Malam itu, setelah bisikan pertama terdengar dari kamar mandi, rumah keluarga Wiratama tak pernah benar-benar sunyi lagi.
Raina mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua hanya sugesti.
Ia berdiri di dapur, menatap segelas air putih yang baru saja dituangkannya untuk Mira. Tangannya masih sedikit gemetar. Air di dalam gelas itu bening. Tenang. Tidak ada yang aneh.
Tapi pikirannya terus kembali pada suara itu.
"Airnya kurang… masih kurang…"
Suara anak kecil. Serak. Seperti tenggorokan yang kering.
Raina menoleh ke arah lorong kamar. Lampu redup kekuningan membuat bayangan dinding tampak bergerak pelan. Ia tahu Mira sudah tidur. Ia sendiri yang menyelimuti putrinya beberapa menit lalu.
Dan kamar mandi sudah kosong.
Ia sudah memeriksanya.
Tidak ada siapa pun.
Tidak ada jejak kaki basah.
Tidak ada air menggenang.
Semua normal.
Terlalu normal.
Di kamar Mira, hawa terasa berbeda.
Gadis kecil itu tidak benar-benar tertidur.
Matanya terpejam, tapi napasnya tidak teratur.
Di sudut kamar, dekat lemari pakaian, berdiri sesosok anak perempuan kurus dengan rambut panjang menutupi sebagian wajahnya. Gaun putihnya kusam, seperti pernah basah lalu dibiarkan kering tanpa pernah dicuci.
Kulitnya tampak pecah-pecah.
Retak halus seperti tanah yang lama tidak tersentuh hujan.
“Airnya kurang,” bisiknya lagi.
Mira perlahan membuka mata.
Ia tidak menjerit.
Ia tidak takut.
Karena baginya, sosok itu bukan ancaman.
Itu temannya.
“Kamu haus lagi?” tanya Mira pelan.
Sosok itu mengangguk. Gerakannya kaku.
“Kata Mama jangan main air malam-malam…”
Anak itu menunduk.
Dari sela rambutnya, terlihat mata cekung yang kosong.
“Dulu juga begitu… mereka bilang jangan… tapi mereka yang melakukannya…”
Mira duduk perlahan di tempat tidur.
“Aku bisa ambilkan minum.”
Sosok itu tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya, Mira melihat sesuatu yang membuat jantung kecilnya berdetak lebih cepat—
Bibir gadis itu pecah dan mengelupas.
Darah kering menempel seperti kerak.
“Bukan air gelas…” bisiknya.
“Aku butuh lebih.”
Di kamar utama, Raina tidak bisa tidur.
Ia duduk bersandar pada kepala tempat tidur, menatap layar ponselnya tanpa benar-benar membaca apa pun.
Ia sudah melewati banyak hal dalam hidupnya.
Ia bukan perempuan yang mudah panik.
Tapi ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan malam ini.
Perasaan… diawasi.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil di lorong.
Raina langsung berdiri.
Pintu kamar terbuka perlahan.
“Mira?”
Tidak ada jawaban.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar mandi.
Lalu terdengar suara keran diputar.
Air mengalir.
Raina menahan napas.
Perlahan ia keluar kamar.
Lorong kosong.
Lampu menyala.
Tapi suara air jelas terdengar dari dalam kamar mandi.
Ia melangkah mendekat.
Pintu sedikit terbuka.
Air wastafel mengalir deras.
Dan Mira berdiri di depan cermin.
Membasahi kedua tangannya.
“Mira! Kamu ngapain?” suara Raina terdengar lebih keras dari yang ia maksudkan.
Mira menoleh pelan.
Wajahnya pucat.
“Ada yang haus, Ma…”
Jantung Raina terasa seperti diremas.
“Siapa?”
Mira menunjuk ke arah cermin.
Raina otomatis melihat ke pantulan kaca itu.
Hanya ada dirinya dan Mira.
Tidak ada siapa pun.
Tapi saat ia berkedip—
Sekilas.
Sangat cepat.
Ada bayangan lain berdiri tepat di belakang Mira.
Rambut panjang.
Gaun putih.
Kulit retak.
Raina terperanjat dan memeluk Mira erat.
Air dari keran tiba-tiba mati sendiri.
Sunyi.
Hanya suara napas mereka yang terdengar.
“Besok kita ke dokter,” bisik Raina pada dirinya sendiri.
Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu—
Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dokter.
Di tempat lain, di rumah besar keluarga Sutrisno, hal serupa juga terjadi.
Aluna terbangun dengan tenggorokan kering.
Ia bangun untuk minum.
Saat membuka pintu kamar, ia melihat air mengalir dari bawah pintu kamar mandi di ujung lorong.
Pelan.
Seperti seseorang membiarkan keran menyala terlalu lama.
“Papa?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah mendekat.
Lantai terasa dingin.
Terlalu dingin.
Saat ia hampir sampai, suara bisikan terdengar.
“Satu belum cukup…”
Aluna membeku.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit.
Di dalamnya, berdiri seorang anak perempuan kurus.
Membungkuk di depan bathtub kosong.
Tangannya menggaruk dasar bak.
Seolah mencari sesuatu.
Aluna menjerit.
Lampu lorong berkedip.
Dan dalam sekejap, sosok itu menghilang.
Air berhenti mengalir.
Keesokan paginya, dua keluarga berbeda bangun dengan perasaan yang sama—
Ada sesuatu yang salah.
Mira bangun dengan bibir pecah-pecah.
Raina mengira itu karena AC.
Tapi saat menyentuh dahi putrinya—
Kulitnya terasa kering.
Tidak seperti biasanya.
Sementara itu, di rumah Sutrisno, Aluna muntah-muntah setelah bangun tidur.
Dokter keluarga datang dan mengatakan hal aneh:
“Tubuhnya kekurangan cairan cukup parah. Padahal semalam katanya tidak diare atau demam?”
Orang tua Aluna saling pandang.
Air minum di rumah itu tidak pernah kurang.
Tapi anehnya—
Tangki air di atap rumah mendadak kosong.
Padahal baru diisi kemarin.
Teknisi dipanggil.
Ia memeriksa seluruh pipa.
Tidak ada kebocoran.
Tidak ada kerusakan.
“Airnya seperti… hilang sendiri,” gumamnya bingung.
Di rumah Raina, siang itu ia memutuskan untuk memeriksa ulang kamar mandi.
Ia mematikan semua keran.
Mengeringkan lantai.
Menutup pintu.
Dan duduk menunggu.
Sepuluh menit.
Tidak ada apa-apa.
Lima belas menit.
Sunyi.
Dua puluh menit—
Tetes.
Raina menoleh.
Dari dalam kamar mandi terdengar suara tetesan air.
Tetes.
Tetes.
Tetes.
Padahal ia sudah memastikan semua tertutup rapat.
Ia berdiri.
Mendekat.
Tangannya meraih gagang pintu.
Dan sebelum ia membukanya—
Terdengar suara kecil dari dalam.
Bukan suara air.
Suara napas.
Kering.
Serak.
Dan kalimat yang membuat darahnya membeku:
“Mama… mereka juga bilang tidak apa-apa dulu…”
Raina membeku.
Itu bukan suara Mira.
Itu suara anak lain.
Dan suara itu… terdengar seperti berasal dari dalam pipa.
Perlahan, di bagian bawah pintu kamar mandi, muncul garis tipis air yang merembes keluar.
Tapi air itu tidak jernih.
Warnanya sedikit keruh.
Seperti bercampur sesuatu.
Raina mundur selangkah.
Jantungnya berdetak keras.
Dan di dalam kamar Mira—
Terdengar suara tawa kecil.
Bukan satu.
Dua.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar