Pintu kamar mandi rumah Sutrisno akhirnya didobrak.
Di dalamnya kosong.
Tidak ada Mira.
Tidak ada siapa pun.
Hanya lantai yang basah oleh air galon yang mengalir sendiri tadi.
Air itu membentuk pola.
Lingkaran.
Persis seperti lingkaran mainan yang Mira susun di kamarnya dua hari lalu.
Raina gemetar.
“Dia sedang mengumpulkan air… untuk menyelesaikan sesuatu,” bisiknya.
Sutrisno terduduk di lantai.
“Ayahku… dulu bilang ritual itu harus ditutup dengan air dari dua garis darah.”
Raina menoleh tajam.
“Dua garis?”
“Darah keluarga kalian. Dan darah keluarga kami.”
Udara terasa semakin tipis.
“Kalau salah satu tidak lunas?” tanya Raina.
Sutrisno menatap sumur di halaman.
“Maka generasi berikutnya yang akan mengering.”
Malam itu, Mira tidak berkeringat sama sekali.
Biasanya ia mudah berkeringat saat tidur.
Tapi kini kulitnya benar-benar kering.
Terlalu kering.
Raina menempelkan punggung tangannya ke dahi Mira.
Tidak panas.
Tidak demam.
Tapi bibirnya pecah.
Di bawah cahaya lampu, retakan di lengannya tampak lebih jelas.
Seperti peta sungai yang telah lama kering.
Dan di tengah malam—
Mira duduk sendiri di tempat tidur.
Matanya terbuka.
Ia berbisik pelan:
“Airnya belum cukup.”
Raina yang terbangun langsung memeluknya.
Namun tubuh Mira terasa ringan.
Terlalu ringan.
Seperti kehilangan sesuatu yang tak terlihat.
Dan di kamar mandi, keran menetes sendiri.
Tetes.
Tetes.
Tetes.
Setiap tetes jatuh… menghilang sebelum menyentuh lantai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar