Rendra tidak berbicara padaku sepanjang sarapan.

Sendoknya beradu dengan piring lebih keras dari biasanya.

Alea yang duduk di kursi bayi menatap ayahnya bingung.

Aku menyuapi putriku dengan tenang.

“Mas mau berangkat jam berapa?” tanyaku lembut.

Ia tidak menjawab.

Hanya berdiri, mengambil tas kerja, lalu berkata singkat,

“Jangan ikut campur urusan kantorku.”

Pintu ditutup sedikit lebih keras.

Aku tersenyum kecil.

Kalimat itu terdengar seperti peringatan.

Padahal sebenarnya itu pengakuan.

Ia merasa terganggu.


Siang itu, seperti janji sebelumnya, aku kembali ke kantor Pak Surya.

Ruangannya kali ini lebih formal.

Ada dua orang lain di dalam: kepala HR dan satu pria berjas gelap yang belum pernah kulihat.

Pak Surya berdiri saat aku masuk.

“Bu Azzura, silakan duduk.”

Aku duduk tegak.

Tenang.

Seolah aku memang pantas berada di sana.

“Setelah saya pikirkan,” kata Pak Surya, “kami memang membutuhkan restrukturisasi digital. Dan saya ingin Anda memimpinnya.”

Pria berjas gelap menatapku tajam.

“Kami dengar Anda sudah dua tahun tidak aktif di korporasi.”

Aku tersenyum tipis.

“Dua tahun saya membangun bisnis dari nol hingga stabil delapan puluh juta per bulan tanpa tim besar. Saya rasa itu lebih kompleks daripada mengelola divisi yang sudah punya struktur.”

Hening.

Kepala HR saling pandang dengan Pak Surya.

Pria berjas gelap akhirnya mengangguk pelan.

“Berapa angka final yang Anda minta?”

Aku menyebut nominal yang sama seperti sebelumnya.

Gaji dua kali lipat Rendra.

Plus bonus performa.

Pak Surya tidak langsung menjawab.

Ia berdiri, berjalan ke jendela, lalu berkata,

“Kalau saya setuju, Anda siap masuk bulan depan?”

Aku menatap lurus ke arahnya.

“Saya siap minggu depan.”

Ia tersenyum.

“Baik. Saya suka orang yang siap bertarung.”

Tangan kami berjabat.

Dan pada detik itu, keseimbangan rumah tanggaku resmi bergeser.


Sementara itu, di kantor, Rendra tidak sedang dalam kondisi baik.

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Katanya divisi digital bakal dipimpin orang luar.”

“Tim internal nggak ada yang kompeten?”

“Pak Surya bilang ada konsultan yang lebih tajam.”

Rendra berdiri di ruangannya, mendengar semua itu.

Ia tahu satu hal.

Selama ini ia yang mengusulkan strategi digital.

Jika orang luar masuk dan terbukti lebih baik…

Jabatannya goyah.

Ia menggenggam ponsel.

Ingin meneleponku.

Namun harga dirinya menahan.


Malam itu ia pulang lebih larut.

Wajahnya tegang.

“Apa kamu benar ke kantor Pak Surya?”

Langsung.

Tanpa basa-basi.

Aku menatapnya tenang.

“Iya.”

“Ngapain?”

“Meeting.”

“Meeting apa?!”

Alea terbangun karena suara kerasnya.

Aku menggendong putriku dulu sebelum menjawab.

Strategi kedua:

Jangan pernah menjawab dalam keadaan emosional.

“Mas takut?” tanyaku pelan.

Ia membeku.

“Aku nggak takut!”

“Kalau nggak takut, kenapa marah?”

Wajahnya memerah.

“Kamu tahu nggak itu wilayahku?”

Aku tersenyum tipis.

“Wilayah Mas? Perusahaan itu milik Mas?”

Tamparan tidak datang kali ini.

Ia hanya terdiam.

Aku melanjutkan dengan suara stabil.

“Dua tahun lalu Mas bilang aku nggak perlu kerja karena Mas mampu.”

Ia menelan ludah.

“Aku hanya memastikan… kalau suatu hari Mas nggak mampu, kita tetap aman.”

Kalimat itu seperti pisau halus.

Bukan karena kasar.

Tapi karena benar.


Dua hari kemudian, surat keputusan resmi keluar.

Divisi Digital Transformation dibentuk.

Nama pemimpin tercetak jelas:

Azzura Prameswari.

Rendra membaca email itu di ruangannya.

Tangannya gemetar.

Ia membuka lampiran struktur organisasi.

Jabatannya kini berada satu level di bawah kepala divisi baru.

Yang artinya…

Di bawahku.

Ia langsung berdiri dan menuju ruang Pak Surya.

“Pak, saya keberatan.”

Pak Surya menatapnya tenang.

“Kenapa?”

“Saya sudah lama mengelola strategi digital.”

“Dan hasilnya stagnan, Rendra.”

Kalimat itu memukul lebih keras dari tamparan.

“Bu Azzura punya pendekatan berbeda.”

“Dia istri saya, Pak.”

Pak Surya tersenyum samar.

“Justru itu menarik.”

Menarik?

Rendra tidak tahu harus merasa bangga atau terancam.


Sore itu aku menerima pesan dari HR.

Kontrak sudah siap.

Mulai efektif minggu depan.

Aku berdiri di dapur ketika Rendra pulang.

Wajahnya pucat.

“Kenapa Mas?”

Ia menatapku lama.

“Selamat.”

Aku memiringkan kepala.

“Untuk apa?”

“Untuk jabatan barumu.”

Alea tertawa kecil di lantai.

Suasana rumah terasa berbeda.

Bukan hangat.

Bukan dingin.

Tegang.

Aku berjalan mendekat.

“Mas marah?”

Ia menatapku tajam.

“Kamu sengaja.”

Aku tersenyum pelan.

“Aku hanya bekerja.”

Ia menggertakkan gigi.

“Kamu mau mempermalukan aku?”

“Tidak.”

Aku berhenti tepat di depannya.

“Aku mau berdiri sejajar.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Sejajar.

Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia izinkan.


Malam itu, saat ia tidur dengan punggung membelakangiku, ponselnya kembali berbunyi.

Tagihan kedua.

Pinjaman lain yang ia ajukan dua hari lalu.

Total hutang kini hampir sepuluh juta.

Bunga berjalan.

Aku menutup layar ponselnya perlahan.

Aku tidak perlu menghancurkannya secara langsung.

Ia sedang menghancurkan dirinya sendiri.

Dan aku hanya memastikan…

Saat ia jatuh,

Tidak ada lagi yang bisa ia salahkan selain egonya.


Namun aku belum tahu satu hal.

Di kantor, beberapa pria mulai berbisik.

“Istri Rendra sekarang atasan kita.”

“Kira-kira hubungan rumahnya gimana ya?”

“Kalau berantem di rumah, kerjaannya ikut kacau nggak?”

Gosip.

Dan gosip bisa jadi api liar.

Aku menatap email resmi yang baru saja masuk.

Meeting perdana divisi digital.

Semua manajer wajib hadir.

Termasuk Rendra.

Dan aku yang akan memimpin rapat itu.

Aku menarik napas dalam.

Ini bukan lagi permainan kecil.

Ini pertarungan terbuka.

Dan minggu depan…

Untuk pertama kalinya,

Rendra harus duduk di kursi bawahan,

Sementara aku berdiri di depan ruangan.

Sebagai atasan.