Lampu kristal raksasa di ballroom hotel itu seolah mengejek Naira. Di tengah ratusan tamu elit yang asyik berdansa, ia berdiri gemetar berbalut gaun bekas yang jahitannya mulai lepas. Tangannya yang dingin digenggam erat oleh Baskara. Tangan suaminya itu kasar dan penuh kapalan, sangat kontras dengan kemewahan ruangan ini.

"Papa, Naira mohon," suara Naira bergetar memecah keangkuhan pria paruh baya di hadapannya. "Hanya lima puluh juta. Ibu harus masuk ruang operasi malam ini juga. Kalau tidak..."

"Tutup mulutmu!" desis Herman Kusuma, matanya melotot jijik seolah melihat hama. "Berani kamu mengemis di perayaan ulang tahun perusahaanku? Membawa gembel mantan napi ini ke hadapan rekan-rekan bisnisku?!"

Naira menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca. Harga dirinya sudah mati, terkubur demi nyawa sang ibu. "Ini pinjaman, Pa. Naira janji akan kerja siang malam untuk melunasinya—"

PRANG!

Sebuah piring berisi sisa tulang iga dilempar kasar, tepat mendarat di ujung kaki Naira. Saus merahnya memercik, menodai gaun pudar yang ia kenakan.

"Ups, tanganku licin," tawa melengking itu mengiris telinga Naira. Siska, saudari tirinya, melipat tangan di depan dada dengan angkuh. "Kalau mau sisa makanan bilang dong, Mbak. Oh, atau suamimu yang mekanik miskin itu kelaparan sampai kalian harus mengemis ke sini?"

Dada Naira sesak. Matanya memanas menahan air mata yang mendesak turun. Ia nyaris berlutut untuk memungut tulang itu jika saja sebuah tangan besar tak segera menahan bahunya.

Baskara melangkah maju. Tidak ada amarah yang meledak di wajah pria itu, hanya sorot mata setajam belati yang membuat Siska refleks mundur selangkah. Baskara perlahan berjongkok, mengeluarkan sapu tangan lusuhnya, lalu mengelap noda saus di sepatu Naira dengan sangat lembut.

"Jangan pernah menunduk untuk memungut sampah, Nai," ucap Baskara datar, suaranya berat dan tak terbantahkan.

Wajah Herman seketika memerah padam. "Kurang ajar! Berani kamu menghina putriku di acaraku sendiri?! Security! Seret sepasang anjing ini keluar sekarang juga!"

Dua penjaga keamanan bertubuh besar langsung mencengkeram lengan Baskara dan Naira, menarik mereka dengan kasar menuju pintu keluar. Tawa sinis Siska dan tatapan merendahkan sang ayah mengiringi setiap langkah Naira yang diseret paksa. Harapannya hancur lebur malam ini.

Angin malam menusuk tulang saat tubuh mereka didorong kasar ke trotoar aspal yang basah. Naira jatuh terduduk, pertahanannya runtuh. Air matanya jebol dan ia menangis histeris, memukul dadanya yang kelewat sesak.

"Maafkan aku... maafkan aku, Ibu..." isaknya putus asa di tengah rintik hujan.

Baskara segera merengkuh tubuh bergetar itu ke dalam pelukan hangatnya. "Kita cari jalan lain. Aku yang akan cari uangnya malam ini juga."

Tiba-tiba, dering nyaring dari ponsel layar retak milik Naira memotong rintik hujan. Panggilan dari Rumah Sakit Medika. Naira mengangkatnya dengan tangan gemetar hebat.

"Halo... Dokter?"

Hening sejenak. Mata Naira seketika mendelik lebar, wajahnya pias seputih kapas. Ponsel itu terlepas dari genggamannya, menghantam aspal keras bersamaan dengan bisikan lirihnya yang nyaris tak bersuara.

"Jantung ibu... berhenti."

Koridor ruang ICU yang berbau karbol itu terasa mencekik. Naira berlari terhuyung-huyung, gaunnya yang basah kuyup meneteskan sisa air hujan di lantai rumah sakit. Baskara mengikutinya dari belakang, rahangnya mengeras menahan amarah yang belum padam.

"Dokter!" jerit Naira saat melihat pria berjas putih keluar dari ruang rawat ibunya. "Bagaimana ibu saya?!"

Dokter itu menghela napas berat, menatap Naira dengan iba campur ragu. "Kami berhasil mengembalikan detak jantungnya lewat defibrilator. Tapi katup jantungnya robek, Nyonya. Dia butuh operasi bypass malam ini juga, atau nyawanya tidak akan lewat dari jam dua belas."

Lutut Naira lemas seketika. Ia nyaris ambruk jika lengan kokoh Baskara tidak segera menahan pinggangnya.

"Lakukan operasinya sekarang, Dok!" perintah Baskara, suaranya rendah namun bergetar oleh ketegasan mutlak.

"Tidak bisa, Pak," sanggah perawat administrasi yang berdiri di belakang dokter. "Biaya operasi dan ruang ICU VVIP totalnya lima ratus juta. Rumah sakit punya prosedur. Harus ada deposit minimal tiga ratus juta sebelum dokter ahli bisa menyentuh pasien."

"Tiga ratus juta..." Naira menggigit bibirnya sampai berdarah. Uang dari mana? Papanya baru saja mengusirnya seperti anjing kurap.

"Aku akan cari uangnya. Beri aku waktu setengah jam," ucap Baskara. Ia menatap mata Naira lekat-lekat, menyalurkan kehangatan. "Percaya padaku, Nai."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan berlari menyusuri lorong menuju pintu darurat.

Naira terisak, menyandarkan kepalanya ke dinding dingin. Saat itulah, derap langkah pantofel mahal terdengar menggema mendekatinya.

"Kasihan sekali. Nyonya secantik ini harus menangis di lorong rumah sakit kumuh," sebuah suara serak dan berat menyapa.

Naira mendongak. Di depannya berdiri Darmawan, taipan properti berusia enam puluhan yang terkenal kejam dan hidung belang. Di belakangnya, dua pengawal berjas hitam berdiri siaga.

"T-Tuan Darmawan? Bagaimana Anda bisa ada di sini?" suara Naira bergetar.

Pria tua itu tersenyum menjijikkan, mengeluarkan selembar cek dari balik jas mahalnya. "Ayahmu yang memberitahuku. Dia bilang, putrinya sedang sangat butuh uang."

Darmawan mengulurkan cek senilai lima ratus juta itu tepat ke hadapan wajah Naira. "Ini cukup untuk menyelamatkan ibumu. Tapi, tentu saja, tidak ada yang gratis di dunia ini, Naira."

"A-apa yang Anda inginkan?"

Senyum Darmawan melebar, matanya menelanjangi Naira tanpa sungkan. "Tanda tangani surat cerai dengan mekanik gembel itu besok pagi. Dan malam ini... jadilah milikku. Ibumu selamat, dan kamu hidup enak."

Darah Naira mendidih, tapi pandangannya beralih ke kaca pintu ICU tempat ibunya terbaring sekarat terpasang alat bantu napas.

"Pikirkan baik-baik," bisik Darmawan, menyodorkan sebuah pena emas beserta surat perjanjian. "Satu jam lagi, ibumu jadi mayat."

Tangan Naira gemetar hebat saat perlahan terangkat meraih pena itu.