.
Wajahnya kosong.
Harga diri yang selama ini ia bangun mulai retak.
Namun malam itu belum selesai.
Ponselnya berbunyi lagi.
Nomor tak dikenal.
Ia ragu.
Tapi akhirnya menjawab.
“Pak Rendra, kami dari pihak pinjaman. Jika tidak ada pembayaran dalam tiga hari, kami akan hubungi seluruh kontak Anda.”
Suara itu keras.
Mengintimidasi.
Rendra menutup telepon dengan tangan gemetar.
Aku berdiri di depan jendela.
Lampu kota berkelip jauh di sana.
Permainan ini berjalan lebih cepat dari yang kuduga.
Tapi aku belum menyentuh langkah terakhir.
Belum.
Karena kehancuran yang manis adalah kehancuran yang perlahan.
“Aku bisa bantu,” ucapku akhirnya.
Ia menoleh cepat.
“Bantu apa?”
“Aku bisa lunasi hutang Mas.”
Wajahnya berubah.
Antara lega…
dan terhina.
“Kamu dapat uang dari mana?”
Aku menatapnya dalam.
Senyum kecil muncul di sudut bibirku.
“Itu rahasiaku.”
Dan untuk pertama kalinya,
Rendra menyadari satu hal:
Ia tidak pernah benar-benar mengenal istrinya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar