Angin berembus terlalu kencang untuk sekadar disebut angin malam.

Ia melolong.

Menyusup di sela-sela jendela rumah megah itu, membuat tirai putih bergetar seperti napas seseorang yang sedang menahan tangis.

Di ruang makan yang hangat dan terang, keluarga itu tertawa.

Tidak ada yang ingin membicarakan masa lalu.

Tidak malam ini.

“Kita rayakan ulang tahun Aluna dengan bahagia!” seru Sutrisno, kakek yang rambutnya sudah memutih seluruhnya, tapi senyumnya dipaksakan terlalu lebar.

Lilin di atas kue bergetar sebelum akhirnya padam oleh tiupan kecil gadis berambut panjang itu.

Aluna tersenyum.

Terlalu manis.

Terlalu polos.

Namun ketika ia membuka mata setelah berdoa, sekelebat bayangan putih seperti berdiri di balik jendela.

Mengamati.

Bram cepat-cepat menutup kaca yang bergetar.

“Ayah seperti melihat sesuatu?” tanya Tania.

“Tidak,” jawabnya cepat. “Cuma pantulan cahaya.”

Padahal barusan ia yakin melihat sosok anak kecil berdiri di luar.

Dengan gaun panjang.

Rambut menutupi wajah.

Dan mata… yang terlalu kosong untuk disebut hidup.

Angin kembali menghantam dinding.

Braaak!

Sesuatu seperti ranting menghantam jendela.

Aluna terdiam.

“Kakek…” suaranya pelan.

“Iya, Sayang?”

“Kalau teman punya rahasia… boleh nggak kita cerita ke orang tua?”

Suasana meja makan berubah.

Tidak langsung terasa.

Tapi seperti suhu ruangan turun satu derajat.

“Rahasia apa?” tanya Tania sambil tersenyum tipis.

“Aku punya teman baru. Namanya Mira.”

Sendok Sutrisno terjatuh.

Bram menoleh cepat.

“Teman baru?” ulangnya.

“Iya. Dia tinggal dekat rumah kita. Tapi anehnya… aku nggak pernah lihat rumahnya siang hari.”

Tania tertawa kecil, mencoba meredakan sesuatu yang tidak ingin ia akui.

“Namanya siapa tadi?”

“Mira.”

Hening.

Nama itu seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur tua.

Dalam.

Gema.

Tak berujung.

“Dia bilang… dia punya teman juga. Namanya Laras.”

Sutrisno berdiri tiba-tiba.

“Sudah cukup.”

Suasana makan selesai mendadak.

Aluna tidak mengerti kenapa wajah orang-orang dewasa itu berubah pucat.

Ia hanya tahu satu hal.

Mira sedih tadi sore.

Karena katanya… waktunya sudah hampir tiba.


Di Tempat Lain

Raina terbangun dengan napas terengah.

Jam menunjukkan pukul 02.13 dini hari.

Ia bermimpi lagi.

Kabut.

Bau tanah basah.

Dan suara Laras memanggilnya dari balik dinding kamar mandi.

Empat bulan sebelum kematian itu terjadi, Raina masih mendengar jeritan adiknya setiap malam.

Jeritan yang dulu ia kira hanya proses “ritual pembersihan”.

Ritual yang katanya untuk menyembuhkan penyakit.

Tapi yang justru mengeringkan tubuh Laras.

Sedikit demi sedikit.

Sampai yang tersisa hanyalah sesuatu yang menyerupai kayu kering.

Tubuh kecil yang tak lagi memiliki air mata.

Raina memejamkan mata.

Ia sudah dewasa sekarang.

Sudah punya anak.

Sudah pindah jauh dari desa itu.

Tapi bayangan malam ketika ayah dan ibunya membawa Laras ke kamar mandi masih menempel seperti noda darah yang tak bisa dicuci.

Ia mendengar langkah kecil di luar kamar.

“Mira?”

Tidak ada jawaban.

Ia bangkit.

Pintu kamar Mira terbuka.

Kosong.

Jendela belakang rumah terbuka.

Angin malam masuk seperti undangan bagi sesuatu yang tidak seharusnya ada.

“Mira!”

Raina berlari keluar tanpa jaket.

Tanah dingin menusuk telapak kakinya.

Senter di tangannya gemetar.

Dan di kejauhan—

Ia melihat sosok kecil berdiri membelakangi.

Rambut panjang tergerai.

Gaun putih berkibar.

“Mira!” teriaknya.

Sosok itu tidak bergerak.

Raina mendekat.

Langkahnya berat.

Entah karena tanah basah.

Atau karena firasat.

Ketika senter menyorot wajah anak itu—

Itu memang Mira.

Tapi tatapannya kosong.

Terlalu kosong.

Seolah ada orang lain yang sedang mengintip dari balik matanya.

“Mira… kamu ngapain di sini, Nak?”

Anak itu menunjuk ke arah rumah besar yang berdiri sendirian di ujung jalan.

Rumah keluarga Sutrisno.

“Dia tinggal di sana, Ma.”

“Siapa?”

“Mira cuma mau main. Tapi Laras bilang… mereka harus membayar dulu.”

Jantung Raina berhenti berdetak sepersekian detik.

“Laras?”

Mira tersenyum.

Bukan senyum anak kecil.

Lebih seperti seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang sudah lama dicari.

“Dia sudah bangun, Ma.”

Angin berhenti mendadak.

Sunyi.

Senter Raina berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Padam.

Dalam gelap total, Raina merasakan sesuatu berdiri tepat di belakangnya.

Napasnya terasa.

Dingin.

Lalu sebuah suara kecil berbisik di telinganya—

“Kakak… kali ini jangan tutup mata lagi.”

Raina menjerit.

Dan ketika lampu senter menyala kembali—

Mira pingsan di pelukannya.

Sendirian.

Tidak ada siapa-siapa.

Tapi dari kejauhan…

Di jendela rumah besar itu—

Seseorang sedang berdiri.

Mengamati mereka.

Dengan mata yang tidak pernah berkedip.


Sementara Itu…

Di kamar Aluna.

Gadis kecil itu terbangun.

Ia tidak merasa takut.

Hanya… haus.

Sangat haus.

Ia berjalan ke dapur.

Namun langkahnya berhenti.

Karena di ujung lorong…

Seorang gadis kecil berdiri.

Tubuhnya kurus.

Terlalu kurus.

Kulitnya seperti kayu kering yang retak.

Namun matanya hidup.

Penuh kebencian.

“Kamu Aluna?”

Aluna mengangguk pelan.

“Kamu rumahnya hangat ya.”

“Iya…”

Gadis itu mendekat.

“Dulu rumahku juga hangat.”

Senyumnya melebar.

Terlalu lebar.

“Sampai mereka mengeringkanku.”

Lampu lorong berkedip.

Aluna berkedip.

Dan sosok itu menghilang.

Tapi dari kamar kakeknya…

Terdengar suara batuk keras.

Seperti seseorang tersedak sesuatu yang sangat kering.


Di luar, angin kembali melolong.

Dan malam itu…

Bukan hanya satu rumah yang tidak bisa tidur.