Retakan di lengan Mira tidak hilang keesokan paginya.
Justru bertambah.
Garis tipis seperti urat kering menjalar dari pergelangan tangan ke siku. Tidak berdarah. Tidak luka terbuka. Tapi jelas bukan kulit normal.
Raina menyentuhnya pelan.
“Mira sakit?”
Gadis kecil itu menggeleng.
“Tidak, Ma. Cuma agak gatal… kayak tanah kering.”
Kalimat itu membuat tengkuk Raina meremang.
Kayak tanah kering.
Persis seperti yang dulu Laras katakan.
Di rumah keluarga Sutrisno, suasana jauh lebih kacau.
Semen penutup sumur benar-benar amblas pagi itu.
Bram berdiri mematung melihat lubang hitam yang kini terbuka kembali setelah dua puluh tahun.
Air tidak terlihat.
Hanya kegelapan.
Dan bau lembap bercampur sesuatu yang lama terkubur.
Sutrisno terduduk di kursi taman, wajahnya pucat.
“Dia membuka jalan,” gumamnya.
“Siapa?” Bram menoleh cepat.
Tapi lelaki tua itu tidak menjawab.
Karena dari dasar sumur terdengar suara samar.
Bukan gema biasa.
Suara gesekan kuku.
Dan satu kalimat yang berulang—
“Belum lunas… belum lunas…”
Raina tidak bisa lagi menyangkal.
Ia kembali menelepon Ki Arga.
Kali ini tidak diangkat.
Beberapa jam kemudian, ia menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal:
Jangan biarkan air habis sebelum perjanjian diselesaikan.
Jantungnya berdegup kencang.
Ia tahu tidak ada kebetulan dalam semua ini.
Dan ia tahu satu tempat yang harus ia datangi.
Rumah lama.
Desa tempat Laras meninggal.
Rumah itu masih berdiri.
Lebih tua.
Lebih sunyi.
Cat dindingnya mengelupas, halaman dipenuhi rumput liar.
Raina berdiri di depan pintu kayu yang dulu menjadi saksi malam paling kelam dalam hidupnya.
Tangannya gemetar saat mendorong pintu.
Berderit.
Bau lembap menyergap.
Ia melangkah masuk.
Lorong terasa sempit.
Dan kamar mandi itu—
Masih ada.
Keramik putihnya kusam.
Bak mandi besar di sudut ruangan masih utuh.
Raina mendekat.
Tangannya menyentuh bibir bak.
Dingin.
Ia menutup mata.
Dan kilas balik itu datang tanpa izin.
Malam itu, Laras terbaring lemah.
Tubuhnya kurus.
Napasnya pendek.
Ayah mereka, Wira, berdiri di samping bak mandi.
Di belakangnya, Ki Arga memegang mangkuk tanah liat berisi air keruh.
“Penyakitnya bisa dipindahkan,” suara Ki Arga waktu itu terdengar yakin.
“Tapi tubuhnya harus dikeringkan dulu agar roh penyakit keluar.”
Raina yang masih remaja berdiri di sudut ruangan.
Takut.
Bingung.
“Ayah… jangan…”
Tapi Wira sudah kehilangan akal sehatnya.
Ia percaya ini satu-satunya cara.
Laras dimasukkan ke dalam bak.
Air dituangkan perlahan ke tubuhnya.
Bukan untuk membasahi.
Tapi untuk dibacakan sesuatu.
Mantra yang terdengar seperti bahasa yang tidak pernah Raina pelajari.
Laras menggigil.
Kulitnya mulai pucat.
Lalu Ki Arga menorehkan sedikit darah Wira ke dalam air.
“Dengan ini, air menjadi saksi.
Nyawa ditukar dengan umur.
Penyakit dialihkan.”
Raina masih ingat bagaimana Laras menatapnya waktu itu.
Takut.
Memohon.
“Kakak…”
Air di bak mulai berkurang.
Padahal tidak ada yang membuangnya.
Seolah tubuh Laras menyerapnya.
Lalu sesuatu yang lebih aneh terjadi—
Air di bak berubah keruh.
Dan tubuh Laras mulai tampak lebih… kering.
Seperti spons yang diperas.
Raina berteriak menghentikan ritual.
Ia mendorong mangkuk Ki Arga.
Air tumpah.
Mantra terputus.
Dan malam itu, ritual tidak selesai.
Tapi Laras sudah terlalu jauh.
Tubuhnya berhenti bergerak.
Matanya terbuka.
Dan sejak saat itu—
Air tidak pernah lagi terasa biasa.
Raina tersentak kembali ke masa kini.
Tangannya masih menyentuh bak mandi kosong.
Tapi di dasar bak—
Terdapat genangan tipis air.
Padahal rumah itu sudah bertahun-tahun tidak dialiri air.
Genangan itu bergerak.
Bukan karena angin.
Tapi seperti berdenyut.
Dan di permukaan air—
Muncul pantulan wajah Laras.
“Kakak… kamu menghentikannya.”
Suara itu tidak bergema.
Ia terdengar jelas di ruangan itu.
“Aku tidak ingin kamu mati…” bisik Raina.
“Kalau selesai waktu itu… aku tidak akan terikat.”
Raina membeku.
Terikat?
“Ritualnya tidak lengkap.
Airnya belum dibayar.
Umurnya belum diganti.”
Tiba-tiba genangan air itu mengering dalam sekejap.
Menyisakan retakan di dasar bak.
Dan di retakan itu—
Keluar tetesan air dari bawah.
Seolah ada sumber lain di dalam tanah.
Raina teringat sesuatu.
Ki Arga pernah berkata:
“Air harus kembali ke tempat pertama perjanjian dibuat.”
Sumur.
Sumur keluarga Sutrisno.
Jantungnya serasa jatuh.
Karena ia baru sadar satu hal yang mengerikan—
Ayahnya tidak melakukan ritual itu sendirian.
Wira bekerja sama dengan Juragan Sasmita, sahabat lamanya.
Dan Juragan Sasmita…
Adalah ayah dari Sutrisno.
Artinya—
Keluarga Sutrisno bukan korban.
Mereka bagian dari perjanjian.
Di rumah Sutrisno, Aluna kembali duduk di depan sumur.
Tangannya hampir menyentuh air hitam yang mulai terlihat di dasar.
Bram menariknya.
Tapi gadis kecil itu berkata dengan suara datar—
“Kakek harus turun.”
Sutrisno membeku.
“Apa?”
“Dia bilang darah yang tanda tangan… harus bayar.”
Retakan di sekitar bibir sumur semakin lebar.
Dan dari dalam terdengar suara yang kini lebih jelas.
Bukan hanya satu.
Beberapa.
Suara anak-anak.
Haus.
Serak.
“Bayar…”
“Bayar…”
“Bayar…”
Sore itu, Raina berdiri di depan gerbang rumah Sutrisno.
Ia tidak lagi ragu.
Tidak lagi takut.
Ia tahu kebenarannya sekarang.
Ritual itu bukan hanya tentang Laras.
Itu tentang kesepakatan dua keluarga.
Kesepakatan yang dibayar dengan air dan nyawa.
Dan sekarang, air mulai habis.
Gerbang terbuka perlahan.
Sutrisno berdiri di sana.
Wajahnya menua dalam semalam.
“Kamu akhirnya ingat,” katanya pelan.
Raina menatapnya tajam.
“Ini belum selesai.”
Sutrisno mengangguk pelan.
“Tidak pernah selesai.”
Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar jeritan.
Aluna.
Dan suara benda pecah.
Raina dan Sutrisno berlari masuk.
Di ruang tengah—
Tangki air galon pecah sendiri.
Air mengalir ke lantai.
Tapi bukan merembes biasa.
Air itu bergerak.
Mengalir menuju arah lorong.
Menuju kamar mandi.
Seolah ada sesuatu di sana yang menariknya.
Dan ketika mereka sampai di depan pintu kamar mandi—
Pintu itu tertutup rapat dari dalam.
Dan terdengar suara Mira.
Padahal Mira tidak berada di rumah itu.
Suara itu berkata pelan—
“Airnya hampir cukup.”
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar