Pernikahan kami sempurna di mata semua orang.

Sayangnya, aku bukan semua orang.

---

Pukul enam pagi, alarm berbunyi. Aku sudah tidak tidur sejak pukul empat.

Bukan karena insomnia. Bukan karena mimpi buruk. Hanya karena di tengah malam, ketika sisi kanan ranjang sudah terasa terlalu familiar dengan kedinginannya, pikiranku tidak bisa berhenti bertanya — kapan terakhir kali aku tertidur dengan rasa tenang?

Aku tidak ingat.

Aku bangun, ke kamar mandi, cuci muka. Wajahku di cermin terlihat baik-baik saja. Lima tahun pernikahan memang mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah cara tersenyum yang meyakinkan, bahkan ketika tidak ada yang minta.

Di dapur, aku mulai bergerak autopilot.

Empat lembar roti tawar. Dua butir telur. Susu UHT full cream — Arkan tidak suka yang rendah lemak, katanya rasanya seperti air cucian. Kopi hitam tanpa gula, seduh manual, bukan kapsul. Ia tidak pernah bilang terima kasih untuk detail-detail ini. Tapi aku juga tidak pernah berhenti melakukannya.

Entah itu kesetiaan atau kebiasaan, sudah lama aku tidak bisa membedakannya.

"Kamu sudah bangun?"

Suara Arkan dari arah tangga membuat aku refleks tersenyum. Ia sudah rapi. Kemeja biru dongker, dasi abu-abu, jam tangan yang aku hadiahkan di ulang tahun pernikahan ketiga kami masih melingkar di pergelangan kirinya. Itu salah satu hal yang selalu membuatku lega — ia masih memakainya.

"Sarapannya sebentar lagi." Aku balik ke wajan. "Duduk dulu."

Ia tidak duduk. Ia berdiri di depan kulkas, membuka pintu, menutupnya lagi. Mengecek ponsel. Menaruh ponsel di atas meja. Mengambilnya lagi.

"Ada meeting pagi ini?" tanyaku.

"Iya."

"Jam berapa?"

"Delapan."

Percakapan kami memang selalu seperti ini sekarang. Pendek. Efisien. Tidak menyentuh apa pun yang sebenarnya ingin kami tanyakan.

Aku letakkan piring di depannya. Telur dadar lipat dengan keju — favoritnya sejak dulu. Ia menatapnya sebentar, lalu memotong kecil-kecil tanpa komentar.

Aku duduk di seberangnya dengan segelas air putih. Tidak lapar.

"Arkan," aku mulai.

"Hm."

"Hari ini tanggal berapa?"

Ia berhenti mengunyah. Dua detik. Tiga. Lalu ia melirik layar ponselnya.

"Dua belas," jawabnya.

Aku menunggu.

Tidak ada lanjutannya.

Aku mengangguk pelan. "Oke."

Lima tahun yang lalu, tanggal dua belas April adalah hari ia memasang cincin di jariku sambil bisik-bisik di telingaku bahwa ia tidak akan pernah membiarkanku merasa sendirian. Saat ini kami duduk di meja yang sama, jarak tidak lebih dari satu meter, dan aku belum pernah merasa sesepi ini.

Ia selesai sarapan, minta tolong ambilkan jaket dari gantungan, mencium keningku dengan bibir yang tidak benar-benar menyentuh kulit — lebih seperti kebiasaan motorik daripada tanda kasih sayang.

"Jangan tunggu aku makan malam," katanya dari depan pintu. "Mungkin pulang telat lagi."

*Lagi.*

Kata itu menggantung di udara setelah pintu ditutup.

Aku berdiri di dapur yang tiba-tiba terasa terlalu luas untuk satu orang. Piring kotornya masih di meja. Setengah kopinya tidak habis. Dan di pojok meja makan, ada sebuah ponselnya yang tertinggal.

Aku baru mau mengambilnya — mau aku taruh di charging dock, kebiasaan lama — ketika layarnya menyala karena notifikasi masuk.

Aku tidak berniat membacanya.

Sungguh.

Tapi nama itu sudah tertangkap mataku sebelum aku bisa berpaling.

*D.*

Hanya satu huruf. Dan dua kata pertama dari pesan yang belum selesai tampil sebelum layar kembali gelap:

*Jangan lupa—*

---

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.

Ponsel itu tidak kusentuh. Aku hanya menatapnya dari jarak aman, seperti menatap sesuatu yang bisa meledak kalau aku terlalu dekat.

*Siapa D?*

Pikiranku langsung menyusun daftar. Rekan kerja. Klien. Teman lama. Orang yang namanya kebetulan berinisial D. Ada ratusan kemungkinan. Ribuan.

Tapi kenapa tersimpan hanya satu huruf?

Aku menutup mata. Menarik napas panjang. Mengingatkan diriku bahwa aku tidak boleh langsung melompat ke kesimpulan yang paling menakutkan.

Belum.

Kuambil ponsel itu, kutaruh di charging dock tanpa membukanya, lalu kucuci piring bekas sarapan Arkan sambil membiarkan air keran mengalir lebih keras dari yang seharusnya.

---

Sisa pagiku berlalu seperti biasa.

Menyapu. Mengepel. Melipat cucian yang sudah kering sejak kemarin. Menyiram tanaman di teras — lidah buaya, monstera kecil, dan satu pot lavender yang sudah agak layu meski aku selalu menyiramnya tepat waktu.

Kadang aku berpikir aku dan lavender itu punya nasib yang mirip.

Dirawat dengan cara yang benar. Tapi tetap layu juga.

Pukul sepuluh lewat, telepon rumah berdering.

Aku sudah tahu siapa sebelum mengangkat.

Ada getaran khusus yang selalu muncul di perutku kalau itu Ibu Wulandari. Bukan rasa takut. Lebih seperti... kesiapan. Memasang tameng dengan cara yang tidak terlihat seperti tameng.

"Raisa, sayang."

Suaranya selalu terdengar hangat. Seperti teh jahe di musim hujan — menyenangkan, tapi kalau terlalu banyak, tenggorokan bisa perih.

"Ibu." Aku duduk di sofa, kaki rapat, punggung tegak. "Sehat, Bu?"

"Alhamdulillah, Ibu sehat. Kamu? Sudah makan? Jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek mengurus rumah."

"Baik, Bu."

"Arkan sudah berangkat?"

"Sudah, tadi pagi."

"Bagus, bagus." Jeda sebentar. Aku sudah hafal ritme ini — ia sedang menyiapkan kalimat selanjutnya dengan sangat hati-hati. "Oh iya, Raisa... Ibu mau nanya sesuatu ya, tapi jangan salah paham."

*Sudah pasti aku salah paham, Bu. Karena kalimat yang dibuka dengan 'jangan salah paham' hampir selalu memang patut disalah-artikan.*

"Iya, Bu. Tanya saja."

"Kamu... sehat kan? Maksud Ibu, sehat yang... menyeluruh?"

Aku tahu ke mana ini pergi.

"Sehat, Bu. Alhamdulillah."

"Syukurlah." Suaranya sedikit merendah, hangat berlebihan. "Ibu cuma... ya, keluarga besar sudah menunggu kabar baik, Raisa. Arkan anak pertama Ibu. Sudah lima tahun, dan Ibu tahu kamu perempuan yang baik, Ibu tidak meragukan itu—"

"Ibu," aku memotong lembut. "Kami masih berusaha."

Keheningan di ujung telepon terasa lebih panjang dari yang nyaman.

"Ibu mengerti, sayang. Ibu hanya ingin mengingatkan — mungkin perlu periksa lagi? Ke dokter yang lebih... spesialis? Ibu kenal dokter kandungan yang bagus di RS Bunda, sudah banyak membantu keluarga Ibu. Biar Ibu yang atur janji—"

"Terima kasih, Bu." Kali ini suaraku lebih tegas, walau aku jaga agar tetap sopan. "Nanti aku diskusikan dulu dengan Arkan."

Ibu Wulandari tertawa kecil. Tawa yang selalu membuatku tidak yakin apakah ia tulus atau sedang mencatat sesuatu.

"Iya, iya. Diskusikan. Yang penting komunikasi antara suami istri, ya. Keluarga yang harmonis itu dimulai dari komunikasi." Jeda lagi. "Arkan baik-baik saja kan, Raisa? Maksud Ibu, kalian baik-baik saja?"

Aku menatap dinding di depanku. Ada foto pernikahan kami tergantung di sana — aku dan Arkan dalam balutan putih dan jas hitam, senyum sempurna, mata yang saat itu masih bisa saling menemukan.

"Baik-baik saja, Bu," jawabku.

Tiga kata yang paling banyak kebohongannya.

---

Malam itu, aku masak lebih awal.

Rendang, karena butuh waktu lama dan aku butuh sesuatu untuk menyibukkan tangan dan pikiran. Tumis kangkung. Tempe goreng tepung. Dan sup jagung yang dulu selalu habis duluan setiap kali aku masak untuk Arkan.

Pukul tujuh, meja sudah tersaji.

Pukul delapan, masakan mulai dingin.

Pukul sembilan, aku makan sendirian.

Bukan karena tidak terbiasa. Tapi malam ini berbeda. Malam ini tanggal dua belas April. Dan ada lilin kecil yang sudah aku nyalakan di tengah meja — bukan yang mahal, hanya lilin aromaterapi lavender yang aku beli di minimarket bulan lalu.

Setidaknya lavender ini tidak layu.

Ketika Arkan akhirnya masuk pintu pukul sepuluh kurang lima, aku sudah membereskan meja. Makanannya sudah kutiriskan ke wadah dan kumasukkan kulkas.

"Kamu belum tidur?" Ia melepas sepatu di depan pintu.

"Baru mau." Aku berdiri dari sofa. "Makanannya di kulkas, tinggal panas."

Ia mengangguk. Menatapku sebentar dengan ekspresi yang sulit kubaca — bukan dingin, tapi juga tidak hangat. Sesuatu di antaranya. Abu-abu.

"Hari ini sibuk?" tanyaku.

"Iya. Meeting sampai malam." Ia berjalan ke dapur.

Aku ikuti dari belakang, tanpa suara.

Ketika ia membuka kulkas, aku melihat punggungnya yang sedikit membungkuk. Kemejanya sedikit lusuh di bagian belakang. Rambutnya tidak serapi pagi tadi.

"Arkan."

"Hm." Ia mengeluarkan wadah rendang.

"Kamu..." Aku berhenti. Menelan kalimat yang sudah siap keluar. *Kamu ingat hari ini hari apa?*

Aku tidak jadi bertanya.

Karena tiba-tiba, dari saku kemejanya, ponsel Arkan bergetar.

Ia langsung meraihnya. Cepat. Refleks yang terlalu cepat.

Dan aku melihat, dari sudut mataku, bagaimana ia sedikit membalikkan punggung agar layarnya tidak menghadapku.

Beberapa detik ia diam, memandangi layarnya. Lalu ia mengetikkan sesuatu dengan ibu jari yang bergerak pelan tapi pasti.

"Ada urusan kantor?" tanyaku pelan.

"Iya." Ia memasukkan ponsel kembali ke saku. "Kamu tidur duluan saja."

Aku mengangguk.

Aku kembali ke kamar. Berbaring. Menatap langit-langit yang gelap.

Dan di kepalaku, dua kata itu terus berputar seperti kaset rusak yang tidak bisa berhenti:

*Jangan lupa—*

Jangan lupa apa, Arkan?