PLAK!

Tamparan itu begitu keras sampai telingaku berdengung.

Aku tidak terjatuh. Tidak kali ini.

Namun rasa panas di pipi kiriku menjalar sampai ke dada. Bukan karena sakitnya. Tapi karena hinaannya.

“Seratus ribu buat seminggu aja nggak cukup? Otak S2-mu itu buat apa, Zura?!”

Aku menunduk.

Bukan karena takut.

Karena kalau aku menatapnya sekarang, Rendra akan melihat sesuatu yang belum siap ia hadapi: kebencian.

“Jawab!” bentaknya lagi.

Aku menarik napas perlahan. “Alea butuh susu. Popoknya habis. Gas juga hampir kosong.”

“POPOK LAGI?!” Suaranya memantul di dinding ruang tamu. “Pakai kain! Emang kamu kerja apa sampai boros kayak gini?”

Kerja?

Aku hampir tertawa.

Dua tahun lalu aku manajer audit di perusahaan internasional. Gajiku dua puluh dua juta per bulan.

Sekarang?

Aku harus meminta seratus ribu tambahan pada suamiku sendiri.

Dan tetap dianggap boros.

“Mas yang nggak suka kalau Alea ngompol,” jawabku pelan.

Ia mendengus. “Alasan.”

Tanganku mengepal di balik lipatan gamis lusuh yang sengaja kupakai di rumah.

Ya, sengaja.

Sejak aku berhenti bekerja atas permintaannya, Rendra berubah.

Naik jabatan. Gaji naik hampir dua kali lipat.

Dan harga dirinya ikut membumbung.

Ia membeli iPhone terbaru bulan lalu.

Padahal cicilan laptop lamanya saja belum lunas.

“Mas,” kataku hati-hati, “gaji Mas sekarang lima belas juta. Masa buat makan keluarga cuma empat ratus ribu?”

Tawa Rendra melengking.

“Kita nggak punya cicilan? Kamu pikir ini gratis?” Ia mengangkat ponsel mahalnya. “Aku baru beli ini!”

Aku menatap benda itu.

Harga dua bulan nafkah rumah tangga.

“iPhone yang lama rusak?” tanyaku polos. “Kalau nggak, boleh aku pakai? HP-ku sering dilempar Alea.”

Wajahnya langsung mengeras.

“Dasar nggak tahu diri. Nggak mandiri.”

Nggak mandiri?

Yang memintaku resign adalah dia.

Yang meyakinkan ayahku bahwa ia sanggup menafkahi adalah dia.

Yang kini memberiku empat ratus ribu sebulan dan merasa seperti raja adalah dia.

Aku mengangguk pelan.

“Boleh minta seratus ribu lagi?”

“Cari sendiri!”

Pintu kamar dibanting keras.

Ya. Kamar.

Sejak Alea lahir, ia tak pernah lagi sekamar denganku. Katanya terganggu suara bayi.

Aku berdiri sendirian di ruang tamu.

Sunyi.

Namun sudut bibirku perlahan terangkat.

Cari sendiri?

Baik.

Aku memang sudah mencarinya.


Sepuluh menit kemudian aku sudah berjalan menyusuri gang belakang kompleks.

Menggendong Alea dengan kain panjang.

Menuju rumah kecil yang dulu berdinding anyaman.

Sekarang sudah tembok batako rapi.

“Bu Azzura!” Marni langsung membuka pintu. Wajahnya berbinar.

“Sudah makan?”

Aku menggeleng.

Ia mendecak kesal. “Mas Rendra masih pelit aja?”

Aku tersenyum samar. “Biasa.”

Ia menyuapi Alea sambil menggerutu panjang.

Aku memandangi rak kecil di sudut ruang.

Label botol-botol sambal tertata rapi.

Pesanan siap kirim.

Omzet bulan lalu: 67 juta.

Ya.

Enam puluh tujuh juta.

Tidak ada yang tahu kalau bisnis “Sambal Mbak Marni” sebenarnya milikku.

Akulah yang membuat sistem reseller.

Akulah yang mengatur digital marketing.

Akulah yang menyusun strategi harga.

Marni hanya wajah depan.

Ia mendapatkan 35% keuntungan.

Sisanya?

Masuk ke rekening rahasiaku.

Yang Rendra tak pernah tahu.

Di bawah kasur tempatku tidur, ada brankas kecil.

Berisi emas batangan.

Bukan perhiasan.

Bukan cincin.

Lempeng-lempeng investasi.

Diam.

Padat.

Meningkat nilainya setiap bulan.

Aku tak butuh tas mahal.

Tak butuh skincare premium.

Tak butuh pamer.

Aku butuh waktu.

Dan momen yang tepat.


Sore itu saat aku pulang, sebuah kotak pizza tergeletak di meja.

Kosong.

Ia makan sendiri.

Tanpa membawakan untukku.

Di bawah kotak itu ada sebuah undangan.

Pernikahan putri Direktur Utama perusahaan tempat Rendra bekerja.

Namanya Surya Adinata.

Aku tersenyum.

Ah.

Ini akan menarik.

Rendra sangat terobsesi naik jabatan.

Dan aku tahu satu hal tentang orang seperti dia:

Ia ingin terlihat kaya.

Dihormati.

Dipandang.

Dan itu mahal.

Sangat mahal.

Aku mengambil undangan itu.

Membaca detailnya.

Minggu depan.

Hotel bintang lima.

Tamu penting.

Amplop pasti diperhatikan.

Aku menatap cermin.

Wajahku tenang.

Namun pikiranku bekerja cepat.

Jika Rendra ingin terlihat besar…

Maka aku akan membuatnya mengeluarkan biaya besar.

Sedikit demi sedikit.

Tanpa ia sadari.

Dan saat fondasinya rapuh…

Aku akan menarik lantainya.

Sekaligus.


Malam itu ia keluar kamar.

“Zura. Minggu depan kamu ikut ke pesta.”

“Make up-ku sudah expired,” jawabku tenang.

“Pakai aja.”

“Kalau alergi?”

“Lebay.”

Aku tersenyum tipis.

Baik.

Kita mulai dari sana.

Langkah pertama selalu kecil.

Namun dampaknya bisa berantai.

Rendra belum tahu.

Ia pikir ia sedang memberi istrinya seratus ribu.

Padahal istrinya sedang membangun kerajaan.

Dan kerajaan tidak dibangun dengan emosi.

Tapi dengan strategi.

Aku mengusap pipiku yang tadi ditampar.

Sudah tidak terasa sakit.

Karena sekarang aku punya rasa lain.

Yang lebih panas.

Balas dendam.

Dan aku tidak akan berhenti.

Sampai ia kehilangan semuanya.


Minggu depan akan menjadi awal.

Awal dari kejatuhan Rendra Mahardika.

Dan ia akan menyalahkan dunia.

Tanpa pernah sadar…

Istrinya sendiri yang menyalakan apinya.