Pagi turun dengan lambat. Kabut tipis masih menggantung di udara saat Raya membuka pintu depan untuk membuang kantong sampah. Udara terasa lembap, meninggalkan jejak basah di ujung sandal jepitnya.
Di ujung blok, dekat pertigaan jalan, Raya melihat seorang pria tua berseragam biru pudar sedang duduk di atas pos jaga kecil. Cat pos itu sudah kusam, warnanya nyaris menyatu dengan warna abu-abu langit pagi.
Raya melangkah mendekat setelah membuang sampah ke bak besar di sudut jalan. Sebagai penghuni baru, ia merasa wajib untuk melaporkan diri, atau setidaknya beramah-tamah.
"Permisi, Pak," sapa Raya sopan.
Pria tua itu menoleh lambat-lambat. Wajahnya dipenuhi kerutan dalam yang membuat ekspresinya sulit dibaca. Matanya yang keruh menatap Raya dari atas ke bawah. Sebuah papan nama berbahan plastik yang sudah retak tersemat di dada kirinya: Darmo.
"Ya, Neng?" Suara Pak Darmo serak, terdengar seperti gesekan amplas pada kayu basah.
"Saya Raya, Pak. Penghuni baru di Blok D. Baru pindah kemarin sore bersama adik saya." Raya tersenyum, mencoba mencairkan suasana.
Pak Darmo tidak membalas senyuman itu. Ia meraih segelas kopi hitam di atas meja kayunya yang sudah terkelupas, menyesapnya perlahan. "Blok D?" tanyanya, nada suaranya mendadak berubah sedikit lebih rendah.
"Iya, Pak. Blok D nomor 14. Ujung jalan sana." Raya menunjuk ke arah gang rumahnya.
Tangan Pak Darmo yang memegang gelas berhenti di udara. Mata keruhnya menatap jari Raya yang menunjuk, lalu perlahan pandangannya beralih ke deretan rumah di ujung jalan. Ada jeda yang terlalu panjang. Pak Darmo seperti menelan ludah dengan susah payah, jakunnya yang menonjol bergerak naik turun.
Pria tua itu membuka mulutnya, matanya menyipit seolah ada kata-kata peringatan yang mendesak untuk keluar dari tenggorokannya. Ia menatap Raya lagi, bibirnya bergetar samar. Namun, beberapa detik kemudian, bahunya merosot. Ia meletakkan gelas kopinya kembali.
"Oh. Nomor 14," gumam Pak Darmo pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Ya, ya. Kalau ada perlu apa-apa, lapor saja ke sini. Pos ini dijaga 24 jam."
Raya mengerjap. "Baik, Pak. Terima kasih." Ia merasa ada sesuatu yang ganjil dari reaksi satpam itu, tetapi keengganannya untuk bertanya lebih jauh membuat Raya memilih untuk membalikkan badan dan berjalan pulang.
Matahari mulai naik, tetapi tidak cukup kuat untuk mengusir rasa dingin yang menempel di kompleks itu. Seharian itu, Raya menyibukkan diri membersihkan sisa-sisa debu di dapur dan kamar mandi. Dimas pergi ke kampus sejak siang untuk mengurus administrasi kepindahannya, meninggalkan Raya sendirian.
Setiap kali Raya melewati dinding yang berbatasan dengan rumah sebelah, ia selalu tanpa sadar memperlambat langkahnya. Tapi tidak ada suara apa pun siang itu. Tidak ada televisi, tidak ada suara orang beraktivitas. Sepi yang benar-benar mati.
Malam harinya, Dimas baru pulang sekitar pukul sembilan. Anak itu langsung masuk ke kamar dan tertidur tanpa makan malam. Raya masih duduk di depan laptop di ruang tamu, merekap beberapa data pekerjaannya sebagai pekerja lepas.
Udara malam terasa lebih pengap dari sebelumnya. Raya meregangkan otot lehernya yang kaku. Jam di sudut layar laptop menunjukkan pukul 23.45. Ia mematikan laptop, berniat menyusul Dimas ke alam mimpi. Sebelum masuk ke kamar, Raya berjalan ke arah jendela depan untuk memastikan pagar sudah digembok.
Ia menyibak sedikit tirai ruang tamunya. Matanya langsung tertuju pada rumah sebelah.
Lampu teras Blok D nomor 15 masih mati. Namun, melalui celah sempit antara tirai tebal di jendela rumah itu, seberkas cahaya tumpah ke luar. Cahaya itu berwarna putih terang, sangat kontras dengan kegelapan di sekelilingnya.
Raya terdiam. Jadi, memang ada orang di dalam sana. Mungkin tetangganya itu orang yang sangat tertutup atau memiliki jam kerja malam. Raya terus mengawasi cahaya yang menembus celah jendela itu. Tidak ada bayangan yang bergerak di baliknya. Hanya pendar statis yang menyilaukan.
Rasa penasaran membuat Raya menempelkan wajahnya lebih dekat ke kaca jendelanya sendiri, mencoba melihat lebih jelas ke arah rumah sebelah. Ia memperhatikan intensitas cahaya itu.
Lalu, sesuatu yang membuat bulu kuduk Raya berdiri terjadi.
Cahaya di rumah sebelah itu tidak mati secara tiba-tiba seperti saklar yang ditekan. Cahaya itu memudar perlahan-lahan. Meredup secara bertahap dalam hitungan detik yang terasa sangat panjang, seolah-olah seseorang di dalam sana sedang memutar tombol dimmer dengan gerakan yang sangat pelan dan terukur, tepat saat wajah Raya mendekat ke arah kaca—menyadari bahwa mereka sedang diawasi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar