Tawa itu masih terngiang di kepala Raina bahkan setelah pagi benar-benar datang.

Ia berdiri di dapur, menatap gelas kosong di tangan Mira.

Putrinya meminum hampir tiga gelas air berturut-turut, tapi tetap berkata pelan—

“Aku masih haus, Ma…”

Raina berusaha tersenyum.

“Pelan-pelan minumnya.”

Namun ketika ia menyentuh pipi Mira, kulit itu terasa aneh.

Tidak lembap seperti biasa.

Ada sensasi kasar.

Seperti permukaan yang mulai kehilangan air.

Jantungnya kembali teringat pada satu malam, dua puluh tahun lalu.

Laras juga begitu.

Awalnya hanya mengeluh haus.

Lalu kulitnya mulai tampak kusam.

Bibir pecah.

Mata cekung.

Dan orang tuanya—

Raina menutup mata keras-keras.

Ia tidak boleh mengingat itu sekarang.

Tidak di depan Mira.


Di rumah keluarga Sutrisno, suasana jauh dari kata tenang.

Tangki air kembali kosong pagi itu.

Padahal semalam sudah diisi penuh.

Bram berdiri di halaman belakang, menatap sumur tua yang sudah lama tidak digunakan. Sumur itu hanya jadi hiasan, tertutup semen dan batu alam.

Sutrisno berjalan mendekat.

“Kamu masih ingat sumur itu?” suara lelaki tua itu terdengar berat.

Bram menelan ludah.

“Tentu saja.”

Sumur itu pernah menjadi pusat sesuatu yang tidak boleh disebut.

Sesuatu yang dulu mereka kubur—secara harfiah dan simbolis.

“Kita sudah menutupnya rapat,” gumam Bram.

Sutrisno tidak menjawab.

Karena pagi itu, di sela-sela celah semen penutup sumur, terlihat sesuatu yang membuat napasnya tercekat—

Permukaan semen itu lembap.

Basah.

Seolah ada air dari dalam yang mencoba keluar.

Padahal musim kemarau sudah berminggu-minggu.

Dan lebih mengerikan lagi—

Ada bekas tangan kecil.

Tercetak samar di atas semen yang mulai retak.


Sementara itu, Raina memutuskan menelepon seseorang yang selama ini ia hindari.

Nomor itu masih tersimpan.

Sudah lama tak dihubungi.

Ki Arga.

Pria tua yang dulu datang ke rumahnya membawa janji penyembuhan.

Pria yang menyarankan ritual.

Pria yang mengatakan bahwa tubuh bisa “dikeringkan” agar penyakit ikut hilang.

Telepon berdering lama.

Akhirnya diangkat.

“Halo.”

Suara di ujung sana lebih tua dari yang ia ingat.

“Ini Raina.”

Hening beberapa detik.

“Aku tahu suatu hari kamu akan menelepon,” jawab Ki Arga pelan.

Darah Raina terasa dingin.

“Dia kembali.”

“Bukan kembali,” suara itu terdengar seperti desah.

“Dia tidak pernah pergi.”

Raina menutup mata.

“Mira mulai melihatnya. Dia mulai haus.”

Di seberang sana terdengar suara napas panjang.

“Apakah air di rumahmu berkurang?”

Raina terdiam.

Ia belum mengecek.

Ia segera menuju kamar mandi.

Keran dibuka.

Air mengalir—tapi tekanannya kecil.

Tidak seperti biasanya.

Ia mencoba wastafel dapur.

Airnya lebih kecil lagi.

“Airnya… berkurang,” bisiknya.

Ki Arga berbicara dengan suara yang lebih serius.

“Ritual itu mengikat. Jika satu tubuh tidak cukup, ia akan mencari yang lain.”

Raina merinding.

“Tidak cukup?”

“Dulu ayahmu menghentikannya sebelum selesai.”

Jantung Raina berdetak lebih keras.

“Maksudmu?”

“Air tidak pernah benar-benar dibayar lunas.”

Telepon tiba-tiba terputus.

Raina berdiri membeku.

Ia perlahan menoleh ke arah kamar Mira.

Pintu kamar tertutup.

Tapi di bawah pintu—

Tampak genangan tipis merembes keluar.


Di rumah Sutrisno, Aluna duduk di depan sumur tua itu.

Tidak ada yang tahu ia keluar kamar.

Tangannya menyentuh retakan semen.

“Dingin…” gumamnya.

Dari dalam sumur terdengar suara samar.

Bukan gema biasa.

Lebih seperti suara kuku yang menggores dinding batu.

Sutrisno yang keluar mencari cucunya terhenti ketika melihat pemandangan itu.

“Aluna! Menjauh dari situ!”

Gadis kecil itu menoleh pelan.

Matanya tampak lebih dalam.

“Dia ada di bawah, Kek.”

“Siapa?”

“Yang haus.”

Retakan semen tiba-tiba berbunyi.

Krek…

Sutrisno menarik Aluna menjauh tepat ketika bagian tengah penutup sumur amblas sedikit.

Dari celah kecil itu—

Keluar uap tipis.

Bukan uap air biasa.

Baunya seperti tanah basah bercampur sesuatu yang membusuk.

Dan dari dalam terdengar bisikan:

“Dua belum cukup…”


Di rumah Raina, ia mendorong pintu kamar Mira.

Yang ia lihat membuat kakinya hampir tak sanggup berdiri.

Mira duduk di lantai.

Dikelilingi mainan yang ia susun membentuk lingkaran.

Di tengah lingkaran itu ada baskom kecil berisi air.

Dan Mira mencelupkan kedua tangannya ke dalamnya.

Air di baskom itu berkurang.

Bukan tumpah.

Bukan menguap.

Tapi seperti diserap.

Perlahan.

Seolah tangan kecil itu adalah spons kering.

“Mira… berhenti…”

Mira menoleh.

Senyumnya berbeda.

“Dia bilang kalau aku bantu… aku nggak akan jadi kering seperti dia.”

Raina langsung menarik tangan putrinya.

Air di baskom habis dalam hitungan detik.

Dasarnya retak.

Seperti tanah yang mengering.

Dan di belakang Mira—

Raina melihatnya.

Laras.

Berdiri.

Lebih jelas dari sebelumnya.

Tubuhnya kurus.

Kulitnya pecah.

Tapi matanya kini penuh kesadaran.

Dan kebencian.

“Kakak…” bisiknya.

Suara itu tidak lagi terdengar jauh.

Ia berada tepat di ruangan itu.

“Kali ini jangan berhenti setengah jalan.”

Lampu kamar tiba-tiba padam.

Dalam gelap, Raina hanya bisa mendengar suara retakan halus.

Seperti sesuatu yang mulai pecah.

Dan suara itu—

Bukan dari lantai.

Bukan dari dinding.

Tapi dari kulit Mira.

Raina menjerit.

Dan ketika lampu menyala kembali—

Laras menghilang.

Namun di lengan Mira terlihat garis retak tipis.

Seperti permukaan tanah yang kekurangan air.