Pesan itu masih kubaca berulang-ulang.

“Bu Azzura, saya Surya. Kita bisa bertemu minggu depan? Saya tertarik dengan profil Anda.”

Aku tidak langsung membalas.

Strategi pertama dalam negosiasi:

Jangan terlihat terlalu butuh.

Rendra sedang mandi ketika ponselnya kembali bergetar.

Kali ini dari aplikasi pinjaman online.

Tagihan pertama: Rp1.380.000

Jatuh tempo: 14 hari.

Ia mengumpat pelan dari dalam kamar mandi.

Aku menutup layar ponselnya sebelum ia keluar.

“Kenapa Mas?” tanyaku polos.

“Bukan urusan kamu.”

Aku menunduk.

Dulu kalimat seperti itu membuatku kecil.

Sekarang?

Itu hanya konfirmasi bahwa ia mulai tertekan.

Dan pria yang tertekan akan membuat kesalahan.


Siang itu aku membalas pesan Pak Surya.

“Baik, Pak. Saya bisa bertemu hari Rabu.”

Jawabannya cepat.

“Jam 10 pagi di kantor.”

Aku menatap cermin setelah membaca pesan itu.

Sudah dua tahun aku tidak duduk di ruang meeting formal.

Sudah dua tahun aku berpura-pura menjadi ibu rumah tangga penuh waktu yang bergantung pada suami.

Lucu.

Padahal omzet bulan ini sudah menyentuh delapan puluh tiga juta.

Bahkan lebih stabil dari gaji Rendra.

Tapi permainan ini belum selesai.

Aku ingin lebih dari sekadar mandiri.

Aku ingin dominan.


“Rabu kamu mau ke mana?” tanya Rendra malam itu.

Nada suaranya berbeda.

Curiga.

“Ketemu teman lama.”

“Teman apa?”

“Bisnis.”

Ia terdiam.

“Bisnis apa? Kamu kan nggak kerja.”

Kalimat itu nyaris membuatku tertawa.

“Aku cuma bantu-bantu kecil,” jawabku ringan.

Ia menatapku tajam.

“Aku nggak suka kamu aneh-aneh.”

Aneh?

Yang aneh adalah pria yang meminjam uang demi amplop gengsi.

Tapi aku tidak berkata begitu.

Belum.


Hari Rabu tiba.

Aku mengenakan blouse putih sederhana dan rok hitam formal.

Tas kulit lama yang dulu kubeli dengan uang gajiku sendiri.

Aku tidak perlu tas bermerek.

Kepercayaan diri adalah aksesori termahal.

Di depan gedung kantor, aku menarik napas dalam.

Gedung itu lebih besar dari yang kubayangkan.

Lantai marmer.

Resepsionis profesional.

Aroma kopi mahal.

Aku tidak merasa kecil.

Aku merasa kembali.

Pak Surya menyambutku langsung di ruang meeting.

“Bu Azzura. Saya tidak menyangka Anda berhenti bekerja.”

“Saya mengambil jeda, Pak.”

Ia tersenyum.

“Profil Anda impresif. Audit, sistem, digital marketing. Kenapa berhenti?”

Aku tidak menjawab pertanyaan itu secara penuh.

“Prioritas keluarga.”

Ia mengangguk paham.

“Tapi sekarang Anda ingin kembali?”

Aku tersenyum tipis.

“Saya tidak pernah benar-benar berhenti.”

Ia tertarik.

Aku membuka tablet.

Menunjukkan data.

Grafik pertumbuhan bisnis sambal yang kubangun.

Strategi reseller.

Retensi pelanggan.

Optimasi iklan.

Pak Surya menyandarkan tubuhnya.

“Ini omzet?”

“Ya, Pak.”

“Delapan puluh tiga juta per bulan?”

“Bersih.”

Ia terdiam beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

“Dan suami Anda tahu?”

Aku ikut tersenyum.

“Tidak semuanya.”

Tatapannya berubah.

Bukan lagi sekadar tertarik.

Tapi menghitung.

“Perusahaan kami sedang ekspansi divisi digital. Saya butuh orang seperti Anda.”

Jantungku berdetak stabil.

Bukan karena gugup.

Karena ini lebih cepat dari yang kurencanakan.

“Saya tidak ingin posisi biasa, Pak.”

Ia mengangkat alis.

“Lalu?”

“Saya ingin mengatur sistem dari awal. Full kontrol tim digital.”

Berani.

Sangat berani.

Tapi pria seperti Pak Surya menghargai keberanian.

“Gajinya?” tanyanya.

Aku menyebut angka.

Dua kali lipat gaji Rendra.

Ruangan hening beberapa detik.

Lalu ia tersenyum.

“Kita bisa diskusikan.”

Diskusikan.

Artinya terbuka.

Saat aku keluar dari gedung itu, langit terasa lebih cerah.

Bukan karena cuaca.

Tapi karena kekuasaan mulai berpindah.


Sore itu Rendra duduk dengan wajah kusut.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kartu kreditku hampir limit.”

Aku menatapnya lembut.

“Mas mau aku bantu cari tambahan uang?”

Ia langsung tersinggung.

“Aku masih mampu!”

Aku mengangguk pelan.

Tentu saja.

Pria seperti dia lebih rela tenggelam daripada mengakui butuh pertolongan.

“Aku cuma khawatir,” ucapku pelan.

Ia berdiri.

“Jangan ikut campur.”

Baik.

Aku tidak akan ikut campur.

Aku akan mengatur dari luar.


Malam itu Pak Surya mengirim pesan lagi.

“Bu Azzura, saya sudah pikirkan. Saya setuju dengan konsep Anda. Kita bertemu lagi Jumat untuk finalisasi.”

Aku mematikan layar.

Rendra tertidur lebih dulu malam itu.

Wajahnya terlihat lelah.

Terhimpit cicilan.

Terhimpit gengsi.

Terhimpit ketakutan.

Aku duduk di tepi kasur.

Menatap brankas kecil di bawah tempat tidur.

Di dalamnya ada emas batangan.

Berat.

Padat.

Tenang.

Seperti diriku sekarang.

Aku tidak marah lagi.

Aku tidak sedih lagi.

Aku strategis.

Dan saat Rendra akhirnya tahu siapa aku sebenarnya…

Ia bukan hanya akan kehilangan uang.

Ia akan kehilangan harga diri.


Namun aku tidak menyangka satu hal.

Keesokan paginya ponsel Rendra berbunyi keras.

Ia menjawab dengan wajah pucat.

“Pak Surya? Iya, Pak…”

Ia menatapku sekilas.

Tatapannya berbeda.

“Apa? Divisi digital akan dibentuk ulang?”

Jantungku berdetak sekali.

Pelan.

“Baik, Pak… saya mengerti.”

Telepon ditutup.

Ia menatapku lama.

Terlalu lama.

“Kamu kemarin ke kantor Pak Surya?”

Aku tersenyum tipis.

“Ada apa, Mas?”

Wajahnya berubah.

“Kenapa Pak Surya tiba-tiba bilang dia ketemu konsultan yang lebih kompeten dari tim internal?”

Aku tidak menjawab.

Karena jawaban terbaik kadang adalah diam.

Dan untuk pertama kalinya…

Rendra tidak melihat istrinya sebagai wanita lemah.

Ia melihat ancaman.